aminsiahaan
aminsiahaan lainnya

Historia Magistra Vitae

Selanjutnya

Tutup

Novel

Utami (Bab II: Perkenalan) Bagian 3

11 Januari 2019   23:04 Diperbarui: 11 Januari 2019   23:16 188 0 0

Ia benar-benar menikmati waktu santainya? Apa yang ia pikirkan? Banyak orang berkata ia susah ditebak, dan bahkan ada yang berani bilang dia itu penuh misteri. Mengenai hal ini aku tidak berspekulasi terlalu jauh. Bagi kami ia adalah idola sebab berani melawan orde baru, terutama kisahnya "meneror" markas tentara.

Hasis analisisku berjumlah lima halaman. Aku yakin dengan apa yang aku tulis dan siap berdiskusi dengannya.

Dia bolak-balik secara cepat. Selesai, lalu ia lempar pelan di atas meja. Dia tidak membacanya.

"Apa kesimpulanmu bung?"

Sialan. Aku sudah tulis di lembar terakhir. "Setidaknya ada lima poin penting, bang," aku mulai jawab dengan kesal di dalam hati, "pertama, konflik terjadi karena kebanyakan tanah-tanah yang berkonflik tidak memiliki keabsahan dan ini menjadi celah bagi pihak lain untuk mengklaim dan mengusir mereka."

"Maksudmu rakyat tidak punya bukti terhadap tanahnya sendiri?"

"Ya, bang."

"Baiklah, yang empat lagi tidak perlu kau jelaskan," mintanya sambil mematikan rokok yang masih tersisa setengah batang. Ini di luar kebiasaannya.

"Apa yang kau pelajari di kampus?"

"Maksudnya, bang?" tanyaku heran.

"Itulah kalian mahasiswa zaman sekarang, tidak kritis melihat akar masalah. Kesimpulanmu itu hanya melihat apa yang terjadi di permukaan, tidak substansinya."

Padahal aku masih punya empat kesimpulan lagi. Ini tidak adil. "Masih ada empat poin penting lagi, bang," kilahku.

"Sebelum negara ini lahir pada Agustus 1945, rakyat sudah berdiam di tanahnya secara turun-temurun," dia benar-benar mengacuhkan kesimpulanku yang lain, "dan keberadaan mereka itu adalah bukti paling sahih."

"Aku tahu itu bang, tetapi sepanjang tidak ada surat kepemilikan yang sah, maka sulit bagi rakyat untuk menang di pengadilan."

"Itu pola pikir yang salah, dan itu yang terus diajarkan di perguruan tinggi. Dan kaulah salah satu produknya."

Sialan. "Jadi, negara salah?" tanyaku.

"Sialan kau ini, kok masih kau tanyakan lagi soal itu."

"Kesimpulanku yang lain menyebutkan negara masih abai soal keberpihakan kepada rakyat." Aku ingin dia tahu bahwa aku pun mengkritisi pemerintah.

"Kalau kita mau serius membela rakyat, posisimu harus tegas bung. Jangan setengah-setengah."

"Maksudnya, bang?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3