Mohon tunggu...
Alfonsius Febryan
Alfonsius Febryan Mohon Tunggu... Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi 'Fajar Timur'-Abepura, Papua

Iesus Khristos Theou Soter

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan dan Relasi Pandemi

24 Oktober 2020   22:47 Diperbarui: 24 Oktober 2020   22:59 151 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan dan Relasi Pandemi
dok. pribadi

Habermas dalam Knowledge and Human Interest melukiskan secara genealogis perjalanan proyek purifikasi ilmu pengetahuan dan kepentingan. Gejalanya dapat ditelusuri sejak kelahiran pemikiran filsafat yang berhasil mengubur pemikiran mitis dalam kehidupan keagamaan Yunani Kuno. 

Sebut saja kata theoria, di mana menurut Habermas, lahir dan berakar dari kata bios theoritikos. Mulanya dimulai dalam ritual keagamaan yang mengandung arti siuatu bentuk kehidupan dan jalan untuk mengolah serta mendidik jiwa melalui jalan pembebasan manusia dari perbudakan doxa (pendapat).

Diharapkan melalui jalan tersebut, manusia dapat mampu meraih otonomi dan kebijaksanaan hidup. Pada tradisi keagamaan kebudayaan Yunani Kuno, orang menjalankan theoria disebut theoros, yakni seorang wakil yang dikirim oleh polis (negara kota) untuk keperluan ritus keagamaan.

Seorang theoros bekerja untuk mengupayakan thoria, memandang peristiwa sakral dan terlibat di dalamnya dengan tujan agar seorang theoros dapat mengalami peristiwa khatarsis, suatu momen pembebasan diri dari perasaan dan dorongan fana yang berubah-ubah, seluruh pengalaman emansipasi dari nafsu yang rendah. Sehingga dengan kata lain bahwa teori dipahami sebagai pengetahuan yang memiliki kekuatan emansipatoris, sehingga cita-cita etis teori selalu berujung pada kebermanfaatan dalam kehidupan manusia konkret, yakni kebaikan, kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kehidupan sejati dalam kerangka kolektivitas negara kota.

Mitologis kiranya semakin radikal sejak munulnya pemikiran filosofis di Yunani Kuno. Pengertian theoria, atau memandang, tidak lagi dipahami dalam kaitannya  dengan keagamaan, akan tetapi justru bergeser menjadi memandang dalam arti kontemplasi kosmos memandang ke arah alam semesta.

Maka tak heran muncullah mazhab Milea, tepat sejak Parmenides dan kemudian dikukuhkan oleh Timaeus Plat0 berusaha menemukan suatu tertib yang tidak berubah-ubah, atau disebut makrokosmos dan manusia disebut mikrokosmos hanya melakukan tindakan mimesis (meniru) keteraturan yang tidak berubah-ubah dari makrokosmos itu sendiri.

Maka dengan sendirinya theoria yang pengertiannya kini hanya diakaitkan dengan kontemplasi atas alam semesta, akhirnya menarik batas antara Ada dan Waktu.

Pada konteks inilah ontologi kemudian lahir sebagai cara para filsuf mengupayakan kegiatan teoritisasi tentang segala hal yang bersifat ontis (hakikat) dalam kosmos, sebagi cara para filsuf merayakan inti dari sefala inti realitas yang bersifat tetap dan tidak berubah.

Hal ini tentu sangat gamblang dalam sejarah pemurnian pengetahuan dari kepentingan di Yunani kuno, ontologi adalah jalan pertama yang ditempuh filsafat untuk mengubur mitis, sebab melalui adanya ontology teori mengambil jarak dengan segala hal yang bersifat empiris dan subjektif, karena kedua hal tersebut dianggap sebagai unsur yang tidak imanen.

Melalui ontologi pula, dalam menempuh jalan theoria, seorang theoros mengambil sikap teoritis murni, menekan perasaan subjektivitasnya untuk mengalami kontemplasi bebas dari kepentingan untuk mengalami momen khatarsis yang dicapai melalui seolah-olah terbebas dari kehendak manusia. Seorang theoros pada bilah ontologi, dipaksa menekan kepentingannya demi mengusahakan kepentingan yang lain.

Basis ontologies pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan tersebut terus dikapitalisasi oleh ilmu-ilmu modrn di Abad Pertengahan, terutama oleh pemikiran rasionalisme dan empirisme. Melalui basis Epistemologis kedua aliran ini, ilmu modern sebagai theoria, terbangun semakin berjarak dengan tindakan praksis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x