Mohon tunggu...
Amel Widya
Amel Widya Mohon Tunggu... Karyawan

Perempuan Berdarah Sunda Bermata Sendu. IG: @amelwidyaaa Label di Kompasiana: #berandaberahi

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Berani Jadi Petani Milenial?

22 Mei 2019   19:54 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:04 0 45 18 Mohon Tunggu...
Berani Jadi Petani Milenial?
Petani Milenial [Ilustrasi: EasternPeak]

Tidak mudah menjadi anak petani. Apalagi jadi petani. Pakaian berlumur tanah, kulit bermasker lumpur, rambut bau matahari, dan tubuh berpeluh. Itulah gambaran kasar sosok petani. Gambaran yang jauh dari benak anak-anak milenial.

Anak petani enggan menjadi petani, itu lumrah. Selumrah anak guru yang belum tentu menjadi guru. Yang luar biasa adalah tatkala mahasiswa jurusan pertanian malah kesasar menjadi teler bank, wartawan, atau profesi lain yang jauh dari disiplin ilmunya.

Bahkan sempat gencar beredar pelesetan IPB. Seharusnya Institut Pertanian Bogor menjadi Institut Perbankan Bogor. Sekilas lucu, padahal tragis. Tampak sekali bahwa citra petani, yang lusuh dan kotor, tidak memikat hati anak-anak muda.

Jika sudah begini, regenarasi petani bakal terhambat. Siapa yang bakal meneruskan kiprah Ahmad Mu'tamir, petani kentang nan sukses? Seperti dilansir MoneySmart, omzet Pak Ahmad rata-rata Rp120-170 juta per bulan.

Baiklah, kita ubah pertanyaan di atas yang sarat rasa prihatin. Benarkah citra petani masih lusuh dan kotor? Benarkah masa depan petani, termasuk pertanian, selalu kusam dan muram? Sebelum kedua pertanyaan itu bertemu jawab, ayo kita simak kisah petani milenial.

Taufik Hidayat namanya. Ayahnya kuli bangunan. Kadang ayahnya keluar kota atau pulau demi menafkahi keluarga. Taufik pun jadi matahari harapan. Setamat kuliah, ia merantau ke Jakarta untuk menyokong ekonomi keluarga. Namun, ia pulang kampung dan banting setir menjadi petani.

Di Pangalengan, ia terjun ke kebun. Jamur tiram jadi pilihannya. Ia kumpulkan modal awal dari teman-temannya. Ia pelajari seluk-beluk bertani jamur. Ia tekuri pola pasar dan pernak-perniknya.

Taufik Hidayat sang petani milenial [Foto: DetikFinance/Taufik Hidayat]
Taufik Hidayat sang petani milenial [Foto: DetikFinance/Taufik Hidayat]
Meski telah bertani dengan telaten, ujian tiba. Panen gagal akibat kebun jamurnya dilanda banjir. 

Apakah ia patah arang? Tidak. Taufik tidak putus asa. Ia bangkit dan kembali bergiat. Kini ia memanen di "ladang gigihnya". Rata-rata per bulan ia meraup omzet Rp165 juta. Asetnya pun mencapai Rp600 juta.

Kisah Taufik bukanlah pepesan kosong. Setelah penat bekerja kantoran, ia pulang ke kampungnya untuk bertani. Kisah lengkapnya bisa kita baca di DetikFinance. Kini penghasilannya sudah jauh melebihi upahnya semasa menjadi karyawan.

Lahan budi daya jamur [Foto: DetikFinance/Taufik Hidayat]
Lahan budi daya jamur [Foto: DetikFinance/Taufik Hidayat]
Pengalaman Taufik bukan materi bualan demi memotivasi generasi muda. Tidak, itu fakta. Banyak anak muda yang terbujuk kemeja necis, dasi mahal, sepatu mengilap, serta ruang kerja yang harum dan berpendingin. Itu sah-sah saja.

Meski begitu, jangan remehkan petani. Jika petani menguasai teknologi seperti di Singapura, Jepang, atau AS, penampilan mereka sangat keren dan mentereng. Baik saat bekerja maupun waktu bersantai. Mereka petani cerdas yang berkiprah di dunia pertanian cerdas.

Apakah pertanian cerdas itu? Tunggu, kita simak dulu data mencengangkan ini. Dikutip EasternPeak dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), populasi global pada 2050 diperkirakan akan melampaui 9 miliar jiwa. Seluruh jiwa itu butuh makanan. Sungguh peluang besar bagi petani di seantero dunia.

Guna menghasilkan makanan yang cukup bagi populasi tersebut, volume produksi pertanian harus meningkat sebesar 50%. Masalahnya, sumber daya untuk operasi pertanian terbatas. Sebagian besar lahan yang cocok untuk pertanian sudah digunakan. Kalaupun ada lahan kosong, kemungkinan karena diabaikan oleh pemiliknya.

Satu-satunya cara untuk meningkatkan volume produksi adalah dengan meningkatkan efisiensi produksi.

Inilah pertanian cerdas. Kita tahu bahwa teknologi digital berkembang pesat. Revolusi Industri 4.0 bukan sekadar slogan. Hampir seluruh sendi kehidupan sudah dirasuki teknologi digital. 

Jangankan bidang ekonomi dan kesehatan, bidang pertanian pun sudah dirambah.

Bagaimana cara memulai pertanian cerdas? Fondasi pertanian cerdas harus dibangun oleh Pemerintah. Ketersediaan infrastruktur, berupa jaringan internet, sangat dibutuhkan dalam pengembangan Internet of Things (IoT).

Ketika Ahmad berminat mengembangkan kentang, ia berkonsultasi dulu kepada pakar pertanian. Ia tanyakan soal kondisi lahan, pengaruh cuaca, curah hujan dan ketersediaan air, serta prediksi hama dan penanganannya. Taufik juga begitu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3