Mohon tunggu...
Amak Syariffudin
Amak Syariffudin Mohon Tunggu... Hanya Sekedar Opini Belaka.

Mantan Ketua PWI Jatim tahun 1974

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Ulah "La Nina" yang Keterlaluan

22 Februari 2021   14:36 Diperbarui: 22 Februari 2021   15:19 115 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ulah "La Nina" yang Keterlaluan
(KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO)

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, tidak bisa berkomentar banyak dan kurang senyumnya. Tegang terus, karena sepertiga wilayah kekuasaannya terendam air Kali Ciliwung dan sungai-sungai kecil yang meluap karena langsung menerima air hujan berhari-hari di atas ibu kota: Jakarta. 

Satu kalimat komentarnya yang bisa dicatat, bahwa "curah hujan (air) sekarang melebihi kapasitas drainase kota". Yang bisa saya catat komentarnya ketika banjir besar merendam setengah ibu kota pada 1 Januari 2020 ialah "saya tidak menyalahkan siapa-siapa". Dia salahkan turunnya air dari "daerah atas" (kawasan Bogor/Jabodetabek). 

Namun kritik masih dilontarkan kepadanya, karena banjir besar Jakarta 2020 yang mencapai ketinggian antara 1-3 meter itu menewaskan 19 orang tenggelam atau tersengat listrik. Sedangkan di kabupaten Bogor sendiri 16 orang tewas.

Banjir sekarang lebih parah. Sang Gubernur juga tidak bisa berbuat apa-apa meskipun unit-unit mesin pompa air sudah ditambahkan dari pengalaman banjir besar Januari 2020. Malahan sekarang dikerahkan mobil-mobil damkar untuk menguras banjir dan perahu-perahu karet untuk pertolongan pengungsi sudah ditambah, tetapi masih juga ada korban jiwa. Antara lain kakek yang pintu rumahnya dikunci tak bisa keluar dan tenggelam didalam rumahnya. 

Di Bekasi, Hamzah beserta isteri dan anaknya diangkut perahu karet SAR. Tiba-tiba mesinnya mati dan perahu terbalik. Isteri dan anaknya hilang ditelan arus banjir. Juga ada beberapa tragedi menimpa keluarga akibat banjir itu. 

Menurut catatan resmi BPBD DKI Jakarta, sekurang-kurangnya 5 orang tewas. Jangan tanya berapa milyar rupiah kalau ditotal kerugian materiil penduduk akibat kerusakan perabot rumah tangga, unit-unit elektronika sampai pun mobil dan sepeda motor yang tenggelam. Barang dagangan pun hancur berantakan. Kata Ketua HIPMI Jakarta, kerugian pedagang ritel diperkirakan Rp. 2,5 milyar.  Di kabupaten Bogor pula, luapan air sungai Cibodas menyapu bersih satu keluarga berikut rumahnya.

Jadi, kalau mau tahu biang keroknya, jangan ditanya-tanya mengapa tidak bisa mengantisipasi sebelum/sewaktu banjir itu? Salahkan saja mbak La Nina yang kebangeten mengairi bumi Nusantara (dan Asia Tenggara) sejak akhir tahun lalu yang menyebabkan banjir luapan, banjir bandang dan tanah longsor. Dimanapun terjadi, pasti ada korban jiwa dan harta benda. Termasuk tanaman padi beratus hektare puso. 

Sebenarnya, sejak akhir tahun lalu bumi berulah. Alam sudah geregetan terhadap ulah manusia, sehingga hampir di seluruh dunia terjadi bencana alam. Dari gunung berapi aktif, gempa bumi tektonik dan vulkanik, topan dahsyat, angin puyuh, hujan lebat, banjir, tanah longsor, tanah retak sampai pun terjadi latah demonstrasi politik yang ricuh.

Namun, dari setiap peristiwa bencana alam, bisa dijadikan pelajaran pahit. Seperti  khusus yang terjadi di Ibukota, mungkin Gubernur dan Pemprov menyiapkan instalasi antisipasinya berdasar banjir besar 2020. Tapi tidak menyana, itu masih jauh kalah dengan kebangkitan alam. Atau Jakarta sudah sarat manusia. 

Sayangnya tidak semua berperilaku sebagai orang kota. Benar kiranya dulu pak Ali Sadikin menyebut Jakarta sebagai "Desa Besar" (the Big Village). Indikasi kenyataannya adalah tumpah-ruahnya sampah rumah tangga di Ciliwung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN