Mohon tunggu...
Amanda Mutoharoh
Amanda Mutoharoh Mohon Tunggu... Astrophille

Mahasiswi Komunikasi loves write,read and just want to share anything, Let's Read!

Selanjutnya

Tutup

Diary

Berbagi Cerita dengan Si Sulung

20 Januari 2021   19:27 Diperbarui: 20 Januari 2021   19:40 56 3 0 Mohon Tunggu...

Sebagai anak perempuan yang pertama  sedari kecil selalu serba ada dan harus selalu bisa, suatu hari akan muncul perempuan atau lelaki kecil lainnya di sebuah keluarga bukan hanya satu tapi tiga segelintir makhluk yang mempunyai data diri berbeda-beda pastinya. awalnya memang sangat teramat senang mempunyai buntut kecil yang imut nan lucu, setelah beranjak sedikit remaja rupanya banyak bising tangis sebentar yang sering terjadi. iya namanya juga anak kecil, sebagai sulung yang paling utama memiliki 4 bersaudara awalnya terbilang easy dan happy. Semakin ramai semakin banyak rejeki, gitu kata ibu-ibu di rumah. yaudahlah ya, gabisa di salahin juga mereka yang menghasilkan kami  ini.

Di suatu pagi yang hujan, umur si sulung beranjak dewasa singkat cerita menjadi mahasiswi semester 7 yang sedang menginjak usia 20 Tahun sudah di bumi dengan memikirkan satu hal kecil yang merambat persis seperti pohon anggur yang ingin berbuah, ya semua-muanya masuk ke dalam alam pikir bahkan hatinya yang sangat mudah rapuh tapi tidak di ketahui banyak orang. Tentu saja, si sulung utama harus menjadi tameng dan terlihat easy to handle bahkan menjadi harapan utama yang ayah dan bundanya inginkan. Lucu bukan? ah tidak, itu sedikit tidak menyenangkan untuk di bayangkan.

Setiap masing-masing dari kita adalah rangkaian mimpi yang sifatnya beberapa belum terwujudkan, hebatnya beberapa sudah. seseorang pernah berkata "Kita itu punya keinginan,tapi akan selalu ada keadaan yang menjawabnya" masih di genggam telfon pada malam itu, seperti ditiupkannya angin melalui jendela kaca yang menyadarkan pikiran-pikiran yang tenggelam. untung belum hanyut,hfft.

Tidak dapat dipungkiri bahwa nasi goreng buatan seorang ayah selalu dapat di terima dengan mudah oleh mulut, entahlah kenapa ia tidak memasak tiap hari saja? kenapa harus ibunda yang menyiapkan sarapan pagi,siang di sambung malamnya. Oh iya, apa karena lelaki hanya menyadari tugasnya adalah mencari nafkah kerja dan kerja? i don't know, tapi syukurlah ayah biasanya sesekali membantu sang ratunya mencuci piring,memasak nasi goeng tanpa kecap tapi rasa nasi goreng sungguhan. Well, sebagai si sulung selalu ada rasa tanggung jawab sedari kecil mengalah agar adik-adiknya tidak menangis menjadi tameng disaat adiknya kesusahan, sedih, padahal nih ya padahal si sulung yang dirasa tidak ingin mengalah dan mempertahankan apa yang ia ingin itu teramat kuat. tapi lagi lagi keadaan mengalihkannya, tersadar akan  hak dan tanggung jawabnya yang harus menjadi role model bagi penerusnya kelak. belum lagi beberapa cita yang di bangun, tidak sejalan dengan apa yang di inginkan ayah bundanya. ya walaupun tidak ada tuntutan beberapa sepasang mata itu, tidak bisa dipungkiri dengan nada sedikit ragu dan berujung pada "Terserah kamu, asalkan ada tanggung jawabnya"

Klasik, tetap menjadi bagian sulung yang tangguh dan tak terlakan adalah nasib yang harus di jalani untuk hari ini juga nanti.

VIDEO PILIHAN