Amel Widya
Amel Widya Karyawan

Perempuan Berdarah Sunda Bermata Sendu. IG: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Boy Candra, Novel Remaja, dan Minat Baca

22 Februari 2019   20:17 Diperbarui: 23 Februari 2019   16:07 475 24 8
Boy Candra, Novel Remaja, dan Minat Baca
Ilustrasi Malik & Elsa - Gramedia.com

Saya tidak bisa begitu saja menceritakan kapan saya mulai senang membaca. Ini ibarat perlahan jatuh cinta kepada seseorang: saya tidak tahu kapan awalnya dan bagaimana kejadiannya. Saya hanya bisa menceritakan buku yang saya baca dan mengapa saya menyukainya.

Saya memang senang membaca sejak kecil. Mula-mula buku cerita bergambar, komik, majalah anak-anak, buku cerita, lalu berpindah ke novel remaja. Beranjak dewasa, pelan-pelan saya beralih ke novel-novel tebal. Tinggal sesekali saya baca buku cerita anak, komik, atau novel remaja.

Dua hari lalu, sepulang kerja saya ke toko buku di sebuah mal. Saya senang berkunjung ke toko buku. Kalau pas ada uang, buku yang memantik selera segera saya boyong ke kasir. Apabila isi dompet sedang sekarat, saya hanya mencatat buku yang memikat hati dan berharap kelak bisa saya borong ke rumah.

Saya selalu merasa hidup ketika berada di tengah hamparan buku. Begitulah perasaan saya. Tiga buku berpindah ke tangan. Pertama, Angin Musim, sehimpun fabel anggitan Mahbub Junaidi. Kedua, Obrolan Sukab, kumpulan esai karya Seno Gumira Ajidarma. Ketiga, Malik dan Elsa, novel remaja karangan Boy Candra. Tiga buku berbeda warna, bukan? 

Buku Malik dan Elsa (Dokumentasi Pribadi)
Buku Malik dan Elsa (Dokumentasi Pribadi)
Setiba di rumah, saya segera melahap Malik dan Elsa. Tidak, ini tidak terkait dengan selera baca. Ini juga tidak terkait dengan bacaan serius atau serius membaca, seperti dalam artikel saya tempo hari

Mendadak saya ingin membaca novel ringan: ketika saya baca maka saya tak perlu mengernyitkan kening dan setelahnya saya tersipu-sipu seolah sedang berada pada masa remaja. 

Malik dan Elsa berhasil saya khatamkan dalam kurun dua seperempat jam.

Tentang Malik dan Elsa

Boy Candra menemukan Malik dan Elsa seakan tanpa sengaja. Ia semacam menemukan suasana berbeda dari tiga belas buku yang lebih dulu ia karang. Tentu itu bukan sesuatu yang aneh dan ajaib, sebab ide memang sering datang tanpa diminta.

Yang aneh dan ajaib justru karena Boy berhasil merampungkan penciptaan Malik dan Elsa. Tidak semua orang  mampu mengeksekusi lintasan idenya menjadi sebuah karya. Selain itu, Boy menuntaskan penulisan novel tersebut tidak dalam suasana hening, tidak dalam sebuah tapa yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi, tetapi di sela-sela kesibukannya selaku penulis. Konon, ada bagian yang ia tulis di perjalanan ketika menunggu pesawat atau saat rebahan seusai mengisi acara dalam rangkaian tur bukunya.

Sesaat sebelum saya memboyong
Sesaat sebelum saya memboyong
Boy menata latar waktu dalam rentang yang singkat. Hanya delapan hari. Bermula pada hari pertama kuliah dan berakhir setelah masa "sepekan penarikan pajak makanan" usai. Latar tempat juga hanya sekitaran Padang: dari kampus ke kantin, dari pantai ke pantai, dari kos Malik ke rumah Elsa. Berputar di situ-situ saja.

Ramuan plotnya sederhana, konflik ditata lewat dialog dan ala kadar narasi, serta akhir cerita yang sengaja digantung. Latar peristiwa dalam Malik dan Elsa juga ringan. Sebatas dunia remaja. Pada beberapa bagian, Boy (selaku pengarang) mengkritik kondisi bermasyarakat dan berbangsa.

Sebagai novel remaja, Malik dan Elsa patut dibaca oleh khalayak. Bukan hanya pembaca remaja, melainkan pembaca dewasa yang barangkali ingin bernostalgia. Saya, misalnya.

Itu sebabnya saya tabalkan novel setebal 188 halaman ini sebagai bacaan yang lentur. Mengapa lentur? Sekalipun Malik dan Elsa menyasar pembaca remaja, bukan berarti pembaca yang beranjak dewasa atau telah dewasa tidak cocok membacanya.

Tinjauan (review) novel
Tinjauan (review) novel

Malik dan Elsa juga termasuk bacaan yang renyah. Keriuhan suasana kampus dan keriangan masa muda dapat membuat pembaca cengar-cengir, kekonyolan tokoh yang berpotensi mengantar pembaca pada laku cengengesan, atau malah menertawai diri sendiri karena merasa pernah melakukan ketengilan serupa semasa remaja.

Terakhir, Malik dan Elsa tergolong bacaan yang menghibur. Tidak bisa dimungkiri, salah satu alasan pembaca meluangkan waktu bertualang dari halaman ke halaman dalam sebuah novel ialah demi mengalihkan diri dari penat hidup sehari-hari. Novel ini memenuhi unsur tersebut lantaran alir cerita dipenuhi kekonyolan yang jalin-menjalin.

Saya tidak akan membocorkan alir kisah atau alur cerita novel ini, tidak. Biarkan pembaca lain bersua sendiri dengan pilinan nasib Malik dan Elsa, dua tokoh utama dalam novel ini.

Tentang Novel Remaja dalam Belantika Sastra Indonesia

Tidak sedikit teman yang mencibir ketika saya membaca novel remaja tatkala usia saya sudah tidak remaja. Seolah-olah novel remaja tabu dibaca oleh pembaca dewasa. Bagi saya, apa pun bacaan kita tetap berfaedah selagi kita mampu mengungkit pesan tersirat atau tersurat dari bacaan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3