Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali
Mukti Ali Bin Syamsuddin Ali profesional

Suaminya Novi, ayahnya Sheikha, domisili di kampung tengah, dekat kampung monyet, Jakarta Timur.

Selanjutnya

Tutup

Regional

Sepinya Masjid di Arab

12 Oktober 2017   15:52 Diperbarui: 14 Oktober 2017   03:07 359 0 0
Sepinya Masjid di Arab
Dok.pribadi

Fenomena sunyinya masjid tidak hanya terjadi ditanah air saja, kejadian serupa terjadi pula dimasjid ditanah Arab. Masjidnya besar, menaranya tinggi menjulang, suara adzannya merdu dan menyebar kesemua arah mata angin. Tapi tetap jamaahnya 4 L, Lo lagi, Lo lagi.

Tidak sedikit orang Islam yang kuat meloncong ke negeri-negeri jauh, orang Arab, mereka pelesiran ke Thailand, Indonesia, Malaysia, orang kita sendiri suka jalan-jalan ke Singapura, menikmati pantai Pattaya di Thailand, Selfi Deket menara kembar di KL, tapi tidak kuat pergi ke masjid padahal jarak rumah ke masjid hanya selemparan baru saja. 

Mengapa itu semua dapat terjadi?, Jawabannya ada pada rumput yang bergoyang. Cobalah kau tanya, apakah rumput-rumput itu akan menjawab?, tapi pesan saya janganlah kau lakukan itu, bisa disangka orang, otak kau sudah miring hahaha.

Walaupun masjid sepi, imam masjid dekat kosan saya tetap memimpin sholat, suaranya merdu, mendayu-dayu, menyusup dalam tulang, menusuk dalam kalbu, menyusup serta meresap dalam jiwa, sehingga menjadilah tenang sukma yang tadinya gelisah. Inilah keajaiban Al-Qur'an dapat membuat hati menjadi tenang,

Sang imam membaca dua surah dalam juz ke 30, rakaat pertama surah Al-A'la, rakaat kedua surah At Toriq, sungguh sangat memesona suaranya. 

Selayaknya imam masjid ditanah Arab, sebelum memimpin sholat, sang imam akan menengok jamaah, jika dilihatnya shaf kurang rapi, ditegornyalah jamaah seraya berkata, "rapatkan shaf, karena rapatnya shaf, termasuk kesempurnaan sholat berjamaah" Seba"da itu takbirlah sang imam, " Allah maha besar".

Jeda antara adzan dan Iqamah pada sholat magrib tidaklah terlalu lama, berbeda dengan sholat Isya dan subuh, pada kedua sholat ini kita dapat membaca kitab suci sampai puluhan ayat, barulah kita mendengar iqomah.

Pada hari Jum'at, maksudnya sholat Jum'at, masjid yang tadinya sepi dan sunyi mendadak ramai sekali, andai fenomena ramai sholat Jum'at berlaku pula pada sholat lima waktu wabil khusus waktu sholat subuh alangkah eloknya, tapi sepertinya masih butuh waktu untuk menyaksikan itu.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa orang kuat bepergian ke negeri-negeri jauh tapi tak kuat ke masjid padahal jaraknya dekat?

Padahal jelas mereka mendengar adzan, yang masuk kedalam telinga mereka, termasuk telinga saya tentu saja. Waktu adzan berkumandang para setan ngacir sambil terkentut-kentut, bisa jadi merekalah yang menggoda agar tidak pergi ke masjid, masuklah para setan itu kedalam telinga, sambil berbisik, "udah, nanti aja sholatnya, masih banyak waktu kok...dan seterusnya..."

Jadi aja, yang tadinya mau siap-siap berangkat, mendadak ada aja kerjaan yang harus dilakukan, akhirnya sholatpun dirumah itupula udah diakhir waktu.

Selain sholat Jum'at, fenomena ramainya masjid juga terasa pada saat jari pertama bulan Ramadhan, bapak, ibu, anak-anak, sepakat bulat pergi ke Masjid, tiada bulan  yang bisa menandingi semaraknya masjid pada bulan Ramadhan.

Akhirul Kalam, kalo bukan kita, siapa lagi yang dapat memakmurkan masjid?

Catatan, dua masjid di Arab yang selalu ramai adalah Masjidil Harom di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. 

Saya sempat berziarah ke sana, dan ketika di Nabawi saya sempat berjumpa dengan kakek dari Libya.

Masjid yang saya ceritakan di atas adalah masjid dekat tempat tinggal saya di Dubai.