Mohon tunggu...
Ali Hasan Siswanto
Ali Hasan Siswanto Mohon Tunggu...

Pengamat politik dan penikmat Moralogi

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Debat Publik I Cagub dan Cawagub Jatim, Dagang Kemiskinan

10 April 2018   22:49 Diperbarui: 10 April 2018   22:53 695 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Debat Publik I Cagub dan Cawagub Jatim, Dagang Kemiskinan
Twitter/KompasTV

Malam ini rakyat menjadi saksi, khususnya jawa timur debat publik jilid I calon dan wakil gubernur Jawa Timur baik secara langsung maupun melalui media televisi. Debat yang diadakan KPU Jawa Timur ini ingin memeberikan gambaran seutuhnya tentang calon dan wakil gubernur jawa timur melalui visi dan misinya. 

Calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur diikuti oleh dua pasangan calon yaitu pasangan khofifah-emil dan gus ipul-puti. Dua pasangan mencoba menghipnotis rakyat jawa timur melalui visi dan misinya, yang kemudian disuguhi empat pertanyaan didalam amplop dari panelis. Pada taraf inilah agitasi dan proaganda dilakukan kedua pasangan calon, mengkritik pasangan lain dengan membusungkan dada akan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. 

Terlepas dari agitasi dan propaganda politik yang dilakukan, yang menarik bagi penulis adalah: pertama: kedua pasangan calon sama "menjual" kemiskinan yang diderita masyarakat. Kedua: kedua pasangan calon sama-sama "menjual" pendidikan dan kesehatan. Ketiga: kedua pasangan calon sama-sama menjual pengangguran. 

Pertama: hampir setiap momentum politik baik pemilihan bupati, wali kota, gubernur dan presiden. Kemiskinan menjadi komoditas politik yang diperjual belikan dengan berbagai tawaran program yang bombastis. Namun yang heran kenapa program-program yang selama ini untuk mengentas kemiskinan tidak mampu berbuat banyak untuk merubah masyarakat.

Padahal selama ini semua elemen politik selalu menggunakan jargon mengentas kemiskinan, termasuk di jawa timur. Realitas ini memunculkan sebuah dugaan apakah selama ini rakyat jawa timur sengaja dimiskinkan dan kemiskinan sengaja dipelihara untuk terus menjadi komoditas politik setiap tahunnya?

Ungkapan ini mungkin ada benarnya ditengah masyarakat yang tidak pernah tersentuh oleh program pengentasan kemisinan, dengan kata lain program kemiskinan yang selama ini di gembar-gemborkan hanya untuk mensejahterkana golongan dan koleganya saja, sedangkan masyarakat luas terus dipelihara kemiakinannya. 

Kedua: dua pasangan  calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur sama-sama menjual pendidikan dan kesehatan sebagai maghnet menjaring suara masyarakat jawa timur. Tidak jauh berbeda dengan yang pertama, pendidikan dan kesehatan menjadi komoditas politik yang terus dipelihara kesenjangannya.

Yang menjadi perdebatan pertama kali adalah kesenjangan pendidikan antara madrasah diniyah dan lembaga pendidikan formal baik dari siswa, pengajar, sarana prasarananya dan berbagai kebijakan tentang pendidikan. Tapi setidaknya dua pasangan calon sama-sama memiliki niatan baik untuk menyetarakan madrasah diniyah dan lemvaga formal dengan caranya masing-masing.

Namun kalau kita cermati pendidikan tidak hanya antara kesenjanga  madrasah diniyah dan lembaga formal saja, ada juga kesenjangan pendidikan dari kelas rendah dan borjuis. Menjamurnya sekolah borjuis dengan kelengkapan yang luar biasa menjadi pembeda antara yang kaya dan yang miskin.

Semua siswa di sekolah borjuis selalu dianter dengan mobil-mobil mewah, sedangkan sekolah yang biasa, hampir semua siswanya dianter menggunakan sepeda motor, becak, sepeda ontel dan bahkan jalan kaki.

Pada taraf inilah, kesenjangan terjadi, seakan-akan ada pembeda antara kaum borjuis dan proletar (meminjam bahasa Marx). Realitas ini sama sekali tidak disinggung dalam debat publik jilid I calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN