Mohon tunggu...
AL Wijaya
AL Wijaya Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis "Target Pertama", "As You Know", "Kembali ke Awal"

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Batas (Epilog)

5 Juni 2019   09:31 Diperbarui: 5 Juni 2019   09:31 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Baru saja Ari selesai meletakkan koper tersebut, ada dua anak perempuan kembar mengenakan kaos bergambar Hello Kitty mendatangi wanita tersebut. Mereka terlihat menggemaskan. Ari tersenyum melihat tingkah keduanya.

"Hati-hati. Mama bilang, jangan lari-lari di kereta. Nanti jatuh. Ayo, lekas duduk sana." Wanita itu menyuruh anak-anaknya untuk duduk. Si kembar pun duduk dengan tenang. Wanita tersebut pun berterima kasih pada Ari. "Terima kasih ya..."

"Sama-sama." Ari mengangguk. Ia pun kembali duduk di kursinya.

Ari menyandarkan kepalanya. Ia menarik nafas panjang. Senyum di bibirnya pun merekah.

Ini adalah saat yang tepat bagi Ari untuk membuka halaman baru dalam kumpulan cerita hidupnya. Ari sudah tak sabar. Ia membayangkan akan menjalani hari-hari yang menakjubkan ke depannya.

Setelah semua yang telah Ari lalui, membuat Ari semakin kuat. Hati Ari kini telah mantap. Ia takkan lagi kembali tenggelam dalam lembah kesedihan. Seseorang pernah mengatakan padanya bahwa hidup adalah soal berjalan, bukan berhenti di satu titik.

Ari melirik jaket hitam yang ia letakkan di kantung kursi depannya. Ari tersenyum.

"Selamat pagi kami ucapkan kepada para penumpang kereta api Sinar Fajar. Kereta ini akan berangkat dari stasiun Artapuri menuju stasiun Semarang Tawang. Terima kasih telah memilih jasa layanan kami. Selamat menikmati perjalanan anda."

Ari menoleh ke arah jendela. Ia melihat peron stasiun yang tak terlalu padat. Beberapa orang nampak berjalan ke sana kemari dengan urusan mereka masing-masing.

Ah... Artapuri. Sebuah kota kecil yang menyimpan banyak kenangan bagi Ari. Baik itu kenangan pahit dan juga manis.

Seketika terlintas dalam otak Ari, semua memori yang pernah ia jalani di kota ini. Mulai dari Ari kecil, lalu beranjak remaja, bagaimana ayah dan ibu sangat menyayangi Ari, mengajari Ari cara bermain piano, lalu saat Ari harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal, hidup dalam kegelapan, sampai akhirnya muncul Melani. Semua memori itu takkan pernah Ari lupa sebab itulah yang kini membentuk kepribadian Ari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun