Amel Widya
Amel Widya Karyawan

Perempuan Berdarah Sunda Bermata Sendu. IG: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Doel Sumbang dan Panggung Ripuh Tembang Sunda

30 Januari 2019   19:37 Diperbarui: 31 Januari 2019   21:29 410 22 6
Doel Sumbang dan Panggung Ripuh Tembang Sunda
Doel Sumbang (Foto: Kompas.com)

Bisakah bahasa Sunda punah? Pertanyaan itu mengusik pikiran saya selama beberapa hari belakangan ini. Sebagai perempuan Sunda, saya tidak ingin bahasa leluhur saya punah dan hilang dari peredaran. Akan tetapi, saya tiada henti dibuntuti oleh rasa cemas.

Hati saya selalu diselimuti perasaan haru setiap kondangan, entah hajat khitanan entah resepsi pernikahan, karena disambut lantunan lagu-lagu Sunda yang syahdu. Kadang merdu suara Nining Meida, kadang dendang lucu Doel Sumbang. Selebihnya, lagu-lagu Sunda jarang singgah di kuping saya. Kecuali kalau sedang di rumah.

Apa korelasi antara lagu Sunda dan bahasa Sunda? Bagi generasi milenial seperti saya, lagu termasuk jalan pintas untuk memahami suatu bahasa. Itu sebabnya saya mencintai lagu Sunda, lantaran dari sanalah saya memperkaya kosakata.

Hingga kapan lagu-lagu Sunda bisa memanjakan telinga saya? Apakah generasi baru akan lahir di kancah pop Sunda apabila era Doel Sumbang dan Nining Meida berlalu? Apakah ada generasi kiwari yang mau meneruskan kiprah Kang Darso? Adakah pedangdut yang mengikuti Itje Trisnawati menyusupkan bahasa Sunda ke dalam lagu yang didendangkannya?

Hanya empat pertanyaan, tetapi sungguh-sungguh mencemaskan.

Getir Takdir Bahasa Daerah yang Sekarat
Kepala Bidang Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Ganjar Harimansyah, sebagaimana dikutip Kompas.com, mengabarkan bahwa ada 13 bahasa daerah yang dinyatakan punah. Walupun bukan sesuatu yang mengejutkan, pernyataan beliau tetap saja mencemaskan.

Bayangkan. Ada 11 bahasa yang punah di Maluku, yakni bahasa Kajeli/Kayeli, Nila, Palumata, dan Serua (Maluku Tengah), Piru (Seram Barat), Moksela (Kep. Sula), Ternateno (Kota Ternate), Hukumina (Pulau Buru), serta Hoti (Seram Timur). Dua lainnya berasal dari Papua, yaitu Tandia (Teluk Mondama) dan Mawes (Sarmi).

Itu bukan pepesan kosong, bukan juga omong kosong. Kepunahan bahasa berarti kematian budaya, tradisi, dan pernak-pernik satu suku pengguna bahasa. Bayangkan pula suatu ketika orang-orang Sunda, misalnya, harus belajar bahasa, budaya, dan tradisi Sunda kepada pakar dari negeri asing.

Hal ini menimpa bahasa Kaganga, bahasa daerah yang pernah digunakan oleh masyarakat di Sumatera bagian selatan. Padahal, Kaganga punya aksara sendiri. Saat ini, ahli yang mahir menulis, membaca aksara, dan berbahasa Kaganga justru pakar dari Belanda dan Jerman.

Apakah suatu ketika bahasa Sunda akan menyusul saudara-saudaranya yang telah mangkat itu? Tidak perlu cemas. Jumlah penutur bahasa Sunda sangat banyak, yaitu 27.000.000 jiwa. Rasa-rasanya bahasa Sunda akan berumur panjang, setidaknya masih jauh dari sekarat. Itu kalau kita mau meminggirkan kecemasan dan mengabaikan kemungkinan.

Akan tetapi, tunggu dulu. Jumlah penutur yang sedemikian besar ternyata bukan garansi sebuah bahasa dapat awet dan lestari. Sikap penutur terhadap bahasa daerahnya justru sangat berpengaruh terhadap kelestarian bahasa daerah.

Tanpa kita sadari, rasa segan berbahasa daerah karena takut dituding norak, kampungan, atau ketinggalan zaman justru merupakan ancaman bagi keselamatan bahasa daerah. Lambat laun, sikap malu berbahasa daerah dapat menggerus jumlah penutur. Akibatnya, jumlah penutur akan berkurang sedikit-sedikit hingga lama-lama menjadi banyak.

Jika bertumpu pada kriteria Unesco (2003), bahasa dinilai berdasarkan daya hidupnya. Jika penuturnya sudah tiada, berarti suatu bahasa dinyatakan punah. Pada 2009, Unesco mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia terancam punah--termasuk 100 bahasa daerah di Indonesia. Bahkan dalam rentang 30 tahun terakhir sudah 200 bahasa yang tamat riwayatnya, termasuk 13 bahasa daerah di Maluku dan Papua.

Berdasarkan persebaran bahasa daerah per provinsi, Badan Bahasa menyatakan bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 733. Hanya saja, hingga Oktober 2017 baru 652 yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 wilayah pengamatan.

Bagaimana dengan respons penutur bahasa Sunda terhadap bahasa ibunya? Di kota-kota besar, hasrat memakai bahasa Sunda mulai menyusut di kalangan umat milenial. Jangankan bahasa Sunda, bahasa Indonesia saja dicampuradukkan dengan bahasa asing.

Bahkan semangat berbahasa Sunda juga mulai menyusut di kalangan kaum muda di pinggiran kota. Lambat laun akan merembet atau merembes ke perdesaan atau perkampungan. Jika generasi kiwari (terutama yang berusia 27 tahun ke bawah) sudah enggan berbahasa Sunda, isyarat takdir bahasa Sunda mendekati sekarat tinggal menunggu waktu.

Tahapannya jelas. Mula-mula memasuki fase bahasa daerah yang rentan atau tidak aman, kemudian sekarat atau kritis, kemudian meninggal atau punah. Memang sekarang bahasa Sunda masih tergolong aman, tetapi apakah respons umat milenial menjamin rasa aman itu? Saya pikir, tidak.

Doel Sumbang dan Gairah Merawat Bahasa Sunda

Pada 3 Januari 2013, seperti dilansir oleh Viva.co.id, Doel Sumbang berteriak lantang mengenai upaya pelestarian bahasa Sunda. "Saya akan terus mengarang lagu Sunda, tidak peduli laku atau tidak. Saya berkarya bukan untuk mencari untung belaka. Saya terus berkarya karena saya tidak ingin bahasa Sunda punah," laung penyanyi bernama Abdoel Wahyu Affandi dengan lantang.

Apa pasal sehingga Doel Sumbang bercakap demikian? Pelantun puluhan, bahkan ratusan, lagu Sunda tersebut membaca kemungkinan dan menebalkan kekhawatiran. Jika tidak dirawat, dijaga, atau dilestarikan, bukan hal mustahil bahasa Sunda menyusul kerabatnya yang telah tiada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3