Mohon tunggu...
Alfiansyah_senja
Alfiansyah_senja Mohon Tunggu... Penulis artikel, foto, dan traveling

Lahir dan besar di kota Balikpapan. "Setiap Malam adalah Sepi" adalah novel perdana yang berhasil dicetak lewat proyek indiependent. Novel ini bercerita tentang kehidupan urban seorang pekerja yang bekerja di malam hari di Kota Balikpapan.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Yang Kami Butuhkan Bukan Kecap-kecap, Bung!

12 Juni 2020   23:13 Diperbarui: 12 Juni 2020   23:13 53 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yang Kami Butuhkan Bukan Kecap-kecap, Bung!
Ziarah ke Makam Bung Karno

OLEH : ALFIANSYAH

Sebelum penyair Sapardi Djoko Damono menulis "Hujan Bulan Juni"-nya, yang penggalan puisinya di kutip  orang agar kesannya romantis atau mencoba sok romantic. Jauh dari kesan romantika nan mendayu-dayu, ada dua peristiwa bersejarah  yang dihadirkan di bulan Juni. Hari Lahir Pancasila yang jatuh di tanggal 1 Juni dan hari lahir Soekarno, yang lahir di tanggal 6 Juni.

Mengingat bulan Juni, saya mencoba mengingat kembali memori saya, 3 tahun silam. Ketika berziarah ke makam Soekarno, bapak pemersatu bangsa itu.  

***
Kereta yang membawa saya dari Malang, Rabu (17/5/2017), tiba juga di Stasiun Blitar, Jawa Timur. Siang itu, sekitar pukul 10.00 WIB, matahari begitu menyengat. Ini pertama kalinya saya naik kereta api dan langsung menuju ke Blitar. Di luar stasiun, sudah ada kereta kuda dan ojek yang menawari saya.

"Mau ke makam Bung Karno, Mas?"

"Berapa?"

Saya masih belum bisa memutuskan. Perlu lobi-lobi harga dulu. Sudah berapa tukang ojek yang menawari saya dengan tawaran yang sama :

"Mau ke makam Bung Karno?"

Karena duit yang saya bawa lumayan, jadi saya harus benar-benar irit. Harganya tetap saja. Naik ojek dari stasiun ke Makam Bung Karno, Rp.15.000. Baiklah, dari awal niat saya ke Blitar adalah ke makam Bung Karno. Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot, akhirnya saya membayar Rp 40.000 untuk di antar PP ke makam si Bung. Tambahan Rp 10.000, sebagai ongkos menunggu saya agar saya dijemput. Harap maklum.

Saya masuk di pintu utama depan. Saya lihat, ada patung Bung yang sedang duduk, melipat kakinya, memakai kopiah, membaca buku, namun menatap ke arah lain dengan pandangan yang tajam. Banyak yang ingin berfoto dengan patung si Bung. 

Dari patung itu menandakan, semasa hidupnya, si Bung ini selalu keren, karismatik, serta berawawasan luas karena rajin membaca. Pantas saja ia disebut sebagai pemimpin flamboyan,  namun segala kepentingan ide-ide briliannya, semata-mata untuk memerdekakan Indonesia.

Ziarah ke Makam Bung Karno
Ziarah ke Makam Bung Karno
Tak ada waktu untuk berlama-lama, karena tiket kereta api yang saya kantongi akan berangkat sekitar pukul 13.00 WIB.

Saya pun jalan, melewati Gapura Candi Bentar, di cungkup utama makam, sudah ada puluhan warga yang duduk bersila. Makam Soekarno tak sendiri, tepat di bagian kiri dan kanan, dihapit oleh Makam Ayahanda R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ibunda. dan lbunda Ida Aju Njoman Rai.

Terus terang, hari itu panas sangat menyengat, tapi para peziarah tak memperdulikan hal itu.Penjaga makam, dengan suara microphone memanggil para peziarah yang belum berdoa untuk berkumpul di sekitar area makam. Mereka membuka alas kaki, menaiki anak tangga, dan duduk bersila. 

Kawula tua, muda, dan anak-anak membacakan shalawat nabi, surah-surah pendek, atau lafal al-quran secara bersama-sama, serempak, dan penuh khidmat. 

Dan ada juga beberapa orang yang memilih agak menjauh untuk memanjatkan doa. Toh, semua orang punya caranya masing-masing. Yang jelas niatnya : memanjatkan doa dan harapan di makam Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Saya juga melihat ada pasangan suami-istri dari Kalimantan Utara, memakai baju adat Dayak. "Saya dari Kalimantan Utara. Asli Dayak. Saya ke Blitar untuk berziarah ke makam Bung Karno," katanya.

Para peziarah datang dari berbagai penjuru Indonesia. Setelah selesai berdoa, kadang peziarah memegang batu nisan makam Soekarno, sambil menutup mata, setelah itu menabur bunga dan air. Pun juga ada peziarah yang meneteskan air mata.

Semakin menegaskan, julukan "penyambung lidah rakyat" memang tepat bagi si Bung yang akrab memperjuangkan kaum Marhaen ini.

"Saat ini memang butuh pemimpin seperti Soekarno. Tegas, berani, cerdas, dan disegani oleh negara lain," kata salah satu pengunjung, yang secara tak sengaja saya dengar ketika ia berbicara dengan temannya.

Tahun 2017 dan selanjutnya, adalah era di mana teknologi semakin berkembang pesat, serta peperangan internal politik di Tanah Air tetap saja tak ada habisnya.

Sudah terlalu banyak teori negara yang tercipta, mulai dari ekonomi kapitalisme Adam Smith, sang bapak komunis Karl Marx menulis das kapital yang menggerakkan buruh di belahan dunia, fundamentalisme, ultra nasionalisme, dan isme-isme lainnya, sampai pada nasionalisme Soekarno dan kawan-kawan memerdekakan Indonesia, lalu, dewasa ini teori-teori atau paham-paham radikal yang datang dari kelompok yang menamakan dirinya paling benar.

Toh, tonton saja di televisi atau di media sosial, semua tak ada habisnya memperdebatkan siapa benar dan siapa salah. Coba saja semua berpikir, bagaimana semuanya tak mengaku benar, sama-sama saling melindungi untuk mencapai suatu kebenaran dan kesepakatan bersama. Berbhineka Tunggal Ika. Bisa kembali lagi ke butir-butir Pancasila---betapa bersahajanya  negeri ini.

Maka dari itu, yang banyak kecap dengan teori handalnya, saya tak bisa bedakan, mana yang bisa dijadikan untuk patokan pemersatu atau ambisi perebutan kuasa.

Ah, sudahlah, ini waktunya untuk tak berbicara politik. Ada baiknya, Anda mengasingkan diri dahulu agar tahu perjuangan bangsa sesungguhnya, tidak dari 'kecap-kecap' atau omongan besar. Saran saya, mungkin salah satunya dengan cara berziarah. Ziarah adalah suatu cara agar kita-kita ini jangan bertindak melebihi langit. Mesti tahu diri bahwa kita-kita ini akan kembali ke tanah.

Si Bung telah tiada. Namun apa yang ia wariskan terhadap bangsa tak akan dilupa. Bagaimana ia diasingkan dan dikucilkan. Itu semua untuk menghapus dan membebaskan Indonesia dari penjajahan imperalis dan ekonomi kapitalis.

Cobalah untuk merenungi perjuangan si Bung. Bagaimana Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, serta seluruh pahlawan mulai dari kalangan intelektual atau saudara/i "bambu runcing" itu berjuang mempertahankan tanah Indonesia. Sudah berapa juta rakyat Indonesia gugur di tangan penjajah?

Jaman memang sudah berubah, Bung. Di tengah hiruk-pikuk pergumulan politik yang semakin tak karuan, membuat orang-orang tak percaya lagi dengan namanya wakil rakyat. Percayakah Anda dengan wakil rakyat? Dan, apakah Anda semua ada waktu singkat untuk mendoakan wakil rakyat yang "cari aman" nyaman-sentosa? Masih percayakah! Atau, justru disetiap doa yang Anda panjatkan, terselip doa agar doa rakyat yang selalu dizolimi benar-benar dikabulkan.

Dan lagi-lagi, apakah wakil rakyat perlu didoakan, agar otaknya bisa lurus kembali, agar tak bertindak semena-mena layaknya seorang raja yang mementingkan dirinya pribadi. 

Tak selalu hidup dalam dinamika sosial yang memecah belah umat, cari aman, kejar proyek, tergiur modal investor asing, selalu mencari kesalahan seseorang, atau sekedar mencari empati agar dikasihani atau dibanggakan ketika melakukan aksi sosial lalu meng-upload-nya di media sosial milik pribadi, atau diam-diam menikam dari belakang?

Saya paling ampuh mendengar para mulut besar yang berbicara teori nasionalisme di sebuah seminar atau debat-debat yang dihadiri orang penting---tapi saya biasa menguping, lho. 

Berbicara bagaimana konsep negara, mau di bawa ke mana Indonesia, ngomong selangit sehingga lupa diri bahwa mereka berdiskusi di Star Bucks, KFC, atau bekerja di perusahaan asing di Indonesia, yang memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lipat namun lupa bayar pajak.

Bung, kami tak butuh itu semua. "Kecap-kecap" memang perlu dibutuhkan untuk meyakini bahwa Anda adalah kalangan terdidik---apalagi saat berkampanye. Tapi, cukuplah mengutip apa kata rakyat jelata : Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata, bukan maya.

Sebagai bahan perenungan, saya kutip beberapa kutipan pidato Soekarno :

Kita ingin mendirikan satu Negara, "semua buat semua", bukan Negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan Negara "semua buat semua".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x