Mohon tunggu...
Meirri Alfianto
Meirri Alfianto Mohon Tunggu... Seorang Ayah yang memaknai hidup adalah kesempatan untuk berbagi

Ajining diri dumunung aneng lathi (kualitas diri seseorang tercermin melalui ucapannya). Orang Teknik yang jatuh cinta dengan sastra adalah saya

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Overthinking karena Tekanan Pekerjaan Itu Sungguh Menyiksa

27 Maret 2021   12:00 Diperbarui: 28 Maret 2021   08:19 294 40 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Overthinking karena Tekanan Pekerjaan Itu Sungguh Menyiksa
Ilustrasi stres karena tekanan kerja. Gambar: Pixabay | Geralt

Memikirkan sesuatu secara berlebihan itu memang tidak baik. Memikirkan satu hal dengan berlarut-larut bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental kita. Tidak hanya mental, tetapi juga bisa berpengaruh pada kesehatan jasmani. Makna "overthinking" bagi sebagian kita mungkin masih asing. 

Bersumber dari Alodokter, Overthinking dimaknai sebagai perilaku memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Hal ini bisa dipicu oleh adanya kekhawatiran akan suatu hal, mulai dari masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari, masalah besar, hingga trauma di masa lalu, yang membuat kita tidak bisa berhenti memikirkannya. 

Seharusnya sih idealnya memang suatu masalah itu tidak dipikirkan secara berlebihan. Sayangnya didunia ini tidak selalu berjalan dengan ideal. 

Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindari sesuatu meskipun kita tahu hal itu tidak baik. Niat hati tak mau memikirkan. Tetapi terus dijejali pada perkara yang sama setiap hari. 

Mau tak mau ya akhirnya dipikirkan juga. Ketika pikiran itu terakumulasi terus-menerus seperti gunung es, maka kemudian menjadi beban psikologis. 

Itulah yang pernah saya alami dulu ketika suatu kali saya bekerja di perusahaan dengan tekanan kerja yang tinggi (high pressure). Saya sebut bertekanan tinggi karena kombinasi dari beberapa faktor yang membuat suasana kerja sama sekali tidak nyaman. 

Pertama, dikejar deadline sehingga setiap hari saya harus pulang malam. Seringkali malah sampai tengah malam. 

Kedua, pekerjaan seperti tidak pernah habis. Tak ada waktu untuk refresh sejenak. 

Ketiga, atasan yang tidak bersahabat, cenderung mudah marah dan kasar. Ketiga faktor tersebut seperti menghujam kepala saya terus-menerus. Sudah bekerja mati-matian, takada apresiasi. Salah sedikit, atasan ngomel. Akhirnya tak hanya capek secara psikis, tetapi juga fisik.

Dampaknya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN