Amani Birth Indonesia
Amani Birth Indonesia

Visi dari Amani Birth Indonesia adalah untuk membawa kesadaran dan pendidikan kepada saudara Muslim tentang mukjizat kelahiran sebagaimana Allah (SWT) telah menciptakannya dalam kebijaksanaanNya yang paling terbatas.\r\n\r\nIni adalah impian kami untuk membawa pelatihan Amani Birth indonesia untuk setiap keluarga Muslim di seluruh Indonesia dan untuk menyediakan alternatif lain persalinan di rumah dengan nyaman (Gentle Birth) selain melahirkan di rumah sakit. Insya Allah.\r\n\r\nKami percaya bahwa kelahiran adalah bagian dari ibadah yang mulia dan keyakinan penuh kepada Pencipta dan desain yang sempurna dari tubuh wanita untuk hamil, melahirkan dan menyusui buah hati kita. Hal ini dengan segala kemuliaan dan rasa syukur kepada Allah (SWT) bahwa pekerjaan ini disajikan. Alhamdulelah, subhan'Allah, Allahu Akhbar!\r\n

Selanjutnya

Tutup

Ibu dan Anak

Kisah Persalinan Normal Pasca Sesar 3 Kali

9 Oktober 2012   05:56 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:03 24895 11 10
Kisah Persalinan Normal Pasca Sesar 3 Kali
1349761865993557939

Bump To Birth Birth-Day 32 -33 BabyTalk | June 2012 =========================== “Saya berhasil melahirkan normal setelah 3 kali melahirkan melalui C-secs (operasi ceasar)!” Setelah 3 kali melahirkan melalui operasi C-secs, ibu 4 anak, Henny Zainal, yang juga seorang dokter, tidak pernah menyangka ia dapat melahirkan secara normal dan alami. Ia menceritakan bagaimana ia melawan sesuatu yg banyak orang bilang tidak mungkin. Saya tahu kalau saya hamil lagi pada Mei 2011. Saya berterimakasih atas karunia yg diberikan sekaligus bingung dan takut. Anak saya yang termuda baru 5 bulan dan masih diberikan ASIX. Teman2 terkejut dengan berita kehamilan saya dan bertanya apa yang akan saya lakukan, apakan akan menjalani operasi C-secs lagi atau justru akan mencoba melahirkan secara normal (Vaginal Birth? Sebelumnya saya sudah 3 kali melahirkan melalui operasi C-secs. Pertama kali mendengar tentang adanya teori “melahirkan normal setelah 3 kali operasi C-secs (Vaginal Birth After 3 C-secsà VBA3C)”, saya langsung berpikir,  “gila kali ya! Ga mungkin ah ngelahirin normal habis 3 kali ceasar”! saya ini dokter dan tahu bahwa VBAC itu beresiko tinggi terhadap robeknya uterus. Mengenang pengalaman operasi C-sec yang tidak menyenangkan Operasi C-secs saya yang terakhir begitu buruk dan menyiksa. Yang pertama seperti “okelaah, ga begitu buruk”, kedua “Astaghfirullaah, harus operasi lagi ya?, dan yang ketiga, “ya Allah yg maha kuasa, mengapa Engkau buat aku harus operasi lagi”. Pengalaman yang terakhir ini betul-betul tidak menyenangkan dan sangat menyakitkan. Dokter memutuskan untuk “mengangkat” bayi saya pada usia kehamilan 35 minggu. 3 jam setelah melahirkan, ia harus tetap di Neonatal intensive care unit (NICU) karena komplikasi paru-paru. Haruskah saya mengulanginya lagi? Ataukah ada pilihan lain yang lebih nyaman untukku dan bayiku? Saya beruntung mempunyai banyak teman yang mendukung dengan berbagi pengalaman dan membantu saya membuat keputusan yg terinformasi (informed choice) melalui berbagai jurnal penelitian dan laporan. Meskipun sudah pernah mendengan tentang VBAC setelah bayi pertama saya lahir, tidak pernah terpikir hal itu dapat dilakukan tanpa resiko-resiko. Teman saya, Dani, berhasil melakukan VBA3C tetapi jarak antara kelahiran dan hamilnya lebih dari 2 tahun, sedangkan saya hanya 5 bulan. Lalu hal itu terjadi. Teman saya, Rachael, menceritakan tentang seorang ibu yang sukses menjalani VBA4C. Jarak antara kelahiran dan hamilnya sama dengan saya, 5 bulan. Saya kagun dengan kemampuannya. Mencari dukungan Tujuh bulan menuju tanggal perkiraan kelahiran, saya membuat keputusan untuk mencoba VBA3C. Saya mulai mencari bidan atau dokter yang mau mendukung dan membantu saya menjalaninya. Selama 2 minggu usaha saya tidak membuahkan hasil. Kebanyakan mereka skeptis terhadap rencana saya. Memasuki usia kehamilan 4 bulan, suami memberi ultimatum –segera temukan dokternya atau ubah batalkan VBA3Cnya. Saya kehabisan akal dan meminta pertolongan Allah. Beberapa hari kemudian, doa saya terjawab. Kami menemukan dokter kandungan yg pro-kelahiran-normal dan berpengalaman sukses menangani beberapa VBA2C. Saya memohon kepada suami, “paling nggak konsultasi dulu sama dokter ini deh  ya sebelum beralih ke operasi ceasar? Ini badanku dan aku yang akan mengalami sakit dan traumanya. Aku ga bermaksud menyakiti bayi kita, tapi setidaknya biarkan aku menemuinya dulu baru kita buat keputusan setelahnya.” Suami setuju untuk menemui dokter tersebut. Keberuntungan bersama kami, dokter tersebut setuju untuk membantu saya melakukan VBA3C. Dia mengatakan, “setiap rahim ibu –apakah sudah pernah melahirkan normal ataupun operasi C-secs- akn kembali ke kondisi normal 3 bulan setelah melahirkan. Saya akan membantumu jika kamu punya  keberanian dan keyakinan untuk mencoba VBA3C.” Dia juga menjelaskan bahwa tanda-tanda yang harus diperhatikan jika terjadi pecah uterus adalah rasa sakit di rahim ketika disentuh dan/atau bercampurnya darah dalam urin. Jika tanda-tanda itu tidak muncul maka berarti aman. Keyakinan suami meningkat setelah mendengar pejelasan sang dokter. Matanya memancarkan kepercayaan dan harapan. Hatiku begitu lega dan penuh rasa syukur. Setelah bertemu sang dokter suami menjadi termotivasi dan mulai meneliti tentang VBAC. Kami melihat video kelahiran alami (gentle birth) di youtube bersama-sama. Akhirnya, saya tidak sendirian menempuh semua ini. Plan B Dua bulan sebelum melahirkan, sang dokter tidak setuju rencana saya untuk melahirkan secara alami, yang berarti tidak menggunakan bantuan medis seperti vacuum suction. Saya bermaksud percaya kepada tubuh dan bayiku, tetapi sang dokter menolakuntuk membantu saya menjalani VBA3C secara alami. Sekali lagi, saya merasa tersungkur. Dalam usaha terakhir saya meraih dukungan, saya menghubungi orang-orang yang mungkin dapat membatu saya melalui sosial media . saya menawarkan kesempatan untuk menjadi bagian dari pengalaman melahirkan langka kepada sebuah komunitas online yang kemungkinan disana terdapat para bidan. Tak seorangpun merespon Pada januari 2012, sebukan sebelum melahirkan, Mas Reza Gunawan –seorang praktisi self-healing merespon dan menyarankan unassisted birth (UC). Setelah lanjut meneliti mengenai UC, saya membawa ide ini kepada suami yg kemudian langsung menolaknya. Keadaan berubah setelah kami bertemu Mas Reza, yang dengan sabar membagi kebijaksanaan dan pengetahuannya dengan kami. Saya juga sangat gembira dengan kesempatan bertemu istrinya, Dewi Lestari, yang seorang penyanyi dan penulis terkenal. Suami meneruskan usahanya meneliti kelahiran alami dan unassisted. Dia melahap bacaan tentang melahirkan di rumah (home birth), emergency pasca melahirkan, dan beberapa topik yang relevan. Dalam hati, saya agak bingung dan kuatir bagaimana kami akan melakukan semuanya sendiri. Bisakah suamiku melakukannya? Dia cuma punya kurang dari sebulan untuk mempersiapkan dirinya dan saya tidak yakin waktunya cukup. Hari itupun tiba 29 januari 2012, saya bertemu dengna seorang bidan yang bersedia mensupport saya selama proses melahirkan. Setelah berdiskusi selama 4 hari, saya berhasil meyakinkannya bahwa kami siap! Esok harinya, saya mengalami sedikit pendarahan dan kontraksi setiap 5 sampai 8 menit. Bidan datang, setelah dicek dia mengatakan bahwa pembukannya baru 1cm. Tidak ada kemajuan selama 2 hari berikutnya, dengan saya kadang- mengalami kontraksi. Saya dapat merasakan sibayi bergerak-gerak dan tetap meyakinkan si bayi bahwa ia tidak sendirian dan kita dapat melalui semua ini bersama-sama. 1 februari 2012, kontraksinya bertambah kuat, berjarak setiap 1 menit. Bidan datang dan mengecek, pembukaan saya 2 cm. Ketika itu, saya merasa sangat lelah dan menjaga energi dengan madu dan kurma. Semua berjalan lancar –tidak ada tanda-tanda pecahnya uterus walaupun mengalami kesulitan mengatasi kontraksi-kontraksi yang terjadi. Jam 11 malam, pembukaannya sudah 4-5 cm. Ketuban saya pecah tak lama setelah tengah malam, dan pembukaan saya 7-8 cm. Saya masuk ke dalam kolam air hangat dan airnya berubah hijau. Bidan mengecek detak jantung bayi saya dan menyatakan ia baik-baik saja. Tidak lama setelahnya, kepala bayi saya keluar. Saya dapat merasakan rambutnya yang lembut. Tiba-tiba bidan menyuruh saya merubah posisi menjadi duduk karena airnya tidak cukup tinggi dan bisa membahayakan si bayi. Setelah ini, si bayi keluar dan suami diminta membuka talipusar yang membelit lehernya. Faiza lahir dengan selamat ke pelukan ayahnya.. :D Saya berhasil! Saya mematahkan mitor bahwa sekali Ceasar, seterusnya akan ceasar. Ini tidak akan terjadi tanpa kepercayaan saya pada Allah, tubuh dan bayiku. Terima kasih banya kepada teman-teman saya - Rachael Ouwejan, Dani Arnold McKenny, Nadine Ghows, Zaszima Abu Samah, Al-Amirah Najwa bt Mokhtar, Maria Zain, Lynsey Bartram, Emma Kwasnica dan Natacha Dority- yang sudah mendukung dan menyemangati saya dalam suka dan duka. Setiap wanita dapat melahirkan secara normal. Itu adalah pengalaman yg alami, sama ketika kita dilahirkan untuk bisa bernapas. Percaya pada Allah, percaya pada tubuhmu dan biarkan alam menuntunmu.