Al Johan
Al Johan BUMN

Terus belajar mencatat apa yang bisa dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Mungkinkah "Pasar Kaget" Jadi Salah Satu Pembunuh Mal?

12 November 2017   18:42 Diperbarui: 13 November 2017   17:33 2292 8 4
Mungkinkah "Pasar Kaget" Jadi Salah Satu Pembunuh Mal?
Pasar Kaget jalan Juanda Depok (Dokpri)

Setiap Ahad pagi, saya bersama istri hampir selalu menyisihkan waktu untuk jalan-jalan ke pasar kaget. Di Depok, paling tidak terdapat tiga lokasi pasar kaget yang digelar setiap Ahad pagi sampai menjelang siang. Satu lokasi berada di jalan Juanda, lokasi lain berada di Kota Kembang dan di jalan Merdeka. 

Tiga lokasi tersebut, setiap akhir pekan selalu dipenuhi orang. Ada yang memang sengaja berbelanja, momong anak atau sekadar jalan-jalan dan cuci mata.

Keberadaan pasar tersebut sudah berlangsung cukup lama. Pasar kaget yang berada di jalan Juanda dulu digelar di sepanjang jalan Juanda, sekarang digeser di kawasan pertokoan Pesona Khayangan. Pasar Kaget jalan Merdeka dan Kota Kembang, baru sekitar tiga tahunan.

Barang yang dijual di pasar kaget tersebut  cukup lengkap. Mulai dari pakaian, perlengkapan dapur, obat-obatan, hingga sepeda motor. Di tempat tersebut juga dijual aneka makanan.

Biasanya sehabis jalan-jalan dan mendapatkan barang yang kami cari, kami mengakhir rutinitas pagi itu dengan mencari makan. Bisa bubur ayam, soto, gudeg atau yang lainnya.

Pasar ramai, Mal sepi

Ahad ini, untuk sebuah keperluan, sehabis jalan-jalan dari pasar kaget kami melanjutkan perjalanan ke salah satu mal terbesar di kota Depok.

Suasana mal yang sepi (Dokpri)
Suasana mal yang sepi (Dokpri)

Berkebalikan dengan suasana pasar kaget yang penuh hiruk pikuk, suasana di mal sungguh sangat lengang. Di beberapa pertokoan yang punya brand nama terkenal, bahkan lebih banyak pegawainya daripada pengunjungnya. Hingga menjelang dhuhur, jumlah pengunjung masih belum banyak. Padahal hari-hari ini masih termasuk tanggal muda karena belum melewati tengah bulan.

Sepinya di mal-mal kota besar, saat ini menarik perhatian banyak orang. Sampai orang-orang penting di negeri ini juga memberikan perhatian khusus. Sepinya di mal antara lain ditandai dengan ditutupnya beberapa gerai Matahari dan Ramayana. Setelah itu juga diikuti oleh Lotus.

Sebelum itu, para pedagang elektronik di kawasan Mangga Dua dan Glodok yang pada jamannya terkenal sangat ramai, juga mengeluhkan sepinya jumlah pengunjung hingga akhirnya mereka menutup sendiri toko-toko mereka.

Ada yang mengatakan bahwa sepinya mal sekarang ini karena tidak bisa bersaing dengan toko-toko online yang trennya terus menaik, baik dari jumlah transaksi maupun besaran uangnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, menilai fenomena tutupnya sejumlah gerai pusat perbelanjaan modern merupakan sebuah anomali karena dari tak sejalan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi RI.

Data makro ekonomi nasional masih bagus-bagus saja. Ekonomi juga masih tumbuh walaupun tidak seperti yang direncanakan. Dari segi cadangan devisa naik, penurunan suku bunga semuanya menunjukkan angka yang bagus. Tetapi ternyata di lapangan kondisinya lain.

Sementara Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito, menyebut tutupnya mal tersebut merupakan hal biasa dalam sebuah bisnis dan tidak ada hubungannya dengan daya beli masyarakat.

Pengalaman pribadi

Saya tidak ingin berdebat lebih jauh soal masalah tutupnya banyak mal tersebut. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman pribadi soal naik turunnya hubungan saya (sekeluarga) dengan mal yang berada di Depok.

Dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, paling tidak sebulan sekali kami pergi ke mal untuk berbelanja bulanan.  Di mal  kami bisa membeli belanjaan bulanan dalam satu tempat. Selain itu kami juga ingin sesekali mengajak anak-anak untuk makan bersama.

Namun dari waktu ke waktu, frekuensi kunjungan ke mal semakin berkurang. Anak-anak mulai beranjak remaja, mereka punya kesibukan masing-masing sehingga sudah tidak mau di ajak belanja. Barang-barang kebutuhan yang dulu biasa kami beli di mal juga sudah banyak dijual di warung atau mini mart yang banyak muncul di dekat rumah kami.

Di samping itu, pada setiap akhir pekan kemacetan di Depok semakin menjadi-jadi. Kalau pada hari biasa, perjalanan dari rumah ke mal terdekat bisa ditempuh dalam waktu 20 menit, maka pada akhir pekan bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Pergi ke mal yang pada awalnya untuk bersantai justru menjadi hal yang sangat menyebalkan.

Pasar Kaget, salah satu pembunuh mal?

Dalam kadar tertentu, menurut saya bisa jadi ya. Saat ini banyak orang, termasuk saya, ingin menghabiskan akhir pekan dengan santai. Mereka tidak ingin kegiatan akhir pekan masih dipenuhi dengan kemacetan karena hal tersebut sudah mereka temui pada hari Senin hingga Jumat.

Ondel-ondel, salah satu hiburan di pasar kaget (Dokpri)
Ondel-ondel, salah satu hiburan di pasar kaget (Dokpri)

Salah satu tempat yang cocok untuk menikmati kesantaian pada setiap akhir pekan adalah jalan-jalan di pasar kaget. Di pasar kaget mereka bisa berolahraga ringan dengan jalan-jalan bersama orang-orang tercinta, bisa berbelanja mencari berbagai barang kebutuhan, setelah itu bisa makan bersama dengan berbagai pilihan menu.

Yang jelas semuanya juga bisa didapat dengan harga yang lebih murah dibandingkan  dengan harga di mal.