Mohon tunggu...
Amak Syariffudin
Amak Syariffudin Mohon Tunggu... Jurnalis - Hanya Sekedar Opini Belaka.

Mantan Ketua PWI Jatim tahun 1974

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Meraba Garis Kuning Permusuhan Korea Utara dan Selatan

8 Desember 2020   13:09 Diperbarui: 8 Desember 2020   13:18 190
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya tanya, bahaya apa? Tapi tidak dijawab. Terus-terang, saya tidak tahu bagaimana sebenarnya pemandangan maupun kehidupan riil penduduk Pyongyang, karena tidak bisa keluar hotel. 

Saya pun harus menghormati, karena menjadi tamu negara mereka. Yang saya lihat dari jendela hotel, setiap pagi dari para penghuni yang terbagi dalam kelompok-kelompok flat, nampak para pekerja lelaki atau perempuan yang kesesemuanya berseragam biru-tua dengan tergesa-gesa membentuk barisan. 

Yang di depan membawa bendera merah, lalu berangkat ke tempat kerja sambil bernyanyi lagu mars wajib. Kemudian para perempuan, beberapa orang darinya sambil menggendong bayinya, turun ke jalanan untuk menyapu. Ditugaskan membersihkannya. Setiap hari terlihat pemandangan seperti itu. Bagaikan menyaksikan robot-robot hidup melakukan kewajibannya macam itu.

Panmunjom, Desa Terpencil Yang Kondang.

     Mungkin paling terkesan bagi saya dari kunjungan selama seminggu lebih dikelilingkan ke beberapa obyek, pabrik dan kota menaiki dua sedan-hitam maupun kereta api, yang kesemuanya bagian dari  propaganda gambaran "kebesaran" Korut, ialah ketika dua hari baru datang ke negeri itu, ialah dengan  sedan-hitam itu menuju Kaesong. Kota di bagian selatan dekat dengan Garis Demarkasi (DMZ) Korea Utara-Korea Selatan. Maklum, saat itu sedang genting-gentingnya hubungan kedua negara sebangsa itu. Korut sedang mempersiapkan kepala negara baru, karena Kim Il Sung sedang sakit dan mempersiapkan anaknya, Kim Yong Il menggantikannya. Ada juga tokoh dari Partai Pekerja (Partai Komunis) yang lebih tua dan menonjol dicalonkan  oleh Kongres Rakyatnya, namun tiba-tiba ketika naik mobilnya ditabrak truk yang melaju kencang dan tewas! Sudah pasti ada kecurigaan kalangan diplomatik asing di sana: peristiwa itu sebagai pembunuhan politik.

     Meski memasuki Kaesong, namun tak bisa tahu bagaimana "wajah kota" itu, karena langsung dibawa ke suatu gedung besar yang halamannya dipenuhi anak-anak sekolah berseragam baju putih rok/celana hitam dan berdasi merah. Mereka mengelu-elukan kami sesuai gaya yang dikomandokan. Juga puluhan ibu-ibu tua berkumpul menyambut kami. Rombongan kami pun digiring memasuki gedung itu. Kami duduk berhadapan dengan ibu-ibu itu. Mulailah sandiwara gaya politik komunisme Korut. Ibu-ibu itu bergantian bercerita sambil menangis, kalau keluarga mereka dipisah-pisahkan maupun tewas dalam peperangan akibat imperialisme dan kapitalisme Korea Selatan dan Amerika Serikat. Saya berbisik kepada ketua rombongan, Umar Khattab dari Departemen Penerangan: " Model sandiwara rakyat, mas." Dia tersenyum mengangguk. Kira-kira satu jam acara tersebut, lalu kami diminta memberikan sambutan. Bagian saya bicara yang diterjemahkan pendamping yang bisa berbahasa Inggeris itu, bahwa "kami iba terhadap derita ibu-ibu itu dan bersimpati." Sulit berkata dalam sandiwara politik selain apa yang saya ucapkan itu.

     Usai acara itu, kami dinaikkan sedan-hitam itu melaju arah selatan luar kota Kaesong. Jalan sudah tidak beraspal lagi dan sungai yang kami seberangi tanpa jembatan tetapi cukup dangkal untuk dilewati mobil-mobil itu. Kanan kiri penuh tetumbuhan belukar dan alang-alang melebihi tinggi manusia. Tibalah pada pinggiran utara Garis Demarkasi. Kami digiring memasuki salah satu lubang perlindungan yang dijadikan benteng yang diperlengkapi senapan mesin berat. Seorang perwira tentara Korut menjelaskan dan diterjemahkan pendamping kami, katanya "di seberang itu tentara imperialis Korsel dan Amerika". Memang, dikejauhan nampak batas pagar yang seolah benteng Korsel, namun tidak nampak ada tentara.

     Dari tempat itu kami bermobil lagi menyusuri jalan berdebu dan belukar lebat. Di dalam belukar itu berdiri dinding-dinding beton penghalang jalan-antitank. Tiba-tiba seorang tentara Korut muncul dari belukar sambil membawa makanan. Kaget karena tidak menyangka ada mobil lewat, cepat-cepat menyusup hilang ditelan belukar dan alang-alang di seberang jalan. Jelas membuktikan, bahwa di dalam belukar itu terdapat benteng-benteng pertahanan militer. Kemudian ketika melalui sebuah desa terdiri dari beberapa rumah gubuk dan hamparan ladang pertania, yang nampak menonjol justru ada sebuah tiang besi yang tinggi berada di tengah-tengah desa. Dipucuk tiang itu terdapat pengeras-suara menghadap arah empat jurusan. Lagu-lagu mars terdengar keras, diseling suara menggebu-gebu bernada propaganda.

     Kira-kira setengah jam mengarungi jalan tanah itu, tibalah kami pada daerah yang lapang. Sebuah bangunan bertingkat dua berdiri di depan mencegat kami, karena letak bangunannya melintang menutup jalan. Mobil kami berhenti didekat gerbang masuknya dan kami pun dipersilakan memasuki gedung dengan tatapan mata dari beberapa tentara Korut yang berdiri memandangi kami Ketika ditunjukkan ruang koandan, ruang operasional (meski tidak boleh masuk) dan tidak luput menunjuk arah selatan, pada bangunan besar pula milik PBB dan Korsel.  Itulah dua "markas penjagaan perbatasan" yang saling bertatapan dari arah utara dan selatan  di desa Panmunjom yang selebar 800 meter dan sepanjang 400 meter serta terpencil, namun kondang namanya di dunia internasional, 210 km selatan Pyongyang. Kami telah melakoni perjalanan lebih dari sekian ratus kilometer bersedan hitam itu, belum termasuk harus belok ke Kaesong. Pantas harus berangkat pagi sekali dan mobil itu melaju dijalan raya yang sepi kendaraan.    

Garis Kuning Yang Sakral.

     Menuruni beberapa anak tangga gedung itu arah selatan, kami memasuki bangunan berbentuk barak-barak militer yang dicat biru tua. Kalau tak salah, terdapat dua barak di kanan-kiri sebuah lorong lebar di tengah-tengahnya. Sebenarnya, lorong itu bagaikan "penghubung" antara Korut-Korsel. Tetapi, tepat di tengah-tengah dibatasi  dinding melintang  setinggi cuma kira-kira dua puluh sentimeter saja. Dibagian atas dinding itu dicat warna kuning kuat memanjang ke kanan-kiri hingga ke bangunan barak di kanan-kiri. Garis kuning itupun seolah merambat dinding barak dan masuk ke dalam salah satu jendelanya. Jangan coba-coba melangkahi dinding pendek dan garis kuning tersebut tanpa ijin. Bisa jadi umpan peluru. Apakah dari pihak Korut atau Korsel.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun