Mohon tunggu...
Alfarisma Melandika
Alfarisma Melandika Mohon Tunggu... Lainnya - Pecinta kopi, coklat, hujan, dan senja

Terus belajar dan tidak berhenti belajar karena hidup tidak pernah berhenti mengajarkan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tentang November

11 November 2022   21:09 Diperbarui: 29 November 2022   16:57 127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar ilustrasi (sumber: viva) 

Malam kesepuluh di bulan November
Purnama terangi semesta
Sirnakan kegelapan dan kelamnya malam
Di tengah hening kesunyian

Tapi tidak dengan hatiku
Yang berkecamuk dengan ketidakpastian
Pamit yang kau serukan sore tadi
Serupa badai yang menghantam pikiranku
Menenggelamkan seluruh asaku

Akankah kau biarkan biduk
Yang telah melewati separuh perjalanan itu
Terombang-ambing di antara hempasan ombak
Hingga karam di tengah lautan

Banyak tunas-tunas yang mulai tumbuh
Membutuhkan sentuhan tanganmu
Banyak raga yang menitipkan asanya padamu
Banyak tatapan mata yang menantikan langkahmu

Malam ini tak lagi kudekap erat mimpi-mimpi itu
Kubiarkan menggantung di awang-awang
Pintaku, pagi kan membangunkanku
Bersama mimpi-mimpi itu
Dan pamitmu hanya serupa desiran angin
Yang singgah sejenak lalu pergi

Tarakan, 11 November 2022

Baca juga: Pahlawanku

Baca juga: Sepuntung Rokok

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun