Mohon tunggu...
Alif MuhammadAnaksa
Alif MuhammadAnaksa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Perbankan Syariah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Kegiatan Masjid Akbar dan Kebudayaan Ramadhan di Sulawesi Tenggara

31 Mei 2022   21:40 Diperbarui: 31 Mei 2022   21:51 98 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

KEGIATAN MASJID AKBAR DAN BUDAYA RAMADHAN DI SULAWESI TENGGARA

 

Halooo... kembali lagi ke artikel yang berseri ini, setelah membahas beberapa keberagaman agama yaitu katolik dan Kristen kali ini kita akan Kembali kepada agama saya sebagai penulis yaitu islam dan tentunya karena Ramadhan belum lama kita lewati maka kali ini saya akan membahas tentang kegiatan dan kebudayaan masjid di wilayah kota Kendari secara spesifik di masjid akbar anduonohu, tentunya tentang budaya Ramadhan di kota asal saya ini. Okeeyyy...

Tentunya untuk mengetahui tentang budaya dan keberagaman kita harus mewawancarai atau menggali informasi dari pengurus masjid itu sendiri, kali ini saya bersama dengan kak Firon salah satu pengurus dari masjid akbar beliau adalah pemuda sekitar yang sangat peduli akan kehidupan masjid dia mengabdikan dirinya pada masjid akbar anduonohu sudah selama 6 tahun dan sebagai pengurus masjid tentunya dia banyak mengambil peran dalam beberapa kegiatan di masjid akbar, beliau bercerita bahwa dalam masjid akbar kegiatan pokoknya adalah menyelenggarakan pengajian, TPQ untuk anak-anak, bahkan untuk orang tua yang buta akan huruf Al-Quran mereka memiliki program khusus untuk orang tua atau dewasa sekitar umur 19 sampai 60 tahunan kegiatannya selama 20 pertemuan dimana setiap minggunya itu ada 2 pertemuan yang dimana terdiri dari 2 kelompok yang masing-masing di isi sebanyak 10 orang, mereka mengajar dari pukul 20.30 sampai 22.00 dan prosesnya pun bertahap dari mengenal huruf, melancarkan bacaan, mempelajari tajwid, hingga kepada hafalan. Sehingga program ini tentunya sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar bahkan ada murid yang berasal dari moramo yang kita kenal jauh jaraknya dari masjid akbar ikut belajar di pengajian ini. Kemudian tentunya ada  TPQ untuk anak-anak berusia dini dimana mereka tidak hanya belajar membaca dan melafalkan Al-Qur'an dengan benar tetapi sampai kepada menghafalkannya, belajar tentang adzan, ceramah, kisah para nabi dan lain-lain salah satu program yang tentunya sangat memancing atau mengajak anak-anak sekitar semakin peduli dan cinta akan masjidnya. Dan saat bulan Ramadhan kemarin mereka mengikuti lomba adzan, lomba tahfidz, lomba ceramah antar kecamatan dan berhasil membawa beberapa thropy untuk masjid akbar salah satu pengabdian yang tidak sia-sia tentunya untuk Kak Firon telah mengajar dan mendidik anak-anak di sekitar masjid akbar. Program di Ramadhan yang tentunya ada setiap tahun yaitu buka bersama, tarawih, kultum subuh dan tarawih yang tentunya menyegarkan para jamaah akan pengetahuan islam. Kegiatan seperti itikaf pun diadakan di 10 hari terakhir Ramadhan di masjid akbar sendiri kegiatan itikaf ini sendiri di ikuti 8 orang jamaah sekitar masjid akbar itu sendiri. Dari sekian banyaknya program dan kegiatan di masjid akbar tentunya ada juga kendala yang dilewati oleh para pengurus masjid. Salah satunya adalah sifat anak-anak yang masih berisik saat melaksanakan sholat yang merupakan sifat alami mereka untuk bermain dan besenang-senang bersama teman seumuran mereka, dan dari kesulitan tersebut tentunya hadir masalah baru lagi yaitu kesadaran orang tua yang sering menegur anak-anak dengan suara yang lantang sehingga membuat mereka ragu dan malas untuk Kembali hadir ke masjid bukan karena ingin bermain di tempat lain tetapi takut dimarahi saat ada di masjid. Sehingga membuat mereka takut dan menjauhi masjid padahal sebagai orang dewasa kita harus memahami mereka bukan ingin dipahami oleh mereka bukankah tanpa mereka masjid akan terasa sepi dan tidak ada keceriaan dan kehangatan disana. Siapa lagi yang akan pergi ke masjid jika di masa depan nanti mereka sudah takut dan malas untuk pergi ke masjid. Apakah para orang tua dan orang dewasa akan hidup selamanya. Mungkin ada salah satu anak yang bisa menjadi ulama atau seorang pendakwah atau pemimpin suatu saat nanti. Tapi karena takut akan masjid tidak terwujud dan membuat para pemimpin daerah jauh dan tidak peduli akan masjid itu sendiri. Dan memimpin tapi tidak memiliki kepedulian terhadap agamanya sendiri. Dan yang terakhir tentunya kenyamanan dan kebersihan masjid. Yang merupakan titik penting dan yang membuat orang di sekitar cinta dan peduli akan masjid. Banyak sekali para jamaah yang tingkat kepeduliannya masih kurang kepada kebersihan masjid, dan tentunya juga untuk membuat nyaman para jamaah dibutuhkan alat sperti kipas angin atau AC yang membuat jamaah nyaman dengan suasana masjid, tidak gerah dan Kembali mendatangi masjid.

Yang Terakhir tentunya kita akan membahas budaya Ramadhan di provinsi Sulawesi tenggara radisi Mobasa-basa bagi Suku Tolaki tak asing lagi ketika menjelang 1 Ramadan. Ini merupakan bagian rasa syukur sebagai bentuk penghambaan kepada sang pencipta. Di dalam tradisi mobasa-basa ini berbagai untaian doa mengucap syukur, sebab kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan. Dimana bulan Ramadan merupakan bulan ampunan bagi orang-orang yang mengharapkan ampunan dari Allah Subhana Wata'ala. Sehingga setiap ibadah yang akan dikerjakan pada bulan Ramadan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Mobasa-basa juga merupakan bagian ritual mengirim doa untuk beberapa tujuan baik untuk arwah para leluhur, syukuran, tolak bala, ataupun menyambut hari-hari besar Islam. Tradisi mengirim doa ini selalu diiringi dengan sajian makanan dan bakar dupa. Di zaman dahulu, kedatangan Islam di tanah Tolaki menyebabkan tradisi mobasa-basa mengalami transformasi, dimana mantra-mantra dalam tutur lokal diganti dengan ayat-ayat suci Al Qur'an. Penulis sendiri merasakan betul tradisi ini, ketika dalam keluarga ini tak pernah bisa untuk dilewatkan, sebab selain tradisi kegiatan mobasa-basa ini juga merupakan turun temurun telah dipraktekan. Bukan hanya sekedar tradisi, mobasa-basa ini juga memiliki makna saling mengeratkan silaturahmi, serta berbagai kebahagiaan dengan sesama. Tidak hanya orang Tolaki, suku lain di Sulawesi Tenggara seperti Buton dan Muna, juga melaksanakan ritual ini yang disebut dengan Haroa.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan