Mohon tunggu...
Alyashafa Mutiara
Alyashafa Mutiara Mohon Tunggu... Undergraduate Public Relations Student

Hello! Welcome and enjoy it!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

#BlackLivesMatter dengan Implementasinya sebagai Indonesians kepada #PapuansLivesMatter

4 Juni 2020   04:03 Diperbarui: 4 Juni 2020   04:43 47 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
#BlackLivesMatter dengan Implementasinya sebagai Indonesians kepada #PapuansLivesMatter
s-3457332-5ed809a3097f364d6d140b22.jpg

Seperti yang sedang marak dibicarakan di seluruh dunia yaitu kasus George Floyd yang dikabarkan tewas setelah di tindih dengan lutut oleh polisi di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 lalu. Kematian George Floyd di tangan polisi berkulit putih Derek Chauvin ini akhirnya membangkitkan masalah bersejarah yaitu “racism” di AS akan perlakuan polisi terhadap ras berkulit hitam. Hal tersebut menimbulkan kemarahan publik yang berakibat demonstrasi besar-besaran di Minneapolis, lalu meluas ke berbagai negara di AS, bahkan hingga ke beberapa negara lain di belahan dunia seperti Perancis. Demonstrasi tersebut adalah sebagai bentuk solidaritas kepada Floyd tetapi sangat disayangkan hal ini berujung kepada pembakaran dan penjarahan dimana yang pada awalnya mereka menyuarakan #BlackLivesMatter dengan damai, namun beberapa oknum menyalahgunakannya sehingga demo ini terkesan brutal dan merugikan.

Dilansir dari Wikipedia, Black Lives Matter (BLM) adalah sebuah gerakan aktivis internasional yang dibentuk pada tahun 2013 lalu, dimulai dari komunitas Afro-America yang aktif dalam menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang berkulit hitam. Kemudian sekarang tagar #BlackLivesMatter ini pun kembali ramai digunakan di seluruh dunia, bukan hanya warga sipil biasa saja melainkan sederet selebritis seperti Billie Eillish, Rihanna, Beyonce, dan Cole Sprouse pun turut mendukung aksi ini dengan menggunakan platform social media yang mereka punya sebagai bentuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi publik terkait hal ini bahkan sampai turun ke jalan untuk menyuarakan protesnya secara langsung.

Tentunya tagar #BlackLivesMatter ini menimbulkan pro dan kontra dalam dunia maya maupun dunia nyata. Terdapat beberapa pihak yang kontra menyebutkan "why not #AllLivesMatter?" Dikutip dari postingan Instagram yang diunggah oleh Billie Eillish, Ia menjelaskan contoh sebuah situasi dimana terdapat lima rumah yang sedang kebakaran dan salah satu rumahnya berisi seorang manusia, lantas mana yang akan diselamatkan terlebih dahulu? Tentunya yang berisi manusia bukan? Jadi intinya adalah betul all lives do matter, tetapi lihatlah kondisinya sekarang, manakah yang sedang dalam bahaya, manakah yang sedang membutuhkan uluran tangan kita? Jawabannya tidak lain adalah mereka orang berkulit hitam yang selama ini selalu terancam keberadaannya dan diperlakukan seperti bukan manusia.

Di tanah air tercinta kita sendiri yang berlandaskan Pancasila dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” masih sangat banyak yang belum pahan akan rasisme. Maka dengan itu munculah tagar #PapuansLivesMatter dikarenakan banyak dari kita yang menyuarakan #BlackLivesMatter tetapi masih menutup mata dan telinga terhadap rasisme di negerinya sendiri dengan menghina saudara kita yang berasal dari timur sana. Menjadikan masyarakat Papua sebagai bahan lelucon, dengan ejekan mereka bau badan, jelek, hingga menyebut mereka dengan sebutan monyet yang tentunya membuat mereka sakit hati. Perkataan monyet tersebut bahkan bukan keluar dari mulut seorang anak kecil atau remaja yang sekedar menjadikan bahan lelucon, melainkan perkataan kejam tersebut keluar dari mulut oknum aparat yang dengan lantangnya Ia berteriak “Hey monyet, keluar!” Hal ini terjadi tahun lalu di Surabaya di sebuah asrama kediaman beberapa mahasiswa yang berasal dari Papua, mereka dikepung karena dituduh merobek bendera pusaka merah putih yang berada di halaman asramanya.

Dikutip dari akun Twitter @louisvoicunt selain itu pada tahun 2016 silam, kejadian serupa seperti apa yang menimpa Floyd terjadi kepada Obby Koyoga yang dipukuli, diinjak, dan didiskriminasi oleh aparat kepolisian, tetapi herannya malah diberikan hukuman empat bulan penjara atas laporan penyerangan aparat yang sedang bertugas. Sungguh sulit dicerna oleh perikemanusiaan dan sangat disayangkan kejadian keji tersebut tidak berhenti hanya pada kasus ini saja. Februari lalu dua orang warga sipil di Papua ditembak oleh aparat hingga tewas dan hingga saat ini pelaku penembakkan tidak diketahui karena pemerintah bungkam akan hal ini. Lalu Eden Bebari yang tewas ditembak oleh aparat keamanan ketika sedang mencari ikan di sebuah sungai areal PT Freeport Indonesia, Ia dituduh sebagai anggota dari Organisasi Papua Merdeka, padahal bukan. Selain itu terdapat 243 jiwa lainnya yang tewas akibat operasi militer Nduga.

Sebagai warga negara yang memiliki akal sehat dan hati nurani ada hal kecil yang setidaknya dapat kita lakukan, diantaranya:

  • Sebarkan postingan-postingan bermanfaat mengenai #BlackLivesMatter dan #PapuansLivesMatter di platform media sosial yang kita miliki yang setidaknya dapat membangun awareness orang-orang disekitar kita terhadap hal ini.
  • Tandatangani petisi yang diharapkan dapat membantu masyarakat Papua  http://amnestyindo.nationbuilder.com/sapumimpi_petition?recruiter_id=182022 
  • Donasi untuk mereka yang masih minim akan fasilitas umum seperti sekolah untuk anak-anak di pedalaman Papua, bantulah mereka berkembang menjadi penerus bangsa ini, dan juga fasilitas kesehatan yang memadai untuk keberlangsungan hidup masyarakat Papua    https://kitabisa.com/campaign/anakpedalamanpapua3    http://kitabisa.com/savenduga
  • Jika kita tidak memiliki cukup uang untuk disumbangkan, kita dapat menonton video ini  https://youtu.be/bCgLa25fDHM
  • Edukasi diri sendiri karena jika tidak dimulai dari diri kita sendiri maka siapa yang akan memulainya? Lakukanlah hal ini dengan membaca dari sumber-sumber yang kredibel dan hindari berita hoaks.
  • Dan yang terpenting adalah jangan hanya bungkam!

Negara kita dianugerahi perbedaan yang sangat indah, berbagai macam suku, ras, agama, maupun bahasa. Dari sabang hingga Merauke sambung-menyambung menjadi satu, yaitu Indonesia. Ciptakanlah kedamaian sebagaimana semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Para pahlawan terdahulu rela mengorbankan darahnya demi kemerdekaan kita sekarang, tidakkah terkesan egois jika kita merusaknya hanya dengan “rasisme” yang pada dasarnya sungguh mudah untuk diubah bila masing-masing dari diri kita dapat menghargai dan menghormati satu sama lain. Mulai sekarang rangkulah saudara kita yang berasal dari timur, jangan lagi ada dinding pembatas antara kita dan mereka, apalagi jika hal tersebut hanya berdasarkan warna kulit tubuh. Karena sesungguhnya apapun warna kulit yang kita miliki itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita menjalani peran sebagai manusia hingga menjadi yang terbaik. #PapuansLivesMatter 

                                                                                                                                        

VIDEO PILIHAN