Mohon tunggu...
Meirri Alfianto
Meirri Alfianto Mohon Tunggu... Insinyur - Seorang Ayah yang memaknai hidup adalah kesempatan untuk berbagi

Ajining diri dumunung aneng lathi (kualitas diri seseorang tercermin melalui ucapannya). Saya orang teknik yang cinta dengan dunia literasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perlukah Pria Ikut Menyapu Rumah?

25 Juli 2020   08:10 Diperbarui: 25 Juli 2020   08:00 559
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Screenshot berita dari laman kompas.com

Jika saya menulis judul tersebut bukan berarti diartikan secara harfiah sebagai pekerjaan menyapu. Tetapi menyapu dalam tanda kutip yang dimaknai sebagai pekerjaan rumah secara umum. 

Ada sebuah artikel menarik yang saya baca di laman kompas.com pada Kamis 23 Juli 2020 kemarin. Perlukah seorang pria ikut membereskan pekerjaan rumah bersama dengan istrinya? Bila anda adalah pria yang malas untuk menyapu dan mengepel lantai, urusannya akan runyam bila anda hidup di India. Anda akan diadukan pada Perdana Menteri!

Ya, seorang aktivis perempuan bernama Subarna Ghosh membuat petisi yang ditujukan untuk Perdana Menteri India, Narendra Modi. Petisi itu berisi permohonan agar para Pria di India didorong untuk mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Pangkal masalahnya adalah karena ia tidak tahan untuk membersihkan rumah dan memasak sembari bekerja dari rumah selama Work From Home (WFH). Hingga artikel ini saya tulis, petisi tersebut sudah berhasil mendapatkan sebanyak 70.000 tanda tangan.

Di India, ada semacam budaya bahwa pekerjaan rumah itu hanya dikerjakan oleh para wanita. Bahkan anak laki-laki pun tidak terbiasa turun membantu pekerjaan rumah orang tuanya. Oke, itu tadi di India. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Saya pikir sama saja. Ada semacam aturan tak tertulis.

Ada kultur budaya patriarki yang merupakan sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.

Meskipun ada undang-undang yang mengatur kesetaraan gender yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam berbagai aspek, namun tampaknya masih ada anggapan dalam sosial masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan rumah itu adalah milik perempuan.

Pekerjaan Rumah itu Bukan Pekerjaan Ringan

Pekerjaan rumah itu memang sepertinya sepele. Apalagi bila istri tidak bekerja dan mengambil peran sebagai ibu rumah tangga. Banyak suami yang beranggapan bahwa "oh, saya kan sudah capek cari uang buat istri dan anak. Sedangkan istri hanya ngurusin rumah dan anak saja masak tidak becus". Itu berdasarkan pengalaman yang banyak saya jumpai dalam pengalaman hidup saya. Padahal anggapan seperti itu salah. Jika tidak percaya cobalah sendiri.

Pernah suatu hari istri saya bekerja dan kebetulan saya masih mendapatkan jatah libur dari perusahaan. Karena saya libur, maka anak yang biasa kami titipkan, hari itu tidak kami titipkan. Ia seharian bersama dengan saya. Waktu itu anak saya baru berusia kira-kira 9 bulan. Belum bisa berjalan, baru merambat-rambat kesana-kemari.

Saya rasakan seharian tanpa istri yang membantu momong dan mengerjakan pekerjaan rumah, itu capeknya minta ampun. Jadi jangan sekali-sekali beranggapan bahwa istri yang tidak bekerja itu tidak capek dalam mengurus rumah. Mungkin malah ia lebih capek daripada suami yang bekerja. Yang tidak bekerja saja capek mengurus rumah apalagi istri yang bekerja. Maka sudah seharusnya pria itu ikut aktif dalam membereskan pekerjaan rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun