puspalmira
puspalmira

A wild mathematician

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Jelajah Tahura Djuanda Part 2, "Tersasar Berbonus Pemandangan Apik"

12 Januari 2019   00:31 Diperbarui: 12 Januari 2019   00:37 215 2 0
Jelajah Tahura Djuanda Part 2, "Tersasar Berbonus Pemandangan Apik"
Dokpri

Keluar dari mulut Gua Belanda, saya lanjut berjalan menanjak. Setelah bermenit-menit yang cukup membuat ngos-ngosan, saya dan kawan saja berhenti sejenak untuk memulihkan nafas dan menyantap kudapan yang kami bawa. Kami menumpang duduk di sebuah warung yang berdiri di pojok persimpangan jalan.

"Kalo yang kiri ke penangkaran rusa, yang kanan ke curug (air terjun)" jawab ibu pemilik warung ketika ditanya oleh pengunjung yang lewat. Saya tidak tahu mana jalur yang benar karena tidak ada petunjuk arah lagi. Sebelah kanan adalah jalur utama sedangkan sebelah kiri adalah jalan yang lebih kecil dan menyeberangi sungai.

Antre menunggu pengunjung lain berfoto ria. Dokpri
Antre menunggu pengunjung lain berfoto ria. Dokpri
"Kata bapak-bapak yang di gua tadi, curugnya cuma keliatan dari jembatan, nggak bisa disamperin." kata Bening, kawan kuliah yang menemani saya sejak kemarin. Tapi kata ibuk warungnya curug kok ke atas (jalur kanan) ya?

"Ya udah, kita ngintip ke tengah jembatan dulu aja yuk. Habis itu balik lagi, lanjut ke atas." ajak saya. Namun berada di zaman milenial seperti yang kita hadapi sekarang, jembatan itu dipenuhi pengunjung yang antre berfoto ria.

"Duh, males nungguin orang foto. Langsung naik aja yuk." alhasil kami tidak mengintip pemandangan apa yang bisa didapat dari jembatan itu. Palingan juga sungai ama pohon-pohon, pikir saya.

Trek 3: Penangkaran Rusa

Hanya satu papan kecil yang kami temui, menunjukkan arah ke penangkaran rusa. Kami belok kiri mengikuti petunjuk tadi sembari bertanya-tanya, wah berarti curug Koleang sudah kelewatan ya. Ya, sepertinya memang begitu. Ternyata, rute menuju penangkaran rusa ini memutar kembali ke arah tempat kami berangkat. Sudah kepalang tanggung, kami ikuti saja rute itu meskipun nanti harus berbalik arah lagi.

Pengunjung mencoba memberi makan rusa-rusa di penangkaran. Dokpri
Pengunjung mencoba memberi makan rusa-rusa di penangkaran. Dokpri
Setelah berjalan melewati jembatan, sungai, pintu air, hingga bekas PLTA, sampailah kami di penangkaran. Satu pikiran terlintas di benak saya, kondisinya memprihatinkan. Entah kenapa, rusa-rusa itu berkumpul di tanah yang becek padahal wilayah penangkaran itu sangat luas dan kering (begonya saya kenapa nggak nanyain ke petugasnya ya. Kan bisa dapat banyak informasi). 

Badannya sangat kotor oleh tanah basah. Berulang kali kepalanya bergidik dan menoleh untuk mengusir lalat dan nyamuk yang begitu naksir mendekat pada tubuh kurusnya yang gundul. Beberapa rusa tidak berhenti menggigil dan gemetaran, tidak tahu apa sebabnya. Bahkan, ada pula tubuh-tubuh yang berdarah tergores luka. Saya tidak tahu apa yang membuat rusa-rusa ini berada pada kondisi seperti itu. Semoga mereka mendapatkan perawatan yang baik di penangkaran Tahura ini. 

Sekelompok rusa yang 'memelas'. Dokpri,
Sekelompok rusa yang 'memelas'. Dokpri,
Trek 3: Batu Batik dan Curug Lalay

Dari penangkaran rusa, kami kembali ke persimpangan jalan tempat kami menemukan petunjuk arah menuju penangkaran, Kami kembali melewati jalur utama yang menanjak ke atas. Hanya berjarak 200 meter, kami menemukan tangga turun yang mengarah pada Batu Batik. Mengintip ketinggiannya yang lumayan tinggi dan curam, kami memutuskan untuk melewatkan spot yang satu ini, Turunnya sih enak, gak kuat bayangin naiknya nanti. Untuk menghibur diri, saya berusaha mengira-ngira seperti apa bentuknya dan berhasil membayangkan sesuatu. Mungkin di sana ada batu gede. Terus jamur dan kerak-kerak di permukaan batunya membentuk motif batik.

Tangga turun menuju Batu Batik
Tangga turun menuju Batu Batik
Setelah berselancar di google, ternyata wujudnya bukan batu besar saja, melainkan batuan datar yang permukaannya cukup luas dan dihiasi oleh berbagai ukiran. Pada awalnya saya melihat bentuk ukirannya seperti kepangan rambut. Lagi-lagi setelah berselancar di mbah google, ternyata motif tersebut adalah motif selendang dayang Sumbi. Konon, ukiran pada batu batik ini terbentuk secara alami, bukan diukir oleh tangan manusia. Luar biasa pokoknya. Unik dan langka!!

Selain melewatkan Batu Batik, kami juga melewatkan Curug Lalay. Kami menduga bahwa curug itu berada di bawah tak jauh dari Batu Batik.

Trek 4: Curug Omas / Curug Maribaya

Setelah melewatkan Batu Batik dan Curug Lalay, kami berjalan terus ke atas dengan tujuan akhir Curug Omas atau sering juga dikenal dengan sebutan Curug Maribaya.  Jarak yang harus ditempuh adalah 1,2 kilometer. Sampai di suatu titik, kami bertemu rombongan kecil (sekitar 4 orang) ibu-ibu beserta anak TK mereka. Rombongan itu memotong jalan ke arah kanan melewati jalan setapak di antara hutan-hutan. Jalan setapak itu sangat menanjak. Menurut keterangan ibu-ibu tadi, jalan setapak ini mengarah pada Tebing Keraton.

Menyusup di antara pepohonan menuju Tebing Keraton. Dokpri.
Menyusup di antara pepohonan menuju Tebing Keraton. Dokpri.
"Kalo lurus ke curug, kalo naik sini ke tebing." kata sang ibu.

"Curug sama tebing bagusan mana Bu?" tanya Bening.

"Bagus tebing lah." jawab sang ibu percaya diri. Atas dasar jawaban itulah kami memilih mengikuti sang ibu ke Tebing Keraton, sementara pengunjung lain yang sama bingungnya memilih lanjut di jalan yang benar. Pada akhirnya, kami gagal melihat Curug Maribaya karena mengambil jalur yang berbeda.

Trek 5: Tebing Keraton

Setelah cukup lelah mendaki, saya sedikit kehilangan keyakinan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2