Allan Maullana
Allan Maullana Karyawan Swasta

Terbangun pada pukul 04.12am, berharap sabtu dan minggu adalah quality time bersama Meita Eryanti.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Pengalaman Pertama Kali Bercerita

6 Desember 2017   21:20 Diperbarui: 6 Desember 2017   21:31 652 0 0
Pengalaman Pertama Kali Bercerita
(Foto Rumah Pelangi Bekasi: Dok. Pribadi)

Akhir pekan ini, Minggu 3 Desember, saya dan Teh Meita Eryanti meluangkan waktu untuk bertandang ke TBM Rumah Pelangi Bekasi atau yang akrab disebut Rungi yang terletak di kampung Babakan Kalibedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi. Tentu bukan tidak ada maksud dan tujuan apa-apa dalam kehadiran kami kali ini. 

Ada sesuatu yang ingin kami lihat di sana yaitu senyuman anak-anak. Di hati kecil saya pribadi terselip kerinduan yang mendalam. Rindu mendengar kecerian anak tertawa saat bermain sambil belajar, rindu mendengar suara anak-anak yang terbata saat mengeja buku, dan rindu juga akan gelak tawa yang warnai saat berbincang bersama mereka yang masih polos-polos itu.

Ketika saya masih memberi waktu lebih untuk bermain bersama, beragam kegiatan yang membuat anak-anak tertawa lepas terekam dengan jelas di benak kepala saya. Kini kenangan itu menjadi energi lebih untuk melajukan kendaraan roda dua yang saya dan Teh Meita gunakan sejauh 12 kilometer dari tempat tinggal kami, yang terletak di tengah Kota Bekasi, menuju Rungi. Ya, jarak tak lagi menjadi penghalang jika hati sudah meniatkan langkah kaki. Jauh atau dekat, tak peduli.

Matahari bersinar dengan terik. Rerumputan dan area pesawahan yang hijau memberi pemandangan tersendiri di pelataran Rumah Pelangi. Angin berhembus sepoi-sepoi membuat kami semakin keasikan melihat anak-anak kecil yang sedang bergerak lincah menari dengan latar lagu Ondel-ondel khas Betawi. Begitu amat menyenangkan melihat mereka bergerak lincah menari dengan koreografi yang mereka kuasai.

 Ingin rasanya ikut menari bersama mereka seraya melepas kejenuhan aktifitas di kota yang penuh ingar bingar. Namun apalah daya, rasa malu yang kami miliki memaku diri ini untuk tetap duduk dan menyaksikan kecerian, tawa, dan canda mereka.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam tangan warna hitam yang saya kenakan menunjukan pukul 15.09 WIB. Suara adzan berkumandang dengan samar dari kejauhan. Terlihat anak-anak kecil itu sudah mulai lelah. Kakak-kakak yang mengajari mereka menari menganjurkan untuk istirahat. Suara alunan musik pengiring pun dimatikan guna suara adzan ashar bisa terdengar lebih jelas dari sebelumnya.

(Foto: Dok. Pribadi)
(Foto: Dok. Pribadi)

Saya dan Teh Meita mengajak mereka untuk duduk di bawah kipas angin yang menyala pada langit-langit ruangan tengah. Ada yang menyapu keringat di wajahnya, ada yang masih senang bercanda, ada juga anak-anak yang memperhatikan kami dengan wajah polos seakan wajah polos itu bertanya-tanya, "ada apa gerangan?". 

Tentu saja bukan tidak ada maksud mengumpulkan mereka di tengah-tengah ruangan yang berhembuskan angin itu. Kebetulan kami membawa sesuatu di dalam ransel. Dari dalam ransel kami mengeluarkan setumpuk gambar yang akan membantu kami bercerita. Sambil berteriak, "ada yang mau dengar cerita gakkk..?"

Tak mau kalah semangat mereka menjawab, "Mauuu..."

Kemudian, saya dengan dibantu Teh Meita bernarasi memulai cerita tentang Gold Fish atau bisa diartikan Ikan Emas. Cerita ini berkisah tentang seekor ikan emas yang pintar. Ikan tersebut diceritakan menguasai ilmu fisika hingga bisa membuat balon udara. Beberapa kali kami melontarkan pertanyaan terkait gambar yang ada di kertas-kertas tersebut dan cerita yang kami sampaikan. Anak-anak menjawabnya dengan antusias.

Selesai bercerita, kami menanyakan apakah mereka punya cerita tentang hewan peliharaanya. Beberapa anak menjawab tidak punya hewan peliharaan. Namun kemudian seorang anak yang bernama Zahra berbagi cerita ke saya, Teh Meita, dan anak-anak lain tentang Kelinci peliharaannya yang beranama Imut. Imut bukanlah seekor kelinci istimewa. Seekor kelinci biasa yang suka makan sayur-sayuran dan suka menyakar bila digendong. Dia tidak mengerti ilmu fisika apalagi harus membuat balon udara.

Bagi saya pribadi ini adalah pengalaman pertama saya mendongeng di depan banyak anak-anak. Ternyata mendongeng bukanlah hal yang mudah. Jujur, saya terlalu tegang dan merasa khawatir anak-anak akan jenuh dan tidak tertarik pada dongeng yang saya sampaikan. Tetapi semua rasa tegang dan khawatir itu sirna ketika Teh Meita membantu saya untuk mulai mendongeng dan tak disangka juga anak-anak begitu tertarik saat mendengarkan dongeng. Yah terkadang sesuatu yang belum saya coba begitu menakutkan dan saya tak pernah tau jika belum mencobanya.


______________________

Artikel ini pertama kali dipublikasi di jabaraca.com