Ambae.exe
Ambae.exe wiraswasta

Computer Application, Maintenance and Supplies

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Petani Lorong bagi Ilmu Persampahan, Bentuk Peduli pada Bantaeng

10 Februari 2018   01:12 Diperbarui: 10 Februari 2018   01:22 797 0 0
Petani Lorong bagi Ilmu Persampahan, Bentuk Peduli pada Bantaeng
Acci (kanan) menjelaskan manajemen pengelolaan sampah bernilai ekonomis untuk diterapkan di Kabupaten Bantaeng (09/02/18).

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng hadirkan Founder Komunitas Petani Lorong, Munatsir berbagi ilmu persampahan. Instansi yang bergerak di bidang lingkungan ini terus berinovasi dalam mengelola sampah. Inovasi yang diharapkan mampu menopang predikat daerah berjuluk Butta Toa sebagai peraih Piala Adipura sebanyak 7 kali.

Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat UPTD Laboratorium di Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng (09/02/18). Dihadiri Kepala Laboratorium, Salma Wati, Kepala Seksi Administrasi, Andriadi beserta jajarannya dan Mahasiswa UIN Jurusan Biologi yang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Munatsir yang akrab disapa Acci menjelaskan jika dirinya diundang pihak UPTD Laboratorium. Menurutnya persoalan lingkungan dan sampah semakin kronis. Kepedulian terhadap pemanfaatan sampah makin terkikis. "Sampai hari ini belum ada satu kota pun di Indonesia yang berhasil mengedukasi masyarakatnya untuk melakukan pemilihan, pemilahan dan pengolahan sampah secara massif. Saya berharap Bantaeng mampu mewujudkan itu semua, bisa menjadi pilot projects kota Urban Farming." tuturnya.

Acci sampaikan keengganannya menghadiri undangan yang dilayangkan padanya. Namun sebagai putera daerah Bantaeng, wajar jika bisa berbagi ilmu dan bisa diterapkan Pemerintah Kabupaten Bantaeng serta masyarakat pada umumnya. "Beberapa kali saya harus memberi isyarat penolakan untuk tidak hadir, tidak pantas untuk berbicara pengelolaan sampah di Bantaeng. Bantaeng betul betul menjadi kota ramah lingkungan. Bahkan limbah plastik yang tidak bernilai ekonomis seperti sachet kemasan bisa diolah menjadi paving blok untuk jalan lingkungan." tambahnya.

Lebih lanjut digambarkan bagaimana masyarakat bisa mengambil peran aktif mensukseskan program tersebut. Masyarakat yang tidak sempat dan bahkan tidak punya waktu memilah sampah, limbah dapur mereka bisa dibeli. Nantinya ditunjuk kurir menjemput sampah untuk ditampung di lokasi khusus. Lalu diproses jadi pupuk padat maupun cair. Outputnya berupa Kompos atau POC (Pupuk Organik Cair) dijual ke masyarakat umum ataupun dikerja samakan dengan SKPD terkait dalam bentuk perjanjian jual beli.

Kehadirannya memberi angin segar bagi UPTD Laboratorium menyongsong kompleksitas sampah dan manajemen pengelolaannya. Diungkapkan Andriadi, "Sejalan harapan Dinas Lingkungan Hidup jadi patron untuk Urban Farming. Kami sangat tertarik dengan pertanian alami dalam mengelola limbah organik. Selain ramah lingkungan, juga sebagai upaya mereduksi volume sampah." tegasnya. (AMBAE)


salam #AMBAE