Mohon tunggu...
amie retna wulan dewi
amie retna wulan dewi Mohon Tunggu... Wiraswasta -

Saya seorang wiraswasta yang semula menjadi karyawan swasta. Hobi saya menulis, membaca, dan mendengarkan musik

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Ikut Lomba Menulis, Cara Efektif Menarik Minat Untuk Menulis

22 Agustus 2018   11:41 Diperbarui: 22 Agustus 2018   12:05 1094
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagi sebagian orang, menulis merupakan sebuah kegiatan atau bahkan hobi yang menyenangkan. Karena dengan menulis, kita bisa mengungkapkan pemikiran, ide, curahan hati, inspirasi, dsb melalui kata demi kata yang kita rangkai ke dalam sebuah tulisan yang kemudian bisa dibaca bukan hanya oleh diri kita sendiri, melainkan oleh orang lain. Banyak hal besar terjadi karena sebuah tulisan, bahkan hingga mempengaruhi "sejarah" sebuah bangsa. Banyak contoh yang mengisahkan hal tsb, termasuk di negara kita sendiri.

Namun masalahnya, menulis membutuhkan "mood", "ide", atau "inspirasi" yang justru terkadang mandeg alias buntu. Dibutuhkan "suntikan ampuh" untuk mengatasi hal tsb. Dan sebuah lomba atau sayembara menulis relatif efektif untuk menyuntik mood, ide, dan inspirasi sekaligus menarik minat menulis.

Tema atau Jenis tulisan yang ditentukan dengan segala persyaratan membuat berpikir menjadi fokus pada tema dan syarat tsb. Sedangkan hadiah yang dijanjikan menjadi "daya tarik" dan penyemangat untuk menulis.

Saya mengalami langsung hal tsb. Saya yang selama 6 tahun vakum menulis atau dari periode akhir 2012 sampai dengan pertengahan 2018, tiba-tiba saat membaca lomba menulis novel yang diadakan oleh sebuah Penerbit Novel, menjadi "terbangun" dari tidur panjang. Apalagi hadiah kontrak penerbitan selain uang tunai, bagi penulis "amatiran" seperti saya terlihat sangat menggiurkan.

Saya pun bersemangat untuk menulis novel sesuai dengan persyaratan yang ditentukan, meski harus beberapa hari begadang hingga dini hari karena dikejar "deadline" waktu lomba dan laptop yang digunakan adalah laptop milik istri kakak ipar. Sampai akhirnya saya pun selesai menulis lalu mengirimkannya melalui email. Tinggal menunggu pengumuman pemenang sekitar satu bulanan lagi. 

Setelah itu, saya jadi rajin "browsing" di internet mengenai lomba menulis yang diselenggarakan. Lomba tsb ada yang dikirimkan melalui email atau berupa lomba blog, seperti yang diselenggarakan oleh Kompasiana dengan berbagai tema atau materi yang ditentukan.

Beberapa lomba tsb sudah ada pengumumannya, dan ternyata saya termasuk yang tidak beruntung memenangkan lomba tsb. Namun saya tidak berputus asa, dan terus mengikuti lomba menulis. Apalagi cara mengirimkan tulisannya cukup mudah, yaitu melalui email atau blog. Jadi asal memiliki smartphone dan kuota, kita bisa tinggal mengirimkan tulisan yang dilombakan. Atau ada juga yang harus diketik dan dikirimkan di Warnet. Lalu tinggal "duduk cantik" menunggu pengumuman sambil berdoa dan menyiapkan "mental" bila hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkan.

Hal ini sangat jauh berbeda ketika zaman saya dulu aktif menulis dan mengirimkan tulisan saya, baik untuk mengikuti lomba menulis ataupun mengirimkan tulisan reguler ke media cetak, pada awal hingga pertengahan 2000an. Meski penulis amatiran, namun saya telah melalui proses panjang dan berliku dalam soal menulis. Dulu saya pertama kali mengirimkan tulisan saya berupa cerpen ke sebuah majalah pada tahun 2002. Tulisan yang sudah diketik tsb lalu dicetak, setelah itu dikirimkan melalui pos.

Namun cerpen tsb tak ada kabar beritanya alias tidak dimuat. Lalu pada tahun 2003 saya mengikuti lomba menulis puisi cinta di sebuah tabloid remaja, yang cara pengirimannya sama melalui pos. Setelah menunggu selama berbulan-bulan, akhirnya ada pengumumannya, yang ternyata saya keluar sebagai Juara pertama. Senangnya bukan kepalang, meski hadiah yang saya dapatkan bukan berupa uang, melainkan barang-barang merchandise berupa t-shirt, celana jeans, tas gendong, dan sepatu yang dikirimkan juga melalui pos.

Dari situ saya jadi semakin bersemangat menulis dan mengirimkan tulisan saya, apakah itu artikel, puisi, cerpen, atau cerber, baik reguler maupun mengikuti lomba. Meski harus bersusah payah mengetiknya di Rental Komputer karena saya tidak memiliki komputer pribadi, lalu mencetaknya, dan mengirimkannya melalui Pos. Semua itu membutuhkan waktu, energi, pikiran, dan tentu saja uang yang tidak sedikit. Namun dari semua tulisan yang saya kirimkan tsb, hanya satu yang dimuat yaitu di Surat Kabar "Pikiran Rakyat" pada pertengahan 2005. Waktu itu honor yang saya dapatkan sebesar 250ribu, yang juga dikirimkan melalui pos. Semua lewat pos.

Pada akhir tahun 2006 saya memberanikan diri mengirimkan "Kumpulan Puisi" saya ke sebuah Penerbit. Tulisan tsb saya ketik selama puluhan lembar, lalu saya cetak dan saya jilid menjadi sebuah buku. Saya pun membuat sampulnya terlebih dulu, lalu saya memasukan tulisan tsb ke sebuah CD yang di"burning", kemudian mengirimkannya ke penerbit tsb melalui Pos, yang tarifnya cukup mahal karena dihitung berdasarkan berat kiriman dan jarak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun