Mohon tunggu...
ambuga lamawuran
ambuga lamawuran Mohon Tunggu... Pengarang

Menulis novel Rumah Lipatan, novel Ilalang Tanah Gersang dan antologi cerpen Perzinahan di Rumah Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Beiwali, Ada Sumber Air tapi Krisis Air

30 Mei 2019   23:13 Diperbarui: 30 Mei 2019   23:37 0 0 0 Mohon Tunggu...
Beiwali, Ada Sumber Air tapi Krisis Air
Kali yang berada di sekitar Desa Beiwali | Dokpri

Catatan Perjalanan Kopong Bunga Lamawuran

Di Kota Bajawa, kita selalu disambut oleh dingin dan kabut. Dingin dan kabut membuat para pemilik toko menutup lebih cepat tokonya pada malam hari, dan janganlah dibayangkan kita bisa leluasa berkeliaran di tengah malam tanpa menggigil seperti orang yang mengalami demam hebat.

Tak hanya dingin dan kabut, tentunya. Kita pun menyaksikan betapa air yang jernih bisa mengalir di sisi luar kota, menyusuri kali yang dinaungi rimbun dedaun bambu. Satu wilayah dengan aliran air yang terletak tak jauh dari pusat wilayah itu, jelas menyingkirkan pikiran-pikiran buruk, semisal krisis air bersih. Tapi itu tidak terjadi di Desa Beiwali.

Desa Beiwali terdapat di Kecamatan Bajawa, Kabuapten Ngada; berjarak hanya sekitar tiga kilometer dari jantung Kota Bajawa. Dari tahun ke tahun, warga desa ini terpaksa mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membeli air bersih yang dijual para sopir tangki air.

Saya sampai di desa tersebut pada siang hari bersama seorang wartawan setempat, dan sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya saya mengagumi keindahan dan hijaunya alam menuju Beiwali.

Di jalan, kami bertemu dengan beberapa sopir oto tangki yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan, di sisi atas sebuah kali. Empat buah oto tangki parkir di antara rumpun bambu, dan beberapa sopir sedang menunggu giliran. Rumpun bambu itu begitu subur, tumbuh menjulang tinggi, sehingga menghalangi sinar matahari yang berusaha tembus sampai ke tanah.

Oto tangki yang sedang diisi air | Dokpri
Oto tangki yang sedang diisi air | Dokpri
Para sopir tersenyum ramah, sebagaimana yang biasa saya dapatkan dari sebagian besar orang Bajawa yang ditemui. Mereka bekerja menjual air kepada warga Kabupaten Ngada, termasuk juga warga Desa Beiwali, dengan harga berkisar antara Rp. 120.000 sampai Rp. 150.000 per tangki dengan kapasitas 5000 liter air.

Jarak kali itu ke pusat Desa Beiwali hanya sekitar dua kilometer. Menurut penjelasan kawan seperjalanan, area aliran air itu masih termasuk dalam wilayah Desa Beiwali. Tapi begitulah. Air yang terisi penuh dalam tangki-tangki oto tersebut akan dijual pula kepada warga Desa Beiwali. Sebenarnya di sekitar desa itu, selain dari aliran air di kali itu, ada juga sumber air yang terletak beberapa kilometer saja ke arah perbukitan.

Semakin dekat dengan pusat Desa Beiwali, kami menemukan satu buah bak penampungan air dan beberapa pipa penyalur air bersih. Pipa-pipa itu membentang di sisi bukit, dipasang begitu saja di antara sisi-sisi pohon yang rindang. Pipa tersebut, begitulah penjelasan Kepala Desa Beiwali yang ditemui beberapa saat kemudian, dibangun sekitar tahun 2011 dan 2012, dengan tujuan untuk menyalurkan air menuju bak penampung. Tentu agak aneh, karena bak penampung yang dimaksud justru dibangun pada sekitaran tahun 2015.

Bak penadah air hujan | Dokpri
Bak penadah air hujan | Dokpri
Kami menemui Kepala Desa Beiwali, Nikolaus Raga, di ruang kerjanya, dan ia menyambut kami dengan begitu ramah. Dia orangnya baik, setidaknya dari penerimaannya yang begitu komunikatif.

"Itu tidak jelas. Mulai bangun sampai sekarang air tidak pernah masuk-masuk," katanya menjelaskan fungsi bak penampung yang dibangun itu. Dengan nada bersahaja, ia masih mengeluh bahwa pembangunan itu ditujukan untuk warga, tapi tidak pernah dinikmati oleh warga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3