Mohon tunggu...
Amak Syariffudin
Amak Syariffudin Mohon Tunggu... Hanya Sekedar Opini Belaka.

Mantan Ketua PWI Jatim tahun 1974

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Bila Sektor Bisnis Ambruk oleh Covid-19

19 Maret 2020   07:48 Diperbarui: 19 Maret 2020   13:16 232 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bila Sektor Bisnis Ambruk oleh Covid-19
Sumber: Kompas.com

Bila Sektor Bisnis Ambruk oleh COVID-19, bencana sosial jelas bakal mencekik kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Virus itu sudah meruntuhkan tata laksana bisnis banyak perusahaan internasional. Lambat atau cepat pasti menggerogoti bisnis kita. Seperti masalah sektor seretnya ketersediaan bahan baku yang berasal dari impor karena faktor tenaga kerja dalam produksi maupun kelangkaan sarana transportasi laut dan udara dari negara asal. 

Tergangggunya beberapa produksi utama kebutuhan masyarakat, sampaipun kondisi psikis ketakutan pada virus itu, bisa berpengaruh terhadap stabilitas tenaga kerja, kini mulai merambah management bisnis/industri kita. Korban virus yang mampu menggoyahkan perusahaan besar di luar negeri dalam bulan ini mulai menimpa perusahaan penerbangan United Airlines (AS) yang melakukan PHK ribuan karyawannya karena sepi penumpang. 

Nasib demikian bisa saja menular pada perusahaan-perusahaan besar/menengah kita. Meski "dihibur" oleh pernyataan-pernyataan "optimisme" pimpinan organisasi bisnis maupun beberapa pebisnis, bahwa bisnis kita solid dan krisis akan lewat, sebenarnya cuma buat "membesar-besarkan hati" terhadap ancaman bahaya Covid-19 itu.

Perintah Presiden Jokowi kepada Menterinya agar memberitahu pebisnis untuk tidak melakukan PHK karyawannya, adalah gambaran ancaman Covid-19 yang bisa menimpa sektor perekonomian kita. Dalam sempitnya lapangan pekerjaan bagi generasi siap-kerja bila ditambah pengangguran akibat PHK, jelas sangat mengganggu stabilitas kehidupan sosial ekonomi rakyat. Tingkat pertama adalah membuat kepanikan.

Pemerintah pun sudah panik. Presiden menganjurkan agar pegawai negeri (aparat sipil negara/ASN) bekerja dirumah sedikitnya dua minggu. Bagaimana "kerja dirumah" kalau setiap pegawai tidak punya komputer dan terhubung jaringan internet? 

Apa yang dapat dikerjakan dari rumah? Instruksi agar siswa/mahasiswa diliburkan dua minggu guna menghindari kontak tubuh, nyatanya banyak yang bukannya diam di rumah, tetapi berkeliaran bersama kawan-kawannya di jalanan. Malahan, banyak mahasiswa tidak menerima mata kuliah dirumah. Dosennya belum siap pola teknik pengajaran demikian. 

Kerja di rumah bagi ASN bisa berjalan atau efektif? Jangan-jangan menganggap sebagai "hari libur", sehingga dimanfaatkan bertamasya atau berkumpul-kumpul? Lalu muncul anjuran mengurangi penularan virus dengan cara berhubungan berjauhan antarmanusia (social distancing). Tidak bergandengan tangan atau berjubel rapat. 

Tak terkecuali (kalau bisa) yang berpacaran berat. Susahnya, cara itu membutuhkan ruang yang agak luas. Bisakah diterapkan di mana saja? Malahan sudah terjadi di beberapa Rumah Sakit, aparat mediknya ikut-ikutan panik yang membingungkan dan menyusahkan orang yang ingin tes atau berobat takut tertular.

Jadi, kunci suksesnya adalah sikap rasa berkewajiban dan berdisiplin dari masyarakat menyikapi sebaran virus itu. Para pemikir dalam Pemerintahan Pusat dan Daerah bersama ahli dibidangnya berusaha mencari cara menghindari pandemi Covid-19.

Nampaknya juga demi menghindari kepanikan publik melakukan cara "menyembunyikan" data dan fakta korban virus itu, sehingga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) minta keterbukaan informasi demi kepentingan mereka yang berobat. 

Kita memaklumi "kepanikan" Pemerintah menghadapi bahaya penyebaran cepat Covid-19. Selain berupaya mengobati dan memberantas virus itu, juga berusaha mencegah kepanikan masyarakat mengenai dampak luasnya yang bakal membawa tragedi kemanusiaan dan kerugian yang besarnya tak bisa kita bayangkan. Sebab bisa saja merembet pada hal-hal bersifat politis seperti terhadap stabilitas keamanan dan kesejahteraan rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN