Mohon tunggu...
Meirri Alfianto
Meirri Alfianto Mohon Tunggu... Seorang Ayah yang memaknai hidup adalah kesempatan untuk berbagi

Ajining diri dumunung aneng lathi (kualitas diri seseorang tercermin melalui ucapannya). Orang Teknik yang jatuh cinta dengan sastra adalah saya

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Saya Bukan Produk SNMPTN, tapi Saya Bisa!

25 Maret 2021   11:57 Diperbarui: 26 Maret 2021   10:34 1622 67 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saya Bukan Produk SNMPTN, tapi Saya Bisa!
Perguruan tinggi favorit di Indonesia. Gambar: Tribunnews.com

SNMPTN bukanlah akhir dari segalanya. Baik yang diterima maupun gagal. Buat adik-adik yang diterima, Selamat atas keberhasilannya. Ini awal atas sebuah perjalanan yang baru untuk menggapai mimpi dan cita-cita. Buat yang belum diterima, bukan berarti bodoh. Adik-adik hanya kurang beruntung saja. Ayo bangun dan bangkit. 

Diterima di perguruan tinggi negeri tidak menjamin seseorang untuk sukses. Ya, kuliah hanyalah gerbong yang akan membawamu untuk sampai ke tempat tujuan. Ada banyak gerbong lain yang siap untuk membawamu kesana. Perlombaan belum usai, kamu belum sampai ke garis finish. Jadi tegakkan kepala lalu melangkah tegap dengan penuh harapan dan keyakinan.

Tak dapat dipungkiri, diterima di perguruan tinggi negeri favorit tentulah memiliki kebanggaan tersendiri. Baik bagi diri sendiri maupun orang tua. Ada semacam cap atau stigma hebat yang melekat bila bisa lulus SNMPTN. Apalagi bila diterimanya di perguruan tinggi favorit. Itu adalah prestise tersendiri. Bagi yang gagal jalur SNMPTN lalu menempuh kuliah di swasta dianggap kurang pinter. Sayangnya di masyarakat kita masih banyak anggapan yang demikian sehingga gagal dalam masuk perguruan tinggi negeri menjadi beban psikologis tersendiri untuk siswa. Yang terlanjur goyah bisa saja ngedrop karena putus asa. Jangan, jangan goyah! Ayo lanjutkan perjuanganmu..

Mari berpikir jernih. Sedikit sharing, saya bukanlah produk SNMPTN yang kala itu masih bernama SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Saya tak pernah ikut SPMB. Memang dulu saya sempat ingin sekali kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Itu adalah kampus impian masa kecil saya. Maka saat memasuki kelas akhir SMA, saya ikut UM (Ujian Masuk) UGM. UM UGM adalah ujian masuk yang diselenggarakan secara mandiri oleh Universitas. Pelaksanaannya sebelum SPMB. 

Singkat cerita, saya gagal. Sempat drop, tetapi orang tua menyemangati saya dan mengarahkan saya. Orang tua saya tahu betul bahwa saya sudah sangat mengidam-idamkan untuk bisa masuk ke UGM. Semangat dari orang tua membuat saya bangkit. Lalu saya mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di ATMI Surakarta (sekarang bernama Politeknik ATMI Surakarta). Kampus ini adalah salah satu kampus teknik unggulan. Saya berjanji pada diri saya sendiri, kalau saya berhasil masuk ATMI, saya tak akan ikut seleksi lagi di manapun termasuk SPMB. 

Dan benar, saya diterima. Tiga tahun saya menempuh pendidikan D3 di kampus yang terkenal amat disiplin itu. Saya ditempa di sana menjadi pekerja teknik yang terampil. Sebelum lulus, mahasiswa di kampus kami sudah direkrut oleh perusahaan-perusahaan yang sengaja ingin mempekerjakan tenaga lulusan ATMI. Saya sendiri mendapatkan beasiswa ikatan dinas dari sebuah perusahaan swasta di Tangerang. Lumayanlah untuk membantu biaya kuliah. Sehingga selepas lulus kuliah saya langsung bekerja di perusahaan itu.

Lulus D3 belum membuat saya puas. Sembari bekerja, saya melanjutkan pendidikan Strata satu (S-1) di Universitas Mercu Buana Jakarta. Dengan bekerja, saya bisa membiayai kuliah sendiri. 1,5 tahun waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pendidikan untuk menjadi seorang sarjana teknik. Tak cukup hanya sampai di sana, saya pun melengkapi diri dengan berbagai sertifikasi keahlian. Hidup merantau sendiri, bekerja, dan kuliah. Itulah perjuangan.

Dunia kerja tidak sama dengan dunia pendidikan

Dunia kerja amatlah berbeda dengan dunia pendidikan. Dunia kerja tidak hanya memandang kecerdasan otak (IQ) saja tetapi juga EQ (Emotional Quotient). EQ atau kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Tidak hanya hard skill, tetapi juga soft skill. Justru soft skill yang lebih diutamakan. Maka sepintar apapun seseorang, bila tidak disertai soft skill, ia akan terpinggirkan dengan sendirinya. Soft skill adalah kemampuan komunikasi, karakteristik seseorang, kecerdasan sosial yang melekat, serta kemampuan beradaptasi dengan baik di dalam kehidupan maupun dunia kerja. Justru soft skill inilah yang membuat kita bisa berkompetisi menjadi pekerja yang kompetitif.

Saran bagi yang belum berhasil dalam SNMPTN

Bagi yang belum berhasil, janganlah berkecil hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN