Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mari Membayangkan Jika ESL Jadi Digelar

23 April 2021   16:02 Diperbarui: 23 April 2021   16:26 144 26 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mari Membayangkan Jika ESL Jadi Digelar
Ilustrasi dari sumsel.tribunnews.com

Tidak hujan tidak angin, tiba-tiba saja muncul rencana gelaran European Super League (ESL) yang didengungkan oleh para petinggi sejumlah klub besar di Eropa. Memang isu lama sih, tapi kali ini rada-rada menghentak. Hujan dan angin badainya justru setelah rencana itu digulirkan dan diumumkan.

Reaksi muncul dari berbagai kalangan, dari lembaga-lembaga pengelola sepakbola resmi seperti FIFA dan UEFA hingga penyelenggara liga seperti Premier League, La Liga, dan Serie A. Bukan hanya itu, para pemain dari klub-klub yang disebut terlibat juga berreaksi. Begitupun dengan para penggemarnya.

Kenapa menuai badai? Pertama karena usulan itu muncul dari para pemilik dan petinggi klub. Celakanya, tak ada satupun pengusul yang melibatkan stakeholder masing-masing klub seperti pemain, apalagi fans.

Kedua, mengabaikan keberadaan lembaga-lembaga resmi. Sehingga muncul dugaan ESL sebagai tandingan Liga Champions Eropa. Hal ini juga dikaitkan dengan tudingan soal transparansi pengelolaan keuangan, terutama di saat klub-klub menghadapi persoalan keuangan akibat pandemi covid-19 yang membuat klub megap-megap.

Ketiga, terkesan elitis, muncul dari klub-klub (mengatasnamakan klub) yang selama ini merasa punya nama besar, enam di Inggris (Manchester City, Mancheset United, Chelsea, Tottenham Hotspurs, Arsenal, dan Liverpool), Italia (Juventus, AC Milan, Inter Milan), dan Spanyol (Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid).

Ok, lupakan soal kontroversi itu. Saya hanya ingin mencoba membayangkan SEANDAINYA gelaran itu jadi.

Memang belum ada format yang diajukan. Hanya terdengar kabar bahwa, gelaran ini akan dijalankan dengan format liga. Rencananya akan diikuti oleh 20 klub dari seantero Eropa yang berminat (ajakan juga sudah diajukan pada PSG, Bayern Munchen, dan beberapa klub lain, hingga terpenuhi kuota 20 klub tadi).

Dengan menggunakan format liga, otomatis masing-masing klub akan bertemu dua kali (kandang-tandang) dan akan menjalani 38 pertandingan selama semusim. Juaranya, tentu saja yang mendapatkan poin terbanyak. Entah dengan perhitungan head-to-head atau selisih gol jika ada kesamaan perolehan poin. Ada juga degradasi, tiga klub terbawah akan turun kasta.

Jika demikian, tentu saja dibutuhkan kasta kedua, entah itu 20 klub juga atau mungkin lebih. Lalu kasta ketiga, dan seterusnya, hingga membentuk sebuah piramid. Masalahnya berapa banyak piramida yang dibutuhkan?

Liga Inggris saja butuh 4 jenjang pro, dan beberapa jenjang lagi di bawahnya. Karena ada begitu banyak klub. Bayangkan kalau satu Eropa dilibatkan. Ada 55 negara yang tercatat sebagai anggota UEFA, termasuk negara-negara imut seperti Faroe Island, Gibraltar, San Marino, plus negara yang 'dianggap' Eropa seperti Israel (yang seluruh wilayahnya di Asia, beda dengan Turki yang memang punya secuil wilayah di benua biru itu).

Jika diambil peserta liga teratas saja, dan kita ambil rata-rata 10 klub di satu negara, jumlah itu saja sudah mencapai 550 klub. Butuh setidaknya tiga kasta. Katakanlah ESL 1 (20 klub), ESL 2 (50 klub, dibagi dua zona), dan sisanya di ESL 3 dengan banyak zona.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN