Mohon tunggu...
Alfitriandes Miter
Alfitriandes Miter Mohon Tunggu...

Suka mencoba sesuatu yg kira-kira berguna. Selama ini hanya membaca, membaca dan ... membaca. Ngga tau juga apakah ini waktunya menulis, coba dulu aja. Siapa tau b.e.r.g.u.n.a.

Selanjutnya

Tutup

Iptek

Ledakan Betelgeuse: Discovery.Com Nilai Artikel U.K’s Telegraph Kurang Bertanggung Jawab

7 Oktober 2011   07:03 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:14 255 0 0 Mohon Tunggu...

Sehubungan pemberitaan akan meledaknya bintang Betelgeuse, sebelum ini ada pertanyaan Benarkah Matahari Akan Jadi Dua? Pertanyaan itu berkenaan dengan perkiraan-perkiraan bahwa ledakan Betelgeuse sangat luar biasa besarnya dan akan menyembur cahaya supernova yang dapat menyamai pancaran matahari. Sehingga jika itu terjadi seolah-olah matahari ada dua. Dan bagian bumi yang sedang mengalami malam tetap akan menerima cahaya seperti disiang hari, seolah-olah tidak ada malam.

Kemudian pertanyaannya lain lagi, Akankah Bumi Disapu Habis oleh Supernova ?

Orang tentu dengan sangat mudah jadi khawatir ketika mendengar bahwa sebuah bintang bisa meledak “dengan kekuatan 20 miliar-miliar-miliar-megaton TNT”, dan ledakan itu akan mendekat kepada bumi sehingga akan bisa “mengupas” lapisan ozon bumi.

Namun, ketika sumber berita lain juga menyatakan supernova ini bisa terjadi dengan “segera,” orang tiba-tiba merasa bahwa hari kiamat akan segera tiba sebentar lagi! Seolah-olah ada pesan “siapkan bungker anda sekarang juga!

Sebagaimana pada pertemuan para astronomi, American Astronomical Society (AAS) yang melangsungkan konferensi di Washington DC, menyajikan beberapa hal mengagumkan dari penelitian mutakhir dari para ilmuwan terbaik dunia. Namun, seringkali penelitian ini terdengar agak sedikit menakutkan. Sebagai contoh, “energi yang terkait dengan supernova dan ledakan sinar gamma dengan sangat mudah akan menghanguskan dan merontokan alis mata manusia”, kejadian ini dapat memusnahkan keseluruhan sistem bintang.

Pertanyaan diatas dipicu oleh artikel U.K’s Telegraph, yang berjudul, “Bumi akan disapu bersih oleh ledakan supernova.” (Earth ‘to be wiped out’ by supernova explosion), orang akan berpikir bahwa dengan membuat pernyataan seperti itu, tentu pihak yang melansir punya alasan atau bukti cukup yang menunjukkan akan terjadinya kehancuran global itu, yang sebagian orang dapat saja mengartikannya bahwa itulah kiamat. Namun Ian O’Neill, seorang kontributor news.discovery.com menilai pemberitaan ini sedikit kurang bertanggung jawab.

 Artikel tersebut mengacu pada penelitian yang dipresentasikan dalam AAS oleh Edward M. Sion dan timnya dari Universitas Villanova, Philadelphia. Penelitian mereka menunjukkan bahwa sebuah bintang biner yang disebut T Pyxidis, berlaku agak aneh.

Sampai 1967, T Pyxidis meledak sebagai nova berulang setiap 20 tahun atau lebih. Nova ini disebabkan oleh terhisapnya gas putih dari bintang kerdil pendampingnya. Sebagai kuantitas dari gas yang mencapai batas tertentu, ia akan meledak sebagai nova (ledakan bintang yang meninggalkan bintang utuh). Namun, selama 40 tahun terakhir, pengulangan nova telah berhenti.(news.discovery.com)

Kemudian tim Edward M. Sion telah menyimpulkan bahwa T Pyxidis akan menjadi supernova (dalam hal ini adalah supernova type 1A, yang akan menghancurkan kedua bintang). Masalahnya adalah, T Pyxidis hanya 3.260 tahun cahaya dari kita, ini mendorong para peneliti untuk mengetahui bahwa apakah supernova yang dihasilkan dapat merusak bumi.

Fakta inilah yang merupakan pemicu munculnya judul Telegraph yang menakutkan itu (meski tidak jelas dari mana kutipan ‘akan terhapus’ itu datang - Kerusakan lapisan ozon adalah satu hal, tapi memusnahkan bumi adalah hal lain lagi).

Ray Villard yang turut hadir pada konferensi di DC itu menegaskan bahwa 90 persen artikel Telegraph itu adalah propaganda. Ray menyampaikan hal ini kepada rekannya Ian O’Neill yang kemudian menulisnya di Will Earth ‘Be Wiped Out’ by a Supernova?

Dalam artikelnya itu Ian O’Neill menjelaskan bahwa dalam presentasinya, Sion ditantang oleh salah satu rekannya yang di antara hadirin, Prof Alex Fillipenko dari Berkeley Departemen Astronomi. Lalu sepertinya Sion salah perhitungan dalam menganalisa kemungkinan kerusakan yang dapat terjadi, yang disebabkan oleh supernova Pyxidis T.

Menurutnya, tampaknya Sion telah menggunakan data untuk ledakan sinar gamma (gamma-ray burst - GRB) yang jauh lebih mematikan, yang meledak 3.260 tahun cahaya dari Bumi, jadi bukan supernova. Ledakan T Pyxidis tentu tidak diharapkan untuk menghasilkan sebuah GRB. Semburan Gamma-ray diperkirakan hanya akan dihasilkan oleh sebuah bintang massif (massive star)yang telah mencapai akhir hidupnya sebagai bintang Wolf-Rayet dan runtuh di bawah gaya tarik gravitasinya sendiri. - news.discovery.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x