Mohon tunggu...
Ali Khasan Al Farishi
Ali Khasan Al Farishi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa aktif

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Toleransi Beragama, Apakah Hanya Sekadar Omong Kosong Belaka?

29 November 2020   05:27 Diperbarui: 29 November 2020   05:39 26 3 1 Mohon Tunggu...

Semua orang pasti pernah mendengar kata, "Toleransi". Itulah kata yang selalu digaung-gaungkan oleh semua elemen masyarakat, yang katanya peduli terhadap keberagaman. Tetapi dalam kenyatannya, masih banyak tindakan intoleransiyang mencederai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Indonesia merupakan Negara yang penuh dengan keberagaman. Mulai dari suku, Agama, Ras, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, sikap toleransi perlu dimiliki oleh setiap warga Negara. Lebih-lebih masalah toleransi beragama, karena masalah agama merupakan masalah yan sangat sensitive di Indonesia. Belajar dari negara Suriah, Negara mereka hancur karena isu-isu agama. Maka dari itu, sebelum terlambat kita semua harus segera menyadari bahwakeberagaman itu mahal harganya.

Walaupun pengucapan kata toleransi sangatlah mudah, tetapi dalam pengamalannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu banya elemen masyarakat yang harus turut andil dalam menciptakan kedamaian. Mulai dari pemerintah, polisi dan TNI, serta masyarakt biasa pun harus berpartisipasi dalam menangkal isu-isu yang berkembang di masyarakat. Isu  tersebut seringkali bersumber dari media social yang saat ini semua kalangan masyarakat pasti memilikinya.

Dalam setahun terakhir, terdapat lebih dari 10 kasus intoleransi. Hal tersebut sangatlah memprihatinkan, karena dalam pancasila yang merupakan dasar  Negara pun sudah tertulis didalamnya. Negara ini terbentuk bukan hanya jasa sekelompok agama saja ataupun sekelompok suku saja, tetapi semua golongan ikut bersatu membangun bangsa. Maka tidak seharusnya mereka ataupun kita menjadi pelaku intoleransi. Berikut adalah kasus kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia pada setahun terakhir.

Pertama, kasus perusakan rumah ibadah orang muslim di perumahan Griya Agape, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara pada 29 Januari 2020 yang dilakukan oleh delapan orang.

Kedua, kasus penolakan ibadah yang dilakukan oleh sekelompok warga Graha Prima Kabupaten Bogor terhadap jemaat Gereja Pantekosa di Indonesia pada tangga 20 September 2020.

Ketiga, perusakan dua Mushola di Kabupaten Tangerang, Banten pada selsa 29 September 2020 yang dilakukan oleh seorang pemuda berusia 18 tahun.

Kasus di atas merupakan beberapa contoh saja. Masih banyak lagi kasus-kasus intoleransi yang terjadi. Berangkat dari masalah intoleransi di Indonesia yang marak terjadi, perlu langkah pasti yang harus diambil. Kita semua harus satu komando dengan pemerintah agar tercapai tujuan bersama. Pemerintah dapat melakukan hal-hal kecil seperti sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x