Mohon tunggu...
Amirsyah Oke
Amirsyah Oke Mohon Tunggu... Administrasi - Hobi Nulis

Pemerhati Keuangan negara. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Media

Mempertegas Aturan Lisensi Kompasiana

28 Mei 2013   16:46 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:53 191 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video.”

Paragraph diatas dapat kita baca pada link About Kompasiana.

Kompasiana yang terafiliasi dengan Kompas bagai magnet para penulis di seluruh Indonesia bahkan dari luar Indonesia untuk bergabung. Kita dapat menikmati artikel dari para penulis terkenal hingga yang baru belajar, dari berbagai pemikiran dan latar belakang. Dalam Kompasiana juga dibebaskan untuk berkomentar sehingga interaksi semakin dinamis dan berwarna. Semua pihak mendapat tempat di Kompasiana asal tidak melanggar Terms & Conditions, bila melanggar Admin tidak akan segan menghapus artikel, komentar bahkan mencabut/membatalkan keanggotaan kompasioner.

Sebagai kompasioner yang baru bergabung sejak 2 Mei 2013, sangat banyak pelajaran yang saya peroleh dari Kompasiana, baik pelajaran baik maupun pelajaran buruk, semua dapat diambil hikmahnya. Salah satu pelajaran yang menurut saya buruk adalah perilaku copas artikel dari kompasiana ke website lain yang berafiliasi ke partai atau sebaliknya. Hal ini didasari oleh pemahaman saya terhadap angka 6 dan 7 dari Lisensi Penggunaan pada Ketentuan Layanan yang tercantum dalam halaman Terms & Conditions.

6.Setiap orang atau pihak diperkenankan menggunakan, menempatkan, mengunduh, menautkan dan atau melekatkan Konten hanya untuk keperluan pribadi, bukan tujuan komersil, dengan mencantumkan sumbernya seperti tercantum pada alamat URL Konten.

7.Setiap orang atau pihak yang ingin menggunakan, menempatkan, mengunduh, menautkan dan atau melekatkan baik sebagian atau seluruhnya dari Konten yang ada di Kompasiana, yang ditujukan untuk kepentingan atau keperluan komersil, wajib mendapatkan izin dari Admin Kompasiana.

Pemahaman saya terhadap angka 6 terkait hanya untuk keperluan pribadi adalah setiap orang boleh mengambil artikel di kompasiana untuk keperluan pribadi/diri sendiri. Pribadi berarti milik privat, personal bukan milik bersama, organisasi apalagi partai politik. Jadi bila saya punya website yang dikelola sendiri, maka bisa memuat artikel dari kompasiana dengan mencantumkan sumber linknya (link yang hidup). Website non pribadi seperti website organisasi dan partai politik tidak boleh mengcopas artikel di Kompasiana.

Bukan tujuan komersil yang saya pahami adalah artikel dari Kompasiana walaupun dimuat ulang di situs pribadi tidak boleh ditumpangi semacam iklan (misalnya disisipi iklan/ads dalam artikelnya) dan tidak boleh dimuat dalam website yang ditujukan untuk mendukung/mengiklankan bisnis dan atau partai politik (propaganda parpol). Jadi artikel kompasiana yang saya muat di web pribadi tidak boleh disisipi iklan (semacam ads script) dan website saya sendiri bukan website komersial (untuk mengakses harus bayar) serta tidak berafiliasi dan mengiklankan propaganda partai politik.

Terkait angka 7, kepentingan atau keperluan komersil, saya pahami yaitu bila artikel dalam kompasiana akan dimuat untuk keperluan bukan pribadi sebagaimana pemahaman dalam angka 6 (dimuat di web pribadi disisipi iklan (semacam ads script) dan website pribadi komersial (untuk mengakses harus bayar) serta mengiklankan propaganda partai politik), maka wajib mendapatkan izin dari Admin Kompasiana. Walaupun penulis artikel di kompasiana setuju, senang, tidak keberatan artikelnya dicopas di website lain yang bukan website pribadi (website organisasi, parpol, bisnis), tetap wajib mendapatkan izin dari Admin Kompasiana.

Lazimnya orang Indonesia yang lagi ngetrend melintir-melintir pasal, ayat, kalimat dan kata-kata dalam peraturan-peraturan untuk keuntungan pribadi/golongan/parpol, penafsiran bisa disesuaikan dengan selera dan udelnya masing-masing walaupun bertentangan dengan etika dan moral. Undang-Undang Negara, Peraturan Pemerintah bahkan ayat-ayat agama bisa dipelintir/ditafsirkan sesuai kepentingan, apalagi Terms & Conditions milik Kompasiana.

Oleh karena itu saya mohon maaf telah lancang mengusulkan pada Kompasiana sebagai berikut:

-Agarpadaangka 6 di kalimat: “hanya untuk keperluan pribadi, bukan tujuan komersil” diperjelas menjadi: “hanya untuk keperluan pribadi dan atau situs pribadi, bukan tujuan KOMERSIAL dan propaganda (website perusahaan/parpol dan situs pribadi/organisasi yang berisi mengiklankan/propaganda perusahaan/parpol), ...”

-Agar pada angka 7 di kalimat: yang ditujukan untuk kepentingan atau keperluan komersil, wajib mendapatkan izin dari Admin Kompasiana.” diperjelas menjadi: “yang ditujukan untuk kepentingan atau keperluan KOMERSIAL dan propaganda (website perusahaan/parpol dan situs pribadi/organisasi yang berisi mengiklankan/propaganda perusahaan/parpol) , wajib mendapatkan izin dari Admin Kompasiana.

-Kata komersil agar diganti menjadi KOMERSIAL, karena setelah mencari-cari di berbagai sumber kamus Bahasa Indonesia, tidak ditemukan kata komersil, yang ada KOMERSIAL. KOMERSIAL berarti [a] (1) berhubungan dengan niaga atau perdagangan; (2) dimaksudkan untuk diperdagangkan; (3) bernilai niaga tinggi, kadang-kadang mengorbankan nilai-nilai lain (sosial, budaya, dsb).

Saya kira hal ini perlu diperjelas dan dipertegaskan kembali karena suasana pemilu 2014 makin terasa aromanya dalam artikel-artikel di kompasiana. Sebagaimana lazimnya dalam politik, segala celah akan dimanfaatkan untuk memberikan keuntungan semaksimal mungkin dengan pengorbanan/cost/upaya seminimal mungkin. Jadi jangan heran bila ada unsur-unsur dari partai politik yang hobi mengcopas sama persis artikel-artikel yang ada di Kompasiana untuk kepentingan propaganda mereka.

Kompasiana harus bersiap dan membentengi dirinya termasuk artikel-artikel yang ditulis para kompasioner dari para hamba-hamba/budak politik yang ingin mengambil keuntungan tanpa mau berpikir dan berusaha yang antara lain tinggal copas tanpa ijin ADMIN lalu berdalih dengan berbagai macam pembenaran.

Cuma usul lho, sebagai tanda sayang dan utang budi pada Kompasiana, gak setuju atau ditolak juga saya gak mewek. Saya tetap berterima kasih banyak pada Kompasiana yang memberikan banyak pelajaran dan kesempatan pada saya. Untuk para kompasioner lain terutama para dedengkot dan senior mohon koreksinya. Salam.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Media Selengkapnya
Lihat Media Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan