Mohon tunggu...
Alfi Pangest
Alfi Pangest Mohon Tunggu...

Pembelajar, pekerja sosial, penikmat buku, penggiat pendidikan, pecinta seni dan budaya, desain, serta sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Membedah "Timeline", Film Thailand yang Kaya Pesan Hidup

1 Januari 2015   00:00 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:04 2004 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membedah "Timeline", Film Thailand yang Kaya Pesan Hidup
14200177951970827791


"Mengapa engkau menyuruhku memasak, masakanmu 'kan lebih enak?"

"Andaikan aku tiada, engkau bisa mengurus dirimu sendiri."




[caption id="attachment_344196" align="alignnone" width="600" caption="June dan Tan"][/caption]

Sebuah film yang bagus akan memaksa pemirsanya ikut melibatkan emosinya, sebagaimana yang para pemerannya rasakan ketika beradegan. Namun, tidak semua film bagus mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada pemirsanya. Ada banyak film yang memberikan kesan, tetapi hanya sedikit di antaranya yang sanggup jua menghantarkan pesan.




[caption id="attachment_344197" align="alignnone" width="700" caption="Piyathida Woramusik yang memerankan Mat, dan Jirayu Tangsrisook sebagai Tan"]

1420018988294517765
1420018988294517765
[/caption]

Film berjudul "Timeline 'Letter & Memory'" (ada 2 film Thailand yang berjudul Timeline, yang satunya dirilis tahun 2013 bertemakan kehidupan sekelompok gay) ini dirilis perdana pada 13 Februari 2014 di Thailand, dan di Indonesia sendiri sempat diputar di bioskop-bioskop pada bulan Mei 2014. Disutradarai oleh Nonzee Nimibutr yang dikenal setelah membesut ‘Nang Nak', 'The Tsunami Warrior' dan 'Distortion’. Film yang dibintangi oleh Jirayu Tangsrisook (Tan), Jarinporn Joonkiat (June), dan Piyathida Woramusik (Mat, ibu Tan) ini, mengisahkan kehidupan seorang pemuda dengan dua perempuan hebat di sisinya.

Timeline merupakan sebuah film drama yang secara khusus berusaha memanfaatkan Facebook sebagai medium penyampaian. Muara ceritanya melibatkan video, foto, status, hingga friend request sebagai media cerita. Film ini berpusat pada sosok Tan yang beranjak dewasa dan memasuki fase perkuliahan, di mana ia memutuskan tidak mengikuti impian Ibundanya agar kuliah di Jurusan Pertanian. Tan -- tanpa sepengetahuan Mat, mendaftar sebagai calon mahasiswa Seni Rupa dan Desain di Bangkok. Sebuah keputusan yang pada akhirnya Tan sesali karena di masa itu, bujuk rayu sahabat-sahabatnyalah yang membuatnya memilih berkuliah jauh dari Ibundanya yang hidup seorang diri di Chiang Mai.

14200191291437339424
14200191291437339424

Delapan belas tahun sudah Mat menjanda setelah suaminya meninggal ketika Tan dalam kandungan. Menjadi Ibu sekaligus kepala keluarga yang bekerja demi putra satu-satunya. Mat mengelola perkebunan warisan mendiang suaminya dengan susah payah. Seringkali dirinya dibantu oleh Watt, juragan perkebunan yang sebetulnya menaruh hati pada Mat. Kondisi perkebunan yang tidak menentu memaksa Mat bekerja lebih keras untuk senantiasa menjaga pemasukan keuangan, terlebih sejak Tan kuliah. Situasi ini diperparah dengan fisik Mat yang melemah karena bekerja terlalu keras. Mat bahkan harus dirawat di Rumah Sakit, sebuah masa titik balik yang menyebabkan Tan berubah menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.




[caption id="attachment_344199" align="alignnone" width="700" caption="Tan bersama Orn, kakak kelas yang disukainya"]

14200192361349734579
14200192361349734579
[/caption]

Selama berkuliah di Bangkok, Tan dekat dengan dua orang perempuan yang mewarnai hari-harinya. Yang pertama adalah Orn, kakak tingkat yang empat tahun lebih tua darinya. Demi Orn, Tan rela mengubah dirinya sendiri. Perubahan laiknya cowok masa kini demi mengejar sang pujaan hati *ceilaaah*, Tan membohongi dirinya sendiri untuk bergabung dengan klub Film semata-mata agar bisa mendekati Orn. Pada akhirnya Orn memang tidak menaruh hati pada Tan dan kisah cinta ini berakhir dengan Tan yang mulai terbiasa mabuk untuk melampiaskan kepiluannya.




[caption id="attachment_344203" align="alignnone" width="700" caption="June dan Tan ketika pertama kalinya berkenalan"]

1420019391755755588
1420019391755755588
[/caption]

Lalu, June? Saya harus memberi kredit khusus untuk Jarinporn Joonkiat yang sangat keren memerankan gadis ini. Pertemuan June dengan Tan betul-betul tidak disengaja, keduanya terlambat hadir pada Orientasi Kuliah di hari perdana. Tapi, katanya jodoh memang seringkali bertemu sebab hal-hal tidak terduga seperti itu, bukan? Keduanya semakin dekat setelahnya, tetapi saat June menyadari dia menyukai Tan, ternyata Tan sedang terjangkit sindrom DKT (Demen Kakak Tingkat) kepada Orn yang notabene masih sepupunya. Ada masa-masa yang, uh, diwarnai kesedihan yang teramat dalam. Si June ini tahu, Tan menaruh hati dengan Orn, tetapi itu tidak lantas membuat June terpuruk lantaran cinta yang bertepuk sebelah tangan. June berupaya keras untuk tetap memberikan yang terbaik agar Tan bahagia walau June tahu itu bisa menyakiti hatinya sendiri. Ada momentum ketika Tan kangen tumis benih labu masakan ibunya, dan June seketika berlatih memasak tumis tersebut demi Tan. Masakan tersebut berhasil dibuat setelah sebelumnya berkali-kali gagal, tetapi June tidak dihargai dan memutuskan batal memberikan makanan tersebut untuk Tan. Cinta memang membutakan, tetapi orang seringkali memilih menjadi buta asalkan itu mendekatkannya dengan cinta.




[caption id="attachment_344202" align="alignnone" width="560" caption="June dan Tan"]

14200193651614193602
14200193651614193602
[/caption]

Film ini memiliki beberapa peristiwa penting yang bisa membuat pemirsa geregetan atau bahkan menitikkan air mata. Semasa awal kedatangannya di Bangkok, Tan kurang beruntung karena memiliki sahabat satu kosan yang menyeretnya kepada hal-hal konyol dan negatif seperti gonta-ganti pacar, minum minuman keras di diskotik, dan bergaya hidup hedon. Sebuah ketidakberuntungan yang sebetulnya akrab pula dijumpai di Indonesia, saat pemuda lugu dari kampung "salah gaul" dengan kawan-kawan barunya di kota yang berpotensi mengarahkan masa depan ke arah yang tidak lebih baik. Momentum mengharukan sendiri datang ketika Tan menemukan tumpukan surat, berisi curahan hati Ibundanya menghadapi pahit manis kehidupan untuk menyediakan kebahagiaan bagi satu-satunya buah hati yang dimiliki. Ketegaran bertahun-tahun yang Mat salurkan dengan menulis, di kemudian hari Tan sadar harus melunakkan egonya pascamembaca surat-surat tersebut. Peristiwa mengharukan lainnya ketika Tan stalking linimasa Facebook Kapong -- nama anjing kecil yang Tan temukan kemudian June rawat. Ini adalah klimaks cerita, tidak akan seru bila saya bocorkan hal apa yang Tan temukan di Facebook buatan June ini. Dua peristiwa terakhir mengungkapkan kisah yang sama, perempuan senantiasa ingin terlihat kuat di depan lelaki yang dicintainya, tetapi sedemikian keras ia memendam harus ada pelampiasan seperti dengan menuliskan ceritanya. Dan satu kesimpulan tambahan : lelaki itu memang, ya, payah sekali jikalau berurusan dengan kode, isyarat, dan ragam bahasa tersirat.




[caption id="attachment_344209" align="alignnone" width="600" caption="Salah satu scene manakala Tan dan June terpaksa menghabiskan malam di pulau kecil"]

14200195372122345765
14200195372122345765
[/caption]




Aku mau bilang, di masa yang lalu

aku bisa mengenalmu

Saat kita melakukan hal-hal yang engkau suka

... aku merasa senang

Aku berharap semoga hidupmu menyenangkan,

bisa melakukan apa yang engkau inginkan

Jika ada hari itu,

aku pasti akan merasa sangat senang

Aku amat senang bisa mengenalmu,

memiliki kesempatan bertemu,

dan kesempatan mencintai,

meski ini hanya di pikiranku saja (video terakhir June kepada Tan)

Percakapan di awal tulisan ini adalah obrolan Mat dengan sang suami di awal masa pernikahan. Ayah Tan mengajarkan Mat satu hal penting, untuk menghadapi kehidupan tanpa ketergantungan terhadap sesuatu secara berlebihan. Hal ini diturunkan pula oleh Mat kepada Tan sedari kecil, kemandirian dan optimisme hidup sebagai modal dasar seseorang hidup dan memiliki arti hidup. Tan sendiri pernah mengalami masa di mana ia tak tahu apa tujuan hidupnya, selain dia enggan bertani di kampung. Sampai akhirnya June menuntun Tan memaknai hidupnya, bahwa arti sejati kehidupan ialah tatkala kita melakukan apa-apa yang kita sukai. Salah satunya, dengan mewujudkan impian orang yang kita cintai.




[caption id="attachment_344206" align="alignnone" width="700" caption="Pemandangan alam kerap disuguhkan sepanjang film"]

14200194742011384128
14200194742011384128
[/caption]

Meskipun mengambil judul dan plot yang berkaitan dengan Facebook, agaknya pembuat film kurang memperhatikan detail. Timeline yang harusnya bisa membuat pemirsa terlibat emosinya -- dengan asumsi semua pemirsa punya akun Facebook dan memahami fitur-fiturnya, menjadi kurang maksimal sebab koneksi cerita dengan Timeline Facebook hanya serius ditunjukkan di akhir film. Padahal banyak scene yang menggunakan telepon, sms, chatting, update post, hingga melihat video di Youtube. Akan lebih baik, manakala percakapan di telepon, chat, email, dan sms, mamanfaatkan semua fitur Facebook. Ini memang akan menyebabkan film terlihat Facebook-sentris, tetapi risiko ini harusnya disadari ketika pembuat film memutuskan membuat film yang bertema Facebook. Dan bila ada yang bertanya, mengapa mengambil judul "Timeline"? Silakan tonton film ini sampai selesai.




[caption id="attachment_344215" align="alignnone" width="630" caption="June yang berhasil mencapai salah satu mimpinya, studi sekaligus traveling ke Jepang, kalau tidak salah ini scene di sekitar Toyama"]

14200197541505530706
14200197541505530706
[/caption]

Film ini tidaklah sempurna, tetapi cerita berdurasi 130 menit ini banyak memberikan pelajaran bagi pemirsanya. Film ini mengajarkan betapa hebatnya perjuangan seorang Ibunda untuk membahagiakan sekaligus mensukseskan anaknya, meskipun ini harus ditebus dengan pengorbanan perih. Mat memiliki rumah dan kebun yang merupakan amanah dari sang suami untuk ia jaga juga kelola, ia sangat ingin Tan berkuliah di Jurusan Pertanian yang kampusnya lebih dekat dengan rumah dan kebunnya. Sebab cepat atau lambat kebun itu akan diwariskan kepada putra satu-satunya itu. Namun, Mat sadar bahwa putranya harus melihat luasnya dunia, meskipun ia sangat khawatir Tan bisa salah pergaulan di Bangkok nantinya. Film ini juga memberikan pelajaran tentang arti mencinta. Mencintai itu bukan perkara sederhana supaya dicintai balik tapi bagaimana memberikan yang terbaik. Seperti June yang memberikan waktunya, tenaganya, materinya, pikirannya, dan hatinya untuk membahagiakan Tan tanpa berupaya mengubah dirinya sendiri. Sedangkan Tan, dia memang berkorban tetapi ia selimuti kebohongan agar disukai balik oleh Orn. Hasil kedua upaya mencintai ini pun berbeda, yang bertahan ialah yang sejati dan yang palsu akan mati.




[caption id="attachment_344218" align="alignnone" width="610" caption="Poster Film "]

1420019933358713188
1420019933358713188
[/caption]

Film ini memang bukan film baru, saya sendiri kebetulan mendapatkan film ini dari rekomendasi teman. Tapi menurut saya film ini sangat baik untuk dijadikan tontonan bagi yang berusia 17 tahun ke atas. Tidak ada adegan atau bahasa yang menjurus kepada seksualitas atau kekerasan, tetapi isi ceritanya terlalu berat bila harus dicerna oleh remaja di bawah 17 tahun. Ohya, buat Anda yang pernah melihat Serial TV Jepang "Tokyo Tower : Me, Mom, and Sometimes Dad", film ini sedikit banyak memiliki kesamaan alur cerita. Akting pemainnya bagus, saya pribadi sangat menyukai bagaimana Jarinporn Joonkiat dan Piyathida Woramusik berperan di sini. Pengambilan gambarnya baik, pemandangan alam pedesaan dan keramaian perkotaan Thailand sukses ditangkap dalam proporsi yang pas. Ohya, beberapa adegan di Jepang juga membius mata saya, terutama scene di laut yang membuat saya penasaran untuk bisa traveling kesana. Saran perbaikan mungkin apabila scoring music lebih baik, akan jadi nilai tambah tersendiri. Secara keseluruhan, film ini saya nilai 80/100.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x