Mohon tunggu...
Alifarin Naufal
Alifarin Naufal Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

bron to die

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Potensi dan Tantangan yang Dihadapi Industri Bank Syariah Pasca Merger Bank Syariah BUMN

27 Oktober 2021   15:24 Diperbarui: 28 Oktober 2021   10:11 136 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Perkembangan ekonomi dan keungan syariah di Indonesia berkembang sangat pesat. Sektor ekonomi syariah di Indonesia meliputi perbankan syariah, keuangan nonbank, pasar modal, rumah sakit Islam, perhotelan, pariwisata, halal food, fashion dan masih banyak lagi. Melihat potensi perkembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berkembang lebih pesat, pemerintah memutuskan marger untuk bergelut di pasar syariah. Bank syariah mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah  yang resmi menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

 Kebijakan marger tersebut bertujuan untuk memaksimalkan potensi bisnis BUMN di pasar perbankan syariah Inodonesia tentunya agar dapat bersaing lebih maksimal, baik itu di pasar dalam negri ragional hingga internasional, dengan penggabungan bank syariah Indonesia. Dalam hal ini bank syariah akan memiliki asset sebesar 240 terliun dan peringlat ke-7 bank terbesar di Indonesia.

Lantas bagaiman cara membangun dan mengembangka potensi bank syariah kedepannya?

Ketua Dewan Komisioner Otoritas jasa keuangan Indonesia (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan bahwa perbankan syariah di Indonesia, mempunyai peluang yang sangat besar dan mampu mendongkrak idustri perbankan syariah, dilihat dari jumlah penduduknya dengan jumlah yang cukup besar sekitar 87% atau setara dengan 272 juta sebagai penduduknya umuat muslim. Berdasarkan laporan The State of The global Islamic Economy Report 2020 Indonesia berada  diperingkat ke-5 di Top is Global Economy Indicator Score Rank dan peringkat ke-6 pada sektor Islamic Finance. Pada tahun 2019 Indonesia bearada pada peringkat ke-5 dan di tahun-tahun sebelumnya Indonesia menempati pposisi ke-10, dalam hal pun keuangan syariah di Indoesisa mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di tahun 2019 petumbuhan ekonomi syariah tumbuh melampaui rata-rata nasional (PBD 2019 = 5,09% , pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia 5,72%).Perdagangan industri halal di Indonesia di tahun 2020, nilai perdagangan industri halal meningkat mencapai 3 miliar dolar AS.

Namun Wimboh menghimbau bahwa potensi ekonomi syariah harus lebih dikembangkan lagi secara keseluruhan, bukan hanya lembaga keuangan saja tetapi harus menciptakan ekonomi syariah, industri halal dan ekosistem syariah. "Untuk meningkatkan capaian industri keuangan syariah di Indonesia dengan memaksimalkan potensi, kami memandang masih terdapat beberapa tantangan yang akan dihadapi ke depan," ujar Wimboh, dalam paparannya di acara Peluang dan Tantangan Perbankan Syariah Pasca Merger Bank Syariah BUMN, Rabu (10/2).

Wimboh melanjutkan, tantangan tersebut meliputi produk syariah dengan kemampuan lembaganya tidak sebanding, yaitu sebesar 9,90% dari aset industri keuangan nasional, dimana produk keuanghan masih relative kecil dan permodalan terbatas. "Perbankan Syariah dituntut mampu menyediakan kebutuhan keuangan dalam pengembangan industri halal dan Pengembangan Lembaga Keuangan Syariah," imbuh Wimboh.

Terdapat 6 bank syariah di Indonesia yang mempunyai modal inti dibawah 2 terliun dari total 14 bank umum syariah per desember 2020, disamping itu keuang syariah sangat rendah dibandingkan dangan konvensional secara nasional, dalam indeks literasi dan indeks syariah mencapai 8,93% dibandingkan denag indeks literaasi dan indek konvensional 38,03%, dalam hal itu industri keuangan bank syariah baru 9,1% masih tertinggal jauh secara nasional 76,19% dan itu terus berkembang, sehingga percepatan syariah terus tertinggal. Sains permodalan sangat penting untuk mendukung inovasi produk dan juga efesiensi oprasional keuangan sayraiah. Wimboh mengatakan "kita bisa mendidik dan menghair orang-orang yang memumpuni dalam bidang keuangan, dengan demikian maka hasil competitivess layanan keunagn syariah jauh dibandingkan dengan yang non syariah"

Wimboh menghimbau bahawasanya pengembangan riset-riset inovasi produk masih jauh, hal ini harus bisa menyusun dan membuat satu kroto yang kualitasnya bagus, dengan harga yang murah, produk bervariasi, dan juga bisa di akses oleh masyarakat secara gampang dan juga produknya bisa menutup dep yang dibutuhkan oleh masyarakat. Srategi ini harus dikembangkan bersama-sama agar produk keuangn syariah dan lembaga keuangan syariah Indonesia kedepannya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika hal itu dilakukan otomatis market perbankan syariah akan mendominasi. "Produknya berfariasi harganya murah kualitasnya bagus itu bisa diakses masyarakat dengan gampang" kata Wimboh

Wimboh mendorong untuk bisa mempunyai skala-skala lembaga syariah yang kompotitif, modalnya kuat inovasi produknya banyak. Wiboh menambahkan dalam paparannya di acara Peluang dan Tantangan Perbankan Syariah Pasca Merger Bank Syariah BUMN "lahirnya bank syariah iondonesia adalah suatu hal yang tepat pada saat ini, yang merupakan marger dari 3 BUMN yang diharapkan bisa memberikan produk-produk lebih murah dan kualitasnya lebih bagus dari nonsyariah yang bisa diakses dimana saaja" Wimboh dan anggota OJK akan mencari trobosan-trobosan agar bank syariah Indonesia mepunyai rencan bisnis yang betul-betul menjawab tantangan tersebut., dengan target yang jelas dan timeframe yang jelas. Menjadikan bank syariah berada di top 10 bank syraiah di dunia, yang sekarang di nomor 07 perbankan Indonesia. Wimboh juga mengatakan akan bersama-sama untuk memonitor dan merivew agar perubahan-perubahan bisa disesuaikan dan diarahkan agar menjadikan cita-cita OJK dan sesuai dengan ekspetasi masyarakat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan