Mohon tunggu...
Amanda Nasution
Amanda Nasution Mohon Tunggu... Freelancer bloger

https://www.linkedin.com/mwlite/me

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Review Film "Stuber"

26 Juni 2019   09:56 Diperbarui: 26 Juni 2019   11:06 0 0 0 Mohon Tunggu...
Review Film "Stuber"
Sumber: MovieWeb doc

Stuber! Mereka menyebutnya ini film laga komedi, tapi aku bilang sih ini film ada drama percintaan dan relationship orang tua dan anak. Jadi komplit lah film ini. Komplit dengan konflik yang dijadikan isi film. Tapi tetep sih, kentalnya lebih ke action yang mengisi scene film sebesar 60%, komedi 30% dan drama 10%. Yah, secara dua bintang utamanya dikenal sebagai bintang laga, plus atlit bela diri.

Cerita dimulai dimulai dari upaya penangkapan gembong mafia yang aktif memasarkan narkoba, Tedjo yang diperankan oleh Iko Uwais. Rekan Vic (Dave Bautista) di corp kepolisian tewas saat berkelahi dengan Tedjo. Ini yang membuat Vic bertekad menangkap Tedjo dan menggulung habis bisnis haram Tedjo. Dua tahun Vic mengikuti sepak terjang Tedjo, agar bisa meringkusnya. Sayangnya Vic mengalami masalah dengan penglihatannya, sehingga membutuhkan taksi online untuk bisa mengantarnya ke tempat transaksi.

Stu yang diperankan oleh Kumail Nanjiani menjadi driver taksi online Vic. Hanya menginginkan bintang 5 dari para pelanggannya, Stu jadi kebawa aksi dan ambisi Vic memerangi Tedjo. Stu di jadikan tokoh yang lucu dengan segala keluguan dan ke polosannya. Stu menjadi bumbu dari segala aksi laga antara Tedjo dan Vic. Di beberapan scene Vic terpengaruh keluguan Stu dan ada beberapa kali ribut, karena Vic yang mengalami gangguan penglihatan jadilah adegan itu lucu. Tapi ntah kenapa, komedi yang diberikan rada nanggung. Mungkin harusnya bisa lebih digalih lagi, biar ga terasa seperti kosong gitu.

Tedjo. Sebuah hal yang buat aku mengernyitkan dahi sih, Tedjo yang identik dengan Indonesia menjadi nama salah satu tokoh. Walau pun antagonis. Di perankan oleh Iko Uwais, yang merupakan gembong penjahat pengedar narkotika. Mungkin baru kali ini aku melihat wajah lebih ke tengil seorang Iko Uwais. 

Lengkap dengan bahasa tubuh yang menantang siapa pun yang menghalanginya. Sayangnya porsi Tedjo di film ini tidak lebih dari seorang tengil yang siap baku hantam dengan siapa pun, kapan pun, dimana pun. Seandainya di kasih porsi lebih, kemudian di beri versi lain seorang Tedjo, aku yakin karakter Tedjo akan makin kuat dan keren. Makin mengkomplitkan isi film ini.

Kumparan doc
Kumparan doc
Dari sisi gambar, aku sih merasa terganggu dengan kamera move yang ngambilnya terlalu dekat. Aku jadi ga bisa liat dengan jelas adegan fightingnya. Padahal jualan utama film ini yang baku hantamnya. 

Dan drama panjang buat mempertegas buruknya hubungan anak dan ayah, kemudian drama percintaan tak sampai Stu yang terlihat lewat video call. Padahal drama ini cukup disampaikan dalam 3-4 scene loh, kemudian bisa ditambah scene dari sisi Tedjo. Loh, kok aku jadi ngatur-ngatur. heehehehehe.

Buat adegan fightingnya sih asik ya, kecuali yang pengambilan yang kedekatan tadi. Basic Iko yang pesilat dan Dave yang juga atlet gulat WWE, kemudian menjadi adegan laga yang asik dan luwes dengan arahan kreografi Iko Uwais.

Aku sih ga rekomendasi buat ditonton anak-anak ya, karena ada beberapa adegan yang lumayan sadislah, walau sudah dipoles lumayan halus, jadi ga terlalu berdarah-darah. 

Buat rating sih aku pikir 6,5/10 ya. Tapi aku mau nonton sekali lagi deh, harus nunggu Juli 2019 nih.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x