Mohon tunggu...
Amelia Ratih Amanda
Amelia Ratih Amanda Mohon Tunggu... Gadih minang-PII Wati

Ribet dan ricuh di tulisan, simpel dan kalem didunia nyata.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Manusia dan Insecurity

29 Juni 2020   10:51 Diperbarui: 2 Juli 2020   12:33 304 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Manusia dan Insecurity
unsplash.com

"Keren banget sih dia. Gue mah apaan."

"Cantik ya, gue jadi insecure."

"Jiwaku insecure melihat ke-uwu-an orang lain."

Akhir-akhir ini , kata insecure begitu marak digaungkan oleh kawula muda diberbagai platform media sosial. Ada yang merasa insecure dengan bentuk badan, ada yang merasa insecure dengan warna kulit, bahkan ada yang insecure dengan kecerdasan.

Yes! Insecure merupakan kata yang sangat akrab dengan generasi milenial. Generasi saat ini tumbuh dipeluk oleh rasa insecure, dimomong oleh ke-uwu-an orang-orang disosial media, dan dimanjakan oleh rasa tidak pernah bersyukur.

Pernahkah kamu berpikir bahwa sebenarnya orang-orang yang mengupload foto apik dengan caption menarik di instagram tidak sebahagia yang kamu bayangkan?  Mereka tentu saja punya dunia dibelakang layar. Lalu, dengan menilik salah satu fungsi sosial media pada saat ini sebagai ajang pamer-pameran, mungkin nggak sih, mereka pamer kesedihan mereka di sosial media. Of course, no! Tentu saja, yang namanya sosial media, selain sebagai mesin pencari informasi yang canggih, kini ia telah bertransformasi menjadi media pamer kebahagiaan, kekayaan, dan segala hal yang indah jelita ulala lainnya.

Lalu bagaimana perihal insecure dengan warna kulit, tinggi badan, dan ukuran badan? Kamu harus tahu satu hal. Bahwa kamu itu unik dan cantik dengan caramu sendiri. Cantik bukan soal putih, bening, glowing. Cantik adalah soal bagaimana cara kita memperlakukan diri kita dengan baik. Rawatlah untuk sehat, bukan untuk mengikuti standar manusia yang tidak ada habisnya.

Sepertinya tiap kepala yang berjalan dimuka bumi ini harus disadarkan dengan kenyataan bahwa setiap orang yang berjalan hilir mudik disekitar kita sedang memikul bebannya masing-masing. Hanya saja kita tidak tahu (atau bahkan tidak mau tahu). Setiap manusia sangat pandai memainkan perannya sebagai pesandiwara ulung.

Hei, kamu tentu saja juga pernah melakukannya, bukan?  Menangis diam-diam dikamar sebelum tidur, atau sengaja kekamar mandi untuk meredam suara tangismu, atau tidak bisa tidur semalaman karena dihantui perasaan yang kacau. It's normal, dear. It's okay not to be okay.

Dunia seakan tidak ada habisnya jika kamu selalu melihat keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan orang lain sebagai bahan perbandingan dengan kehidupanmu. Hidup akan terus berjalan, orang-orang akan terus maju, kehidupan akan terus berubah. Kita tidak akan maju jika masih berkutat dengan berbagai macam diksi untuk menghakimi diri sendiri karena tidak sama seperti orang lain. Padahal hakikatnya, seperti kata pepatah klasik "Setiap orang ada waktunya". But, yes! Itu sangat benar. Mungkin kini kamu belum merasakan kebahagiaan yang kamu inginkan, prestasi yang ingin kamu capai, kuliah di kampus impianmu. Namun, kamu harus percaya. Suatu saat, kamu akan sampai dititik itu. Titik dimana kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa "Ini aku, dan aku bangga dengan diriku". See, how amazing is that!

Mungkin, kamu lupa bahwa para motivator yang memukau ribuan audiens itu juga pernah berada di posisi terendah mereka, penulis buku bestseller itu juga berasal dari penulis amatiran, atau youtuber yang memiliki jutaan subscriber itu juga berasal dari 0 subscriber. Tahukah kamu, yang membuat mereka seperti itu adalah kerja keras dan pantang menyerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN