Mohon tunggu...
Brilliant Dwi I
Brilliant Dwi I Mohon Tunggu... Memuat Opini yang

Mahasiswa Pendidikan UIN Jakarta | Acap membuat komik di Instagram @sampahmasyarakart | Sedang Belajar Menulis | #SalamAlinea

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mencari Hukuman yang Cocok untuk Pelaku Perundungan dan Anak Bermasalah

14 Februari 2020   01:11 Diperbarui: 14 Februari 2020   07:35 2561 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mencari Hukuman yang Cocok untuk Pelaku Perundungan dan Anak Bermasalah
Foto ilustrasi | sumber: Pixabay

Pelaku perundungan terhadap Cahya, berusia 15-16 tahun. Usia di mana ia sedang penasaran-penasarannya dengan sesuatu. Kalau pos ini tidak dikawal dan diberi perlakuan serius oleh orangtua, ya jangan salahkan sekolah kalau anaknya jadi tukang mabuk dan doyan bully.

Menyebalkannya, banyak orangtua ngehek yang terima jadi. Ia menganggap sekolah adalah tempat servis kepribadian. Anak yang kelakuannya beringas, sengaja dititipkan ke pesantren supaya moralnya membaik. Membaik matamu!

Sekolah bukan tempat penitipan. Orangtua harus terlibat dengan pos-pos penting pembentukan kepribadian. Jangan terima jadi. Ini anakmu lho, bukan hadiah ciki!

Kedua, peran sekolah dan pendidikan agama. Saya secara spesifik harus meng-highlight pendidikan agama karena dalam beberapa kasus, pendidikan moral sering dikaitkan dengan pendidikan agama.

Di beberapa sekolah, mereka yang kelakuannya buruk, atau pendidikan agamanya buruk akan dipertimbangkan kelulusannya. Ini bukti bahwa dalam hal ini sekolah benar-benar memperhatikan moral siswa.

Dalam skala yang lebih luas, sekolah yang diberikan wewenang untuk menentukan kelulusan siswa menggunakan 'perilaku baik' sebagai syarat kelulusan. Sehingga pada akhirnya ini memungkinkan sekolah untuk punya kontrol terhadap ranah afektif siswa. Ya meskipun sudah sangat last minute.

Yang jadi pertanyaan, kalau itu benar-benar digunakan untuk memaksa siswa berprilaku baik, bukankah itu sia-sia? Bukankah pembentukan perilaku itu persoalan pembiasaan?

Pada pos inilah, pendidikan agama masuk. Proses di mana pembiasaan dan pembentukan moral dibangun. Kalau kurikulum kita apik, harusnya ini bisa membantu mengurangi angka penyimpangan perilaku siswa, terutama bully.

Sialnya, pendidikan agama yang selama ini dijadikan tombak utama pembentukan moral dan karakter siswa juga tidak sepenuhnya berhasil.

Ia cuma punya persentase yang sangat kecil terhadap pembentukan moral dan karakter jika pendidikan agama justru bersifat kaku dan melulu berpaku pada praktik ibadah secara teoritis. 

Pendidikan agama yang kaku dan tidak memberikan gambaran kehidupan sosial yang baik ditambah dengan tidak adanya pembiasaan pembentukan perilaku siswa bisa jadi alasan mengapa bully dan penyimpangan perilaku siswa terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x