Mohon tunggu...
Alfarisma Melandika
Alfarisma Melandika Mohon Tunggu... Lainnya - Pecinta kopi, coklat, hujan, dan senja

Terus belajar dan tidak berhenti belajar karena hidup tidak pernah berhenti mengajarkan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Secangkir Kopi Hitam

28 Oktober 2022   14:42 Diperbarui: 28 Oktober 2022   14:50 116
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi kopi hitam (sumber : aoglamedia.com)

Rintik hujan yang berdendang di atap rumah
Membangunkanku dari buaian mimpi
Enggan rasanya tuk menyapa pagi
Dingin masih menyelimuti sekujur tubuh

Kuseduh kopi hitamku di cangkir putih
Aromanya menyadarkan jiwaku yang belum kembali sepenuhnya
Tapi lidah menolak panasnya
Walau bibir ingin segera menyeruputnya

Rintik telah kembali dan jingga telah menampakkan wujudnya
Kubawa secangkir kopiku di bawah rindang dedaunan pohon mangga
Sesekali semilir angin menyibak rambutku
Dan tetesan air dari dedaunan
Sisa hujan tadi membasahi pipiku

Seekor burung pipit jalan tertatih-tatih
Datang menghampiriku
Dia telah kehilangan kedua sayapnya
Kuberikan segenggam makanan tuk mengisi perut kosongnya
Tapi dia menolaknya

Baca juga: Setitik Harap

Ternyata bukan makanan yang dia minta
Dia hanya ingin aku membantunya naik ke atas pohon
Dia ingin mematuk sendiri biji-bijian yang ada di pohon itu
Oh burung pipit yang malang
Kopi hitamku yang pahit ini
Terasa begitu nikmat dengan hadirmu pagi ini

Tarakan, 28 Oktober 2022

Baca juga: Lepas

Baca juga: Cinta Pertamaku

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun