Mohon tunggu...
Amelia Rosliani
Amelia Rosliani Mohon Tunggu... Guru - penyuka buku fisik

Menganalogikan dirinya "spora berjalan" | pembelajar | pendidik | book lovers | poem | sedang berusaha membuat buku solo perdana

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Privasi, Profesi, dan Resepsi

3 Desember 2022   00:13 Diperbarui: 4 Desember 2022   18:36 86
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

PRIVASI, PROFESI, DAN RESEPSI

Perempuan. Ya lagi-lagi perempuan yang selalu dikelilingi dengan beberapa pilihan dalam hidupnya, untuk privasi, profesi, atau bahkan resepsi. Perempuan memiliki ciri khusus di mata masyarakat, terdongkrak dengan stigma lain, dan kehidupan bersosilisasi lainnya. Ya lagi-lagi perempuan selalu dikelilingi dengan pilihan yang harus memilihnya dengan kacamata lain. Alih-alih banyak pilihan dan ribet memilih suatu kriteria, nyatanya hidup memang selalu dekat dengan beberapa pilihan dan menuju ke tujuan yang sama.

Bicara privasi perempuan selalu dilibatkan dengan perasaan, terlebih perempuan yang berada di usia 25 tahun ke atas persoalan memilih pendamping hidup menjadi pemandangan yang menjadi topik utama. “Lagi sama siapa?” “Lagi sibuk ngapain” “Pasangannya mana?” pertanyaan-pertanyaan penuh basa-basi yang tak memiliki esensi, hanya sebagai pelengkap komunikasi. 

Kadangkala kita memang perlu menghembuskan nafas dan bersiap untuk menghembuskannya saja. Sebab, masing-masing manusia memiliki tujuan hidupnya masing-masing dan pasti berbeda itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah denganmu, bahkan dengan persepktifmu, walau perempuan, hiduplah untuk terus berkontribusi terlebih untuk meningkatkan kualitas diri agar privasi semakin mempuni.

Kedua, profesi perempuan selalu dilibatkan dengan profesi yang tidak perlu terlalu ambisi dengan persoalan pekerjaan dan pendidikan. Manusia yang memiliki pendidikan, dan pekerjaan yang cukup, hanya untuk laki-laki, terlebih dia sebagai pemimpin di dalam keluarga. Perempuan selalu dikaitkan dengan keenganan lawan jenis untuk duduk sejajar di ranah masyarakat. Stigma kurang baik pun kerap diterima oleh daun telinga kaum perempuan. Kasus kekerasan yang kerap diterima oleh kaum perempuan kadangkala menjadi topik yang terlupakan di ranah sosial maupun hukum. 

Minimnya penanganan, perspektif yang belum terbiasa, rasa malu untuk melaporkan karena stigma negatif kerap diterimanya. Di luaran sana, lagi dan lagi perempuan harus pintar-pintar menjaga diri, beradaptasi, atau bahkan survive. Lingkungan yang kurang mendukung kaum perempuan untuk berkontribusi lebih banyak pun menjadi penghalang untuk berkembang dan maju. Alih-alih kodrat perempuan cukup hanya diam di dalam rumah, mengurus anak, dan mengurus rumah suami.

Sebab, setau saya kodrat perempuan memang untuk mematuhi suami dalam ranah perspektif agama Islam. Suami sebagai kepala rumah tangga, izin suami maka akan dimudahkannya jalan menuju Jannah. Tapi menurut saya, seorang anak pintar dan terdidik lahir dari rahim seorang perempuan yang pintar, seorang perempuan tidka terlepas dari perannya di mata masyarakat, berososialisasi di pemerintahan atau bahkan dalam bidang politik (Usth Aan Rohanah). Demikian informasi yang dapat mendukung opini saya terhadap kontribusi perempuan dan keaktifan peran perempuan di lingkungan bermasyarakat.

Terakhir tentang resepsi, perempuan terlalu disudutkan persoalan mahar. Jika sedikit disebut terlalu apa adanya, jika terlalu banyak dianggap berlebihan. Jadi maunya apa? Bahkan untuk persoalan kehidupan berikutnya saja, sosial terlalu banyak ikut campur dan mencampurinya. Perihal hidup sendiri, terlalu penasaran dan ikut campur dengan urusan kehidupan orang lain. Mengutamakan profesi pun kerap dianggap terlalu berambisi dengan karier, jangan terlalu tinggi nanti laki-laki menjadi minder kapadamu. Ya itulah kondisi dan stigma kita saat ini terhadap perempuan di mata masyarakat.

Ketakutan-ketakutan yang berawal dari masa lalu berujung menitik beratkan kepada konteks perempuan di masa sekarang alias di zaman sekarang. Kehidupan, dan kesehariannya pun kerap dengan kultur demokrasi terhadap pekerjaan, pendapat, atau bahkan pendapatan. Apa yang mesti kita risaukan?

Kehidupan perempuan kerap mendapat seksisme dari lingkungan sekitar dan stigma dalam masyarakat. Setinggi-tingginya perempuan melanjutkan pendidikan, maka akan berkubang di dapur juga. Anggapan dan respon seperti itu seolah menjadi bahan obrolan ringan di tatanan sosial. Berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan yang di atas laki-laki.  

Perlakuan seperti itu akan terjadi di tatanan sosial yang masyarakatnya belum terbiasa dengan cara pandang perempuan yang memiliki kepinataran dan kepinteran. Berbeda situasi jika kondisi sosial berada di lingkungan masyarakat perkotaan. Rata-rata kaum urban akan selalu memprioritaskan persoalan kariernya sebelum mengacu kepada resepsi. Sebab, perempuan diberikan kebebasan dalam berpendapat, berekspresi, dan mengambil alih.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun