Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Stalin: (86) Renungan dalam Kereta

21 Februari 2021   21:10 Diperbarui: 22 Februari 2021   22:01 164 16 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stalin: (86) Renungan dalam Kereta
Ilustrasi: Alip Yog Kunandar

Episode Awal: (1) Soso

Episode Sebelumnya: (85) Buron

*****

Berbakal surat dari Pangeran Ilia, Soso berangkat ke Poti dengan menumpang kereta api. Ia diberi bekal 20 rubel oleh bangsawan baik hati itu. Tak salah rasanya kalau Tuan Niko Nikoladze, salah satu tokoh penting Georgia masa itu yang dipercaya Kekaisaran Rusia untuk mengelola kota pelabuhan Poti, menaruh hormat padanya. Pangeran Ilia bukan bangsawan biasa yang hanya memikirkan diri sendiri dan keluarganya, tapi juga memikirkan bangsanya.

Seperti dikatakan Tuan Nikoladze sendiri, dalam beberapa hal ia berbeda pandangan dengan Pangeran Ilia, tapi itu tak membuatnya kehilangan rasa hormat. Sementara Soso, meski dalam beberapa hal juga berbeda pandangan dengan Tuan Nikoladze dan Pangeran Ilia, juga menghormati keduanya. Dari keduanya ia berlajar banyak, meski memang belum terlalu banyak belajar dari Tuan Nikoladze, karena baru berjumpa sekali, itupun tak sengaja.

Ia berharap, keberangkatannya ke Poti kali ini, membuatnya memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak kepadanya. Satu hal yang paling ingin dipelajari Soso adalah bagaimana seorang Niko Nikoladze, tetap menjadi nasionalis Georgia, meski bekerjasama dengan Rusia. Sesuatu yang tadinya terlihat aneh dan bertentangan, tapi ternyata masuk akal juga jika melihat keadaan Poti saat ini.

Poti hanyalah sebuah kota kecil, lebih kecil dari Tiflis juga Batumi, mungkin hanya sedikit lebih ramai dari Rustavi. Tapi kota itu bener-bener terlihat maju dan tertata. Berbeda dengan Tiflis, yang meskipun kemajuannya tampak pesat --dalam hal jumlah bangunan dan jumlah penduduk, tapi seperti tak punya jiwa.

*****

Sebelum berangkat ke Poti, Soso sudah berpamitan pada Pak Sese. Kepada orang tua angkatnya itu, ia mengatakan akan pulang ke Gori, menghabiskan waktu liburannya. Ia tahu itu bohong, tapi mengatakan yang sesungguhnya juga ia rasa tak baik, hanya membuat keduanya, terutama Mak Imel, menjadi khawatir, seolah dia memang bermasalah di Tiflis.

Soso juga pamitan pada bapaknya, Pak Beso, yang terlihat makin sehat dan baik-baik saja, meski hanya bekerja sebagai tukang servis pakaian dan sepatu milik orang lain. Pada bapaknya, Soso mengatakan akan berangkat ke Poti, ke rumah kawannya. Pak Beso sendiri tak banyak tanya, siapa kawannya itu. Kelihatannya, Pak Beso tahu diri, tak mau mengganggu kehidupan anaknya itu. Mungkin ia sudah menganggap Soso dewasa di usianya yang baru delapan belas tahun itu, dan bisa mengurusi dirinya sendiri, bahkan lebih baik dari dirinya sendiri.

Soso sendiri berharap, jika ia punya uang nanti, akan memberinya modal untuk membuka usaha sendiri seperti dulu, saat ia masih 'waras' dan tinggal bersamanya di Gori. Meski Pak Beso sekarang sudah terlihat insyaf, mengharapkan keluarganya utuh kembali sudah tak mungkin. Mak Keke, ibunya sudah punya kehidupan yang lain. Ia hanya berharap, setidaknya Pak Beso hidup normal, kelak dia punya istri lagi ya sudah, mungkin itu lebih baik, karena ia sendiri tak bisa selalu mengurusinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x