Mohon tunggu...
Aliva Rosdiana
Aliva Rosdiana Mohon Tunggu... Penulis - Ibu Rumah Tangga

Seorang ibu rumah tangga tulen yang juga beraktivitas mengajar dan mentranslate. Senang menulis, walau baru mengawali di Kompasiana. Kegiatan lainnya merajut (crocheting dan niat belajar knitting), memasak, dan bisnis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Risiko Maraknya Cyberbullying di Masa Pandemi Covid-19

8 Agustus 2021   08:07 Diperbarui: 8 Agustus 2021   10:17 398 2 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Risiko Maraknya Cyberbullying di Masa Pandemi Covid-19
cyberbullying terjadi di grup berita di facebook/Dokpri

Siapa yang bisa mencegah dampak cyberbullying di era digital saat ini mampu meluluhlantakkan rasa persaudaraan? Cyberbullying secara harfiah berarti perundungan atau intimidasi dunia maya. Dengan kata lain, cyberbullying adalah suatu bentuk kekerasan melalui dunia maya. Hal ini bisa dialami mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. 

Bersamaan dengan pandemi Covid-19 dengan varian Delta terus merajalela, tak ada yang bisa menjamin kapan Covid-19 ini berakhir. Berita simpang siur mengenai positivity rate Covid-19 di beberapa area hingga korban Covid-19 menjadi momok bagi sebagian orang ditandai dengan hujatan bagi penulisnya lewat komentar tak beretika. 

Krisis etika dalam bersosial media kerap terjadi dalam komunikasi digital (baca: di sini). 

Alasan yang masuk akal seseorang suka mengunggah komentar dengan bahasa tidak etis adalah adanya anggapan keamanan dan kebebasan karena tanpa bertemu secara tatap muka dan penggunaan akun yang bukan menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Bullying melalui media massa memang sedang marak di era saat ini. Anak-anak generasi Z masih bisa mengontrol dalam menggunakan media sosial online. Namun tidak bagi generasi X maupun Y sebagai generasi tua atau baru saja berada di masa teknologi akses internet. 

Generasi Z lahir di masa dimana akses internet menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sehingga sebagai generasi milenial, mereka menjadi generasi yang tumbuh menjadi generasi yang out of the box bahkan overconfidence untuk mengungkapkan pendapat baik langsung maupun melalui sosial media. 

Generasi Z atau digital native ini bisa dikatakan sebagai generasi internet atau Igeneration. Bagi mereka, generasi tua, internet merupakan hal baru. 

Sehingga terkadang masih saja banyak ditemukan penyalahgunaan internet dalam bersosial media untuk hal-hal yang sifatnya menghujat dengan maksud mencari sensasi atau hanya sekedar mengungkapkan ketakutannya terhadap suatu hal tanpa mengindahkan etika berkomunikasi.

Dampak pandemi Covid-19 menyentuh banyak aspek, terutama perekonomian dan pendidikan. Akibat dari dampak ini banyak pegawai yang diPHK, turunnya omzet penghasilan bagi UMKM, dan lain-lain. 

Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk membangun ekonomi kreatif di masa pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir (baca: di sini) )

Dampak ini pula menjadikan banyak orang ketakutan dengan berita-berita Covid-19 sehingga etika berkomunikasi online terabaikan. Alih-alih mencari kebenarannya, justru dianggapnya berita lonjakan Covid-19 disertai bukti-bukti hanya biasa saja dan cenderung menyalahkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan