Mohon tunggu...
Amania Khoiru Nisa
Amania Khoiru Nisa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Jember

mahasiswa Perencanaan WIlayah dan Kota Universitas Jember.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pemukiman Kumuh: Sumber Penyakit

6 Oktober 2022   01:22 Diperbarui: 6 Oktober 2022   01:23 75 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

 Setiap makhluk hidup membutuhkan tempat tinggal, baik itu hewan maupun manusia. 

Tempat yang nyaman untuk beristirahat, melepas penat, tempat untuk berkumpul bersama keluarga, juga tempat berlindung dari segala marabahaya yang memungkinkan terjadi diluar sana. Masing - masing memiliki standar tersendiri tentang seperti apa tempat tinggal yang layak huni. Tentu standar manusia tidak dapat disamakan dengan standar tempat tinggal hewan terutama hewan liar.

Apakah itu tempat tinggal?

Sebuah tempat tinggal biasanya berwujud sebuah bangunan rumah, tempat untuk berteduh, atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia untuk tinggal. Istilah ini dapat digunakan untuk rupa-rupa tempat tinggal lainnya, mulai dari tenda-tenda nomaden hingga apartemen-apartemen bertingkat. Dalam konteks tertentu tempat tinggal dapat memiliki arti yang sama dengan rumah, kediaman, akomodasi, perumahan, dan arti-arti yang lainnya.

Kesatuan sosial yang tinggal di sebuah tempat tinggal disebut sebagai rumah tangga. 

Pada umumnya, rumah tangga adalah sebuah keluarga, meskipun begitu rumah tangga dapat berupa kelompok sosial lainnya, seperti orang tunggal, atau sekelompok individu yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kelompok masyarakat agraris dan industrial terdiri dari rumah tangga-rumah tangga yang tinggal di tempat tinggal yang bermacam-macam jenisnya, tergantung jenis pekerjaannya.

 Keluarga sendiri merupakan satuan unit sosial terkecil yang kemudian terbentuklah lingkungan, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan Negara.

Meningkatnya jumlah manusia mau tidak mau harus berimbang dengan ketersediaan tempat tinggal. Tempat tinggal ini membutuhkan lahan yang seharusnya mencukupi kebutuhan manusia, baik manusia hidup dan manusia yang sudah mati juga membutuhkan tempat tinggal terakhirnya.

Permintaan lahan yang meningkat tidak semudah itu untuk dipenuhi. Luasan tanah yang disediakan bumi terbatas. Tidak seperti barang produksi lainnya, yang jika permintaan bertambah maka produksi juga meningkat, namun luas tanah yang dimiliki bumi terbatas dan tidak bisa ditambah. 

Masalah ini lah yang menjadikan manusia berpikir kreatif dengan cara menemukan solusi rumah vertikal. Rumah -- rumah yang dibangun vertikal ini kemudian dikenal dengan nama apartemen dan rumah susun.

Di kota -- kota besar yang ramai pertambahan penduduk mulai menerapkan pembangunan rumah vertikal. Pertambahan penduduk di kota disebabkan banyaknya masyarakat desa yang melakukan urbanisasi dengan harapan akan menemukan kehidupan yang lebih baik di kota. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan