Mohon tunggu...
Alipir Budiman
Alipir Budiman Mohon Tunggu... hanya ingin menuliskannya

Bekerja sebagai pendidik di MTs Negeri 1 Banjar (dahulu namanya MTs Negeri 2 Gambut) Kabupaten Banjar, Kalsel. Prinsip saya: Long Life Education. Gak pandang tuanya, yang penting masih mau belajar, menimba ilmu. Gak peduli siapa gurunya, yang penting bisa memberi manfaat dan kebaikan...

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Para Sales, Buka Lapakmu, Posting Produkmu, dan Banjir Orderan

7 Juli 2020   13:54 Diperbarui: 7 Juli 2020   13:56 141 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Para Sales, Buka Lapakmu, Posting Produkmu, dan Banjir Orderan
dok. pribadi

Dulu saya paling alergi dengan yang namanya sales. Badan langsung gatal rasanya ketika berhadapan dengan makhluk ini. Ingin cepat-cepat rasanya menutup pintu dan mengatakan: "maaf, saya tidak tertarik".

Di pikiran saya hanya satu, agar sales ini tidak banyak membuang energinya ketika berhadapan dengan saya, karena saya juga tidak akan membelinya. Dia bisa memanfaatkan energinya untuk melayani calon pembeli lain. Dan saya juga tidak bisa berdebat.

Aku tahu. Apapun jawaban yang saya berikan, dia sudah memiliki banyak alasan untuk membantah jawaban saya. Karenanya, menghindar dan menyuruhnya pergi adalah satu-satunya alasan agar tidak berdebat.

Rona wajah sales pun beragam saya jumpai sesudah saya memutuskan untuk tidak lagi memberi ruang padanya untuk mempromosikan produknya. Ada yang tersenyum dan mengucapkan terima kasih, ada yang tampak murung, ada yang merengut, bahkan ada yang marah-marah. Intinya sama saja, mereka kecewa. Jangankan untuk meyakinkan produknya kepada calon pembeli, baru menawarkan saja dia sudah susah.

Kejamnya hidup, mungkin itu yang ada di pikirannya. Butuh kesabaran yang luas hanya untuk menarik  minat pembeli. Kenyataan kadang tak seindah teori yang diajarkan oleh mentor mereka. Psikologi sales diuji. Salut untuk sales yang ditolak, tapi tetap tersenyum dan berterima kasih.

Tersenyum, hanya untuk menutupi kekecewaan ketika diperlakukan tidak bijak oleh calon pembeli. Walaupun aku menyaksikan sendiri, senyumnya sedemikian hambar dan dibuat-buat. Mengucapkan terima kasih, atas perhatian yang sangat sedikit dari calon pembeli. Bisa juga berterima kasih atas perlakuan yang telah dia dapat.

Terkesan! Ya, saya benar-benar terkesan dengan sikap sales yang seperti ini. Kebesaran hatinya luar biasa. Menerima penolakan dan menggantinya dengan sebuah senyum dan terima kasih. Ini sudah termasuk dalam pemahaman agama dan pengamalan akhlak yang luar biasa. Dan, tak semua orang bisa seperti itu. Saya juga masih harus belajar akhlak yang ini.

Sekarang, saat sudah bekerja, barulah tersadar, bahwa apa yang para sales itu lakukan, hanyalah menjemput rezeki yang halal. Banyak orang yang dengan mudah mendapatkannya, tetapi banyak pula yang harus bersusah payah mendapatkannya.

Bila kita memandang niatnya, maka usaha para sales itu patut kita acungi jempol. Meski harus berjalan berkilo-kilometer, berjam-jam, keluar masuk kompleks atau gang, singgah dari rumah ke rumah, tapi tidak mengendurkan semangatnya mencari rezeki yang halal.

Seiring perkembangan zaman, cara sales menjemput rezeki juga semakin beragam. Selain cara lama di atas, mereka juga menggunakan media sosial sebagai sarana berinteraksi.

Tak heran, di media sosial berseliweran produk yang mereka promosikan. Tidak sedikit juga yang marah-marah karena selalu muncul bermacam-macam produk di berandanya, apalagi yang sengaja men-tag.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN