Mohon tunggu...
alfitra fariz
alfitra fariz Mohon Tunggu... amor fati ego fatum brutum

DO your self

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pemanfaatan Podcast sebagai Media Pembelajaran Daring yang Humanis

16 Januari 2021   05:07 Diperbarui: 16 Januari 2021   05:20 525 3 0 Mohon Tunggu...

Alfitra Fariz Miftakhul Arzaq

Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta

alfitraaiz@yahoo.co.id

Pandemi yang telah menyerang sebagian besar tempat dibumi akibat virus Covid-19, diprediksi akan memasuki babak finalnya, seiring dengan mulai di distribusikannya Vaksin Covid dimasa mendatang. Pandemi yang menyerang bumi selama hampir setahun ini, berhasil Memporak-porandakann beberapa struktur dan sistem fundamental kehidupan manusia. Beberapa struktur dan sistem fundamental tersebut kemudian mau-tidak-mau harus mentransformasikan dirinya, sebagai upaya kebertahanan terhadap situasi pandemi. Transformasi-transformasi pada tatanan sektor fundamental tersebut, tentu berdampak besar terhadap realitas kehidupan masyarakat yang sedang atau akan berlangsung. Di Indonesia sendiri, transformasi pada tatanan kehidupan pun sedikit-banyak sudah sangat terasa dampaknya. Salah satu dampak transformasi yang menjadi bahan menarik untuk dikaji adalah sektor Pendidikan.

Pendidikan di Indonesia pada era pandemi ini, mengalami transformasi cukup besar yang memaksakan seluruh elemen pendidikan untuk mengimplementasikan kebiasaan baru. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, kegiatan praktik, ujian, dan lain sebagainya, tak luput mengalami sentuhan tranformasi. Kegiatan-kegiatan tersebut terpaksa harus diubah menjadi kegiatan jarak jauh tanpa tatap muka yang dilakukan melalui berbagai platform online, guna meminimalisir dampak dari penyebaran virus COVID-19. Hal ini tentu membutuhkan dorongan psikologis dan sosialisasi yang baik bagi setiap diri peserta didik dan pendidik untuk dapat membiasakan diri dengan apa yang disebut sebagai "new normal" pada sistem pendidikan.

Pada masa pandemi ini, istilah pembelajaran digital dan media platform penyokong pembelajaran mungkin bukan menjadi barang baru bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selama masa pandemi Covid-19, masyarakat telah disuguhkan oleh berbagai macam media platform pembelajaran digital, dari yang berbasis video conference seperti Zoom.us, Google Meet, Skype. Atau terdapat juga yang berbasis e-learning, media sosial, dan media audio  seperti Google Clasroom, Edmodo, Ruang Guru, Whatsapp, Podcast, dan lain sebagainya.

Dengan hadirnya berbagai macam platform penunjang pembelajaran tersebut juga memunculkan dinamika dan polemik baru dalam masyarakat. Bahkan dinamika yang terjadi sangat dinamis dalam arti terdapat hubungan dengan sektor-sektor lainnya. Sebagai contoh dalam penggunaan platform berbasis video conference, yang saat ini menjadi media terbanyak yang digunakan selama masa pandemi (Yohanes: 2020). Banyak dari peserta didik dan pendidik yang mengeluhkan tentang lemahnya kekuatan sinyal, kurang pahamnya terhadap cara penggunaan platform yang menyebabkan mispersepsi, sarana dan prasarana pendukung yang kurang memadai, abstraksi materi yang disampaikan kurang dipahami sehingga menurunkan minat belajar dari peserta didik, hingga mahalnya biaya kuota serta penggunaannya yang menelan jumlah secara masif menjadi sebuah dinamika dan kendala baru dalam keadaan saat ini. Hal serupa juga sempat dikatakan oleh Muhammad Praja dalam webinar KMS (Keluarga Mahasiswa Sosiologi) yang bertajuk, kuliah daring efektik tidak sih?, dalam webinar tersebut, Praja mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan kuliah daring sendiri, terdapat beberapa permasalahan yang harus diperhatikan, seperti infrastruktur yang belum merata, permasalahan jaringan internet, dan kelompok marjinal yang belum memiliki akses e-learning (Fisipol UGM, 2020). Dari hal tersebut terlihat bahwa dinamika yang terjadi berimbas juga pada sektor lainnya seperti ekonomi, sosial, budaya dan teknologi.

Contoh lain dari dinamika penggunaan video conference yang berhasil diamati oleh penulis adalah etika, karakter sosial dan efektivitas penggunaannya. Tak jarang dijumpai pada pembelajaran online yang menggunakan video conference menyebabkan defisit etika dan kesadaran moral pada peserta pembelajaran, seperti makan dan minum pada saat pembelajaran, tidur-tiduran dengan kamera gawai yang menyala, penon-aktifan kamera oleh peserta pembelajaran yang berpotensi tidak diikutinya proses pembelajaran dengan baik, serta kurangnya rasa percaya diri bagi sebagian peserta pembelajaran saat dihadapkan dengan kamera, masih menjadi tantangan tersendiri dari pembelajaran berbasis video conference.

Pada proses pembelajaran yang dilakukan secara daring oleh pihak sekolah maupun perguruan tinggi, dinamika dan polemik tersebut tentu menjadi sebuah hambatan bagi jalannya proses pembelajaran. Hal ini pernah disampaikan oleh Rizky & Eti (2020) dalam jurnalnya, Pada mulanya, pembelajaran sosial dapat berjalan dengan baik tanpa adanya pembatasan jarak, kini terganggu akibat adanya pandemi Covid-19 yang mengalihkan pembelajaran berbasis daring sehingga peserta didik tidak dapat leluasa melakukan pembelajaran doing the real thing yang memberikan banyak pengalaman sosial (Rizki dan Eti, 2020).

Berdasarkan pengamatan penulis mengenai dinamika dan polemik yang ditimbulkan oleh platform media pembelajaran digitial, khususnya yang berbasis video conference. Penulis mengindikasi bahwa kurang optimal dan humanisnya strategi pembelajaran berbasis video conference dalam melaksanakan perannya sebagai platform pembelajaran di masa pandemi. Aspek kesiapan, mentalitas, abstraksi materi yang sedang dipelajari, esfisensi waktu serta fasilitas strukur pendukung pembelajaran yang kurang merata, masih menjadi tantangan dan tema utama dalam transformasi pembelajaran berbasis digital, khususnya pada video conference. Hal ini tentu bisa berdampak cukup besar terhadap hasil atau output pembelajaran ke depannya. Demi menjawab dinamika dan polemik yang berlangsung lewat berbagai macam teknologi informasi yang tersedia, penulis melihat sebuah potensi dan peluang pada salah satu platform pembelajaran di masa pandemi, yakni podcast, sebagai jawaban alternatif atas polemik dan dinamika yang ditimbulkan. Podcast yang hadir sebagai salah satu layanan streaming berbentuk siaran audio ini memiliki potensi dan peluang untuk mengoptimalisasikan sekaligus memberikan suplemen bagi media dan platform pembelajaran di masa pandemi COVID-19 agar bisa menghadirkan pendidikan yang humanis.

Secara historis, podcast lahir seiring dengan hadirnya iPod produksi perusahaan asal Amerika Serikat yaitu Apple pada tahun 2001. Podcast dapat dikatakan sebagai "iPod Broadcasting" atau siaran menggunakan iPod yang memiliki karakter on demand, yaitu dapat unduh kapan saja dan dimana saja dan dapat didengarkan kapan saja (Mesyanti dan Woro, 2020). Eksistensi podcast terus mengalami peningkatan di beberapa negara. Di negara asalnya, Amerika Serikat, pengguna aktif podcast menurut Reuters Institute menyentuh angka 17 persen pengguna aktif podcast pada tahun 2016, dan mengalami kenaikan dari tahun 2013. Di Indonesia sendiri, sudah banyak khalayak umum yang mengenal dan mengonsumsi podcast. Hasil survei Daily Social bersama JakPat terhadap 2.023 pengguna ponsel pintar dalam "Podcast User Research in Indonesia 2018" menunjukkan bahwa 68% responden Indonesia mengaku familiar dengan podcast dan 81% diantaranya mendengarkan podcast dalam beberapa bulan terakhir. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa pendengar podcast di Indonesia didominasi oleh usia 20-25 tahun, yaitu sebesar 42,12 %. Diikuti oleh kelompok usia 26-29 dan 30-35 tahun. Kebangkitan konten berbasis audio tidak lepas dari perubahan gaya hidup khalayak yang semakin dinamis dan menuntut fleksibilitas (Peny Meliaty, 2020). Pada kuartal II tahun 2019, pengguna aktif podcast mengalami kenaikan sebesar 50 persen pada platform spotify (Wahyunanda: 2019).

Pemanfaatan podcast dalam berbagai bidang semakin meluas, termasuk salah satunya di bidang pendidikan. Penggabungan teknologi dalam pendidikan bukanlah hal yang baru. Teknologi telah memainkan perannya dalam pengajaran dan pembelajaran (Peny Meliaty: 2020). Hal ini menandakan bahwa podcast bisa menjadi salah satu medium yang mampu untuk mengakomodir dan mengoptimalisasikan dinamika pada pembelajaran berbasis digital. Pemanfaatan podcast pada dunia pendidikan juga memiliki beberapa dampak, sebagaimana disebutkan oleh Goldman (2018) di antara dampak penggunaan podcast dalam ranah pendidikan antara lain: (1) podcast dapat menjadi sumber pengajaran inovatif bagi pengajar untuk merancang kegiatan kelas. (2) podcast membantu proses pembelajaran siswa, baik di dalam maupun di luar kelas, (3) podcast dapat meningkatkan kesiapan dan persiapan (readiness & preparation) dari calon pengajar.

Berbagai utilitas yang dibawa oleh podcast memiliki potensi yang cukup praktis dan efisien bagi para guru, akademisi, dan peserta didik dalam mengakomodir pembelajaran di Indonesia pada masa pandemi ini. Dimulai dari segi fleksibilitas, dimana podcast ini dapat didengarkan kapan saja dan di mana saja, sesuai keinginan para penggunanya terutama para peserta pembelajaran. Hal ini tentu menjadi salah satu keuntungan tersendiri dari teknologi podcast yang dinilai fleksibel tempat dan waktu. Dalam pembelajarn daring aspek fleksibel tersebut tentu berguna untuk menutupi kekurangan dari platform video conference, di mana pada pembelajaran berbasis video conference peserta didik diharuskan untuk mengikuti proses belajar dan pembelajaran secara realtime, yang mana dalam pengaplikasiannya mengundang sedikit-banyak dinamika dan polemik yang dinilai bisa mengganggu lajunya proses pembelajaran. Penggunaan podcast sebagai platform pembelajaran juga dapat membantu meminimalisir mispersepsi dan potensi dari peserta didik yang tidak dapat mendengarkan atau mencatat materi yang sedang berlangsung dalam media video conference, akibat dari gangguan sinyal yang menyebabkan suara dan video terputus-putus atau bahkan aplikasi yang berhenti secara mendadak. Masalah tersebut tentu dapat memengaruhi kualitas pembelajaran, di mana peserta pembelajaran akan kurang bisa meresapi abstraksi materi yang disampaikan dan bahkan mengakibatkan pembelajaran yang sedang berlangsung tersebut kurang optimal. Hadirnya podcast dengan segi fleksibilitasnya, mampu melengkapi kekurangan tersebut sehingga peserta didik dinilai dapat lebih memahami konsep, teori dan aplikasi yang mungkin selama ini belum didapatkan selama menggunakan video conference. Selain itu juga podcast dapat memungkinkan siswa untuk reattend atau "hadir kembali" pada pembelajaran di kelas.

Masalah pada penggunaan kuota dalam penggunaan video conference juga menjadi salah satu landasan krusial tentang kurang optimalnya media pembelajaran melalui video conference. Dilansir dari whistleout.com dan merdeka.com, bahwa penggunaan data pada aplikasi zoom dengan menggunakan video call resolusi 720p berdurasi waktu satu jam dapat menghabisakan kuota sebanyak 1,08 giga bytes. Pada aplikasi Google Meet, dengan resolusi High Definition Video Call, dapat menghabiskan 20-40 Mega bytes dalam satu menit. Hal ini tentu menjadi masalah bagi mereka yang harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh namun memiliki hambatan dalam ketersediaan kuota: mahalnya harga kuota bagi peserta didik yang kurang mampu atau terdampak ekonominya akibat pandemi. Bahkan stabilitas sinyal di Indonesia yang belum merata masih menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran berbasis video conference, dimana pada penggunaannya, video conference memerlukan jaringan sinyal yang stabil demi bisa mendapatkan kualitas video dan audio yang baik pada saat pembelajaran berlangsung. Podcast dengan utilitas yang dimilikinya dapat menangani dinamika tersebut melalui kelebihannya dalam hal penggunaan kuota. Dilansir dari hitekno.com, dalam kualitas standar pada aplikasi penyedia podcast, seperti Spotify, penggunaan podcast hanya menghabiskan kuota sebanyak 40 mega bytes untuk kurun waktu satu jam. Hal Ini menimbulkan perbedaan yang cukup jauh dibandingkan pada pengunaan platform video conference dalam jangka waktu yang sama. Lewat salah satu utilitasnya ini, podcast dirasa mampu menutupi dinamika yang terjadi di Indonesia perihal penggunaan jumlah kuota yang masif pada aplikasi video conference dan tingginya harga kuota. Secara tidak langsung hal ini juga berdampak positif pada peminimalisiran pengeluaran anggaran ekonomi keluarga peserta pembelajaran ditengah situasi yang cukup sulit ini.

Podcast telah muncul sebagai fenomena yang sangat menarik bagi sektor pendidikan terutama akademisi, praktisi, dan persaingan bagi teknologi informasi yang digunakan oleh sektor pendidikan di masa pandemi. Di Indonesia, pasar podcast terbilang cukup klise. Banyak dijumpai bahwa podcast ini menjadi salah satu teknologi informasi yang banyak digunakan terutama oleh para influencer kaum millenial. Hal ini dikarenakan podcast sendiri sudah tersedia pada beberapa aplikasi bereputasi tinggi di Indonesia seperti: Anchor, spotify, soundcloud, Apple podcast, dan bahkan ada yang mengkonsepkannya menjadi podcast video yang banyak dijumpai pada aplikasi YouTube. Bertumbuhnya kreasi dan konsumsi podcast yang terus berkelanjutan menunjukkan bahwa podcast tak lagi dapat diabaikan di era digital ini. Insitusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi dapat memanfaatkan dari media pembelajaran digital ini. Guru atau dosen dapat mengangkat pembelajaran siswa menuju level yang baru yakni melalui podcasting. Sebab podcast memberi ruang bagi para pendidik untuk memiliki "one more way to meet today's students where they live on the internet and on audio players (Educause, 2005). Artinya, podcast sebagai teknologi yang sedang tren dan dapat membawa udara segar bagi pembelajaran daring untuk para peserta didik dengan pembawaan yang santai, asyik, namun tetap terarah pada pembawaan materinya.

Selain utilitas dari efisensi waktu, tempat, dan penggunaan kuota. Dalam pengaplikasiannya, podcast juga disinyalir memiliki manfaat sebagai alat pengembangan dan pelatihan kemampuan untuk public speaking. Hal ini tentu menjadi nilai lebih dan kebermanfaatan tersendiri bagi peserta pembelajaran dalam mengatasi ketidakpercayaan dirinya untuk berbicara didepan umum selama ini. Asumsi ini didasari pada penelitian yang berjudul 'Public Speaking Anxiety in Podcast Aided Language Classes', dimana pada penelitian ini dikatakan "podcast can be used as a teaching aid in teaching public speaking skills to provide an authentic environment for practice". Kemampuan public speaking merupakan hal yang mendasar dan wajib dimiliki semua orang, khususnya pada pendidik dan peserta pembelajaran dalam keberlangsungan proses pembelajaran. Hasil pembelajaran yang optimal akan sangat bergantung dari bagaimana kemampuan dan lajunya komunikasi di dalam kelas tersebut. Pembelajaran akan menjadi optimal apabila maksud dan tujuan yang hendak dicapai dalam aktifitas pembelajaran, bisa digambarkan dan dimengerti dengan baik oleh para peserta pembelajaran. Komunikasi menjadi kunci penting dalam aspek pemahaman materi yang sedang berlangsung didalam kelas.

Selain bermanfaat bagi peningkatan kemampuan public speaking, podcast juga dinilai bisa membantu pendidik dalam merancang dan membuat materi pembelajaran yang hendak disampaikannya agar menjadi lebih terarah dan sistematis. Dikutip dari salah satu dampak penggunaan podcast dalam bidang pendidikan, podcast dapat meningkatkan kesiapan dan persiapan (readiness & preparation) dari calon pengajar. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sebelum membuat konten tentang materi yang hendak disampaikan, sang kreator atau pendidik bisa lebih dulu membuat naskah dan narasi yang ingin dibangunnya agar sesuai dengan tema yang hendak dibicarakan dan disampaikan pada saat pembelajaran. Tentu hal ini menjadi nilai lebih yang mungkin tidak terdapat pada video confernce, karena narasi dan deskripsi yang terbangun pada video conference biasanya bersifat langsung, spontan, intusisi dan mengikuti dinamika realita yang sedang terbentuk. Dalam konteks pembelajaran, utilitas dari podcast ini dapat membawa materi pelajaran yang lebih sistematis: pengajar dapat mengkonsepkan berbagai unsur dari pelajaran itu sendiri seperti teori, analisis, serta penerapannya. Lebih dari itu, pengajar juga bisa lebih fokus untuk membangun imajinasi para pendengarnya dalam hal ini peserta didik secara terstruktur dan terhindar dari berbagai hambatan yang terdapat pada penggunaan video conference. Penelitian di UK Open University pun menghasilkan tesis bahwa siswa merespon audio/ suara seperti dalam memahami bahasa lisan, menganalisis musik, mendengarkan suara dosen/ pendidik. Selain itu, siswa mendengarkan percakapan seperti halnya dalam diskusi tugas-tugas. Kemudian siswa mendengarkan fakta, diskusi dan pendapat dari para ahli di bidangnya. Mereka juga didorong oleh suara orang yang mereka kenal dan hormati. Hal ini tentu dapat menjawab permasalahan kehadiran sosial yang selama ini dibutuhkan dalam upaya proses pembelajaran dalam kelas dan menjadi kendala tersendiri selama pelaksanaan pembelajaran daring. Sebagaimana yang disampaikan oleh Soekanto, Kehadiran sosial sangat dibutuhkan antara pendidik dan peserta didik yang berkaitan dengan segala proses sosial termasuk di dalamnya interaksi sosial, sebuah interaksi akan terbentuk apabila memenuhi persyaratan yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial.

Lewat utilitas dan relevansinya terhadap pembelajaran daring diatas, podcast disinyalir dapat menjadi wadah dan platform yang humanis bagi pendidikan di era saat ini. Dimulai dari sisi efektifitas penggunaan waktu, kuota, biaya, dan kelebihannya dalam meningkatkan kemampuan public speaking, tentu menjadi nilai tersendiri bagi podcast sebagai media pembelajaran. Podcast menjadi salah satu platform yang ramah baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di era pandemi. Hal tersebut melatarbelakangi podcast untuk menjadi salah satu tools pendidikan yang humanistik. Hakikat pendidikan humanis adalah upaya untuk mendudukkan manusia pada kedudukannya sebagai manusia yang bermartabat dengan kemanusiaannya. Dalam konteks ini, pendidikan humanis melihat bahwa manusia merupakan subjek atau pribadi yang memiliki hak cipta, rasa, dan karsa. Oleh karena itu, pendidikan yang memanusiakan manusia adalah sebuah keharusan yang terus menerus digelar, karena ini menjadi prinsip-prinsip bagi keberhasilan pendidikan sebagai upaya kecerdasan kehidupan bangsa.

Konsep pendidikan humanis ala podcast ini sendiri disinyalir sejalan dengan pemikiran tokoh yang bernama Paulo Freire. Menurut Freire, Sebagai pembimbing, pendidik harus memposisikan dirinya sebagai penunjuk jalan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya dengan senantiasa mengakselerasi potensi fisik dan psikisnya. Upaya ini akan dapat berhasil secara maksimal apabila pendidik mampu menjadi seorang pembaharu (innovator) dengan berbagai pendekatan, metode, dan teknik yang bervariasi dalam menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan kebutuhan peserta didik akan pengetahuan. Di samping sebagai pembaharu (innovator), pendidik juga harus berfungsi sebagai penyuluh (counselor) dalam membantu peserta didik memecahkan berbagai kesulitan yang mereka dapatkan dalam proses belajar mengajar (Rasyid, 2018).

Freire melihat bahwa pendidikan merupakan sarana membebaskan masyarakat dari kepentingan kelompok elit yang ingin mengeksploitasi masyarakat sebagai obyek kepentingannya. Dari hal ini terdapat korelasi antara podcast sebagai platform pembelajaran yang humanis dan teori humanisasi itu sendiri. Podcast lewat utiltas yang telah dijelaskan diatas telah memberikan ruang dan udara segar terhadap pola pendidikan di Indonesia, khususnya pada saat pembelajaran daring seperti saat ini. Lewat platform pembelajaran podcast, pola dan kultur pendidikan yang selama ini bersifat monoton dan berpusat kepada guru dicoba untuk didobrak. Aspek pembaharuan yang mengedepankan humanisasi ini memaksa Guru atau dosen dapat mengangkat pembelajaran siswa menuju level yang baru yakni melalui podcasting. Sebab podcast memberi ruang bagi para pendidik untuk memiliki "one more way to meet today's students where they live on the internet and on audio players . Artinya, podcast sebagai teknologi yang sedang tren dan dapat membawa udara segar bagi pembelajaran daring untuk para peserta didik dengan pembawaan yang santai, asyik, namun tetap terarah pada pembawaan materinya. Aspek sosial semacam ini tentu sangat berpengaruh guna menciptakan iklim pendidikan yang humanis, karena tanpa adanya pembawaan yang asik dan atmosfer pendidikan yang menyenangkan, mustahil pendidikan itu bisa berjalan dengan humanis dan mampu mengelaborasi dan mengeksplorasi bakat yang dimiliki oleh siswa. Karena pendidikan yang berbasik iklim pendidikan yang tidak ramah sendiri, hanya akan mencitpakan sebuah ketakutan, ranah superior baru antara pendidik dan murid. Gap yang seperti yang kemudian coba dihilangkan lewat podcast sehingga menimbulkan ruang pembelajaran yang nyaman. Selanjutnya aspek ekonomi, podcast berhasil menghadirkan pendidikan yang murah dan dapat dijangkau oleh sebagian masyarakat yang selama ini mungkin terkendala dari ekslusifitasnya  pendikan daring. Selama pendidikan daring dilangsungkan, media terbesar dalam menunjang pembelajaran daring itu sendiri adalah aplikasi berbasis video conference, yang mana justru aplikasi tersebut menciptakan dehumanisasi, sebab karena aspek waktu yang tidak flesible (pembelajaran bersifar real time), belum lagi ditambah masifnya penggunaan kuota terhadap aplikasi tersebut, tentu ini akan membuat gap baru, antara murid yang mampu membeli kuota lebih banyak dan murid yang kurang mampu membelinya. Kelas hanya miliki mereka yang memiliki kuota melimpah dan tidak ada ruang bagi mereka yang tidak memilikinya. Sekalipun pemerintah menghadirkan program bantuan kuota terhadap peserta didik di Indonesia, tetap saja penggunaan aplikasi berbasis video conference kurang mampu menciptakan budaya akademis yang humanis. Lewat beberapa kekurangan aplikasi berbasis video conference yang sudah sempat dijelaskan sebelumnya, aspek dehumanisasi dan ketidakharmonisan pembelajaran dalam masa dari ini dapat terlihat dengan jelas. Mulai dari aspek mentalitas peserta didik, mentalitas pendidik, karakter sosial yang terbangun, dan beberapa hal kecil lainnya yang mampu memengaruhi jalannya pembelajaran.


Daftar Pustaka

Choiroh, Nisaul. (2020). Efektifitas Pembelajaran Berbasis Daring/ E-Learning Dalam Pandangan Siswa. Makalah. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Surakarta.https://iain-surakarta.ac.id/%EF%BB%BFefektifitas-pembelajaran-berbasis-daring-e-learning-dalam-pandangan-siswa/
Donnelly, K.M., & Berge, Z.L. 2006. Podcasting: Co-opting MP3 Players for Education and Training Purposes. Online Journal of Distance Learning Administration, 9 (3)Donnelly, K.M., & Berge, Z.L. 2006. Podcasting: Co-opting MP3 Players for Education and Training Purposes. Online Journal of Distance Learning Administration, 9 (3)
Ebner, Nagler & Saranti. 2007. TU Graz Goes Podcast. Micromedia & Corporate Learning, Proceeding of the 3rd International Microlearning 2007 Conference, Innsbruck University Press, S. 221-234.
Educause “Seven Things You Should Know About Podcasting,” EDUCAUSE Learning Initiative, 2005.
Fadilah, Efi, Pandan Yudhapramesti & Nindi Aristi. (2017). Podcast sebagai Alternatif Distribusi Konten Audio. Kajian Jurnalisme ISSN 2549-0559 (cetak) ISSN 2549-1946 (online) Volume I Nomor 1 Tahun 2017 90.
https://ekorantt.com/2020/05/28/plus-minus-pembelajaran-daring-di-tengah-pandemi/ 28 Mei 2020. Plus-Minus Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi. Diakses pada 8 Oktober 2020.
https://fisipol.ugm.ac.id/membahas-efektivitas-kuliah-daring-bersama-keluarga-mahasiswa-sosiologi/. 9 Agustus 2020. Membahas Efektivitas Kuliah Daring bersama Keluarga Mahasiswa Sosiologi. Diakses pada 10 Oktober 2020.
https://kumparan.com/elsydabestari19/dinamika-pembelajaran-daring-di-tengah-pandemi-covid-19-1tga1RTDrgT. 26 Juni 2020. DINAMIKA PEMBELAJARAN DARING DI TENGAH PANDEMI COVID 19. Diakses pada 10 Oktober 2020.
https://tekno.kompas.com/read/2020/08/31/19170097/cara-menghemat-kuota-internet-saat-menggunakan-zoom?page=all Diakses pada 9 Oktober 2020.
https://tekno.kompas.com/read/2019/08/02/08050027/pendengar-podcast-di-spotify-naik-50-persen diakses pada 8 Oktober 2020.
https://www.hitekno.com/gadget/2018/06/23/173000/inilah-data-yang-dihabiskan-spotify-dalam-waktu-satu-jam Diakses pada 9 Oktober 2020.
https://www.merdeka.com/teknologi/ini-kuota-data-yang-terpakai-untuk-group-call-zoom-dan-hangout-meet-sudah-tahu.html Diakses pada 9 Oktober 2020.
https://www.stkipgetsempena.ac.id/bbg-news/dilema-pendidikan-selama-covid-19-refleksi-hari-pendidikan-nasional.html. 2 Mei 2020. Dilema Pendidikan Selama Covid 19 (Refleksi Hari Pendidikan Nasional). Diakses pada 10 Oktober 2020.
Hutabarat, Peny Meliaty. (2020). PENGEMBANGAN PODCAST SEBAGAI MEDIA SUPLEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL PADA PERGURUAN TINGGI. Jurnal Sosial Humaniora Terapan Volume 2 No.2, Januari-Juni 2020 P-ISSN 2622-1764 E-ISSN 2622-1152.
Ibrahim, Ainol Haryati & Nuraihan Mat Daud. (2013). Public Speaking Anxiety in Podcast Aided Language Classes. World Applied Sciences Journal 21 (Special Issue of Studies in Language Teaching and Learning): 12-18, 2013 ISSN 1818-4952 ©️ IDOSI Publications, 2013 DOI: 10.5829/idosi.wasj.2013.21.sltl.2132
Lorenzo, G. 2006. An introduction to Podcasting. Educational Pathways.
Meisyanti & Woro Harkandi Kencana. (2020). PLATFORM DIGITAL SIARAN SUARA BERBASIS ON DEMAND (STUDI DESKRIPTIF PODCAST DI INDONESIA). Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 4 No. 2 Februari 2020 ISSN. 2527-8673
Nismawati. 2015. Pengaruh Syarat Interaksi Sosial Guru Terhadap Motivasi Belajar Sosiologi Siswa di SMA Negeri 1 Mallusetasi Kabupaten Barru. Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi. Volume 2 nomor 2:86-90.
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Rajawali
Setiawan, Rizki & Eti Komalasari. 2020. MEMBANGUN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DITENGAH PANDEMI COVID-19. Jurnal Ilmiah Penelitian Pendidikan Dan Sosiologi VOL. 4 Nomor 1:1-13 p-ISSN: 2615-1510 (Print)/e-ISSN: 2580-2542 (online).

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x