Mohon tunggu...
Ali Musri Syam
Ali Musri Syam Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Pekerja, peduli dan tertarik dunia olahraga khususnya sepakbola, dunia satra, dan sosial politik. Karena Menulis adalah cara paripurna mengeja zaman, menulis adalah jalan setapak menjejalkan dan menjejakkan kaki dalam rautan sejarah, menulis menisbahkan diri bagi peradaban dan keberadaban. (Bulukumba, Makassar, Balikpapan, Penajam Paser Utara) https://www.facebook.com/alimusrisyam https://www.instagram.com/alimusrisyam/

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Hujan November dan Secangkir Kopi Menjelma Kenangan

20 November 2020   00:01 Diperbarui: 20 November 2020   00:25 236 68 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hujan November dan Secangkir Kopi Menjelma Kenangan
sumber: echisianturi.blogspot.com / Rumah Kata Echi Sianturi

Hujan November dan Secangkir Kopi Menjelma Kenangan


Hujan Bulan ini menyapa tak mengenal waktu
Tak hirau pagi, siang, petang, malam hingga subuh
Tempiasnya terpercik ke segala ruang membelah waktu
Sejumput kabar menggelinding di sela-sela dedaunan
Di selasar rumah orang-orang
Rinai air tak henti-henti menggenang
Di jalan-jalan arus menderas
Di tanah-tanah lapang meresap, tak meninggalkan bekas.

Aku menyukai hal ketika bulir-bulir air jatuh dari langit
Perihal racikan khas kopimu yang pahit
Aroma paling kuakrabi
Menjelma kenangan mengabadi
Hujan dan kopi
Semakin kental bercampur dalam alunan melodi
Deras hujan-kental kopi meresapi
Menyatu dalam bait-bait puisi.

Kopi kau suguhkan
Menjadi memori paling mengenaskan
Ia meraung-raung dalam ingatan
Hujan kian deras
Seperti kode alam paling keras
Ia memercik - mercik; menderaskan kerinduan
Akhirnya Aku menyadari
Jalan-jalan kian terjal untuk kembali.

Balikpapan, 15 November 2020
Ali Musri Syam Puang Antong

*Puisi Sebelumnya: Majelis Rindu

*Puisi Lainnya: Lelaki di Atas Pusara Ayahnya

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x