Mohon tunggu...
Alfarisma Melandika
Alfarisma Melandika Mohon Tunggu... Lainnya - Pecinta kopi, coklat, hujan, dan senja

Terus belajar dan tidak berhenti belajar karena hidup tidak pernah berhenti mengajarkan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sekuntum Krisan Putih

5 Oktober 2022   13:15 Diperbarui: 5 Oktober 2022   13:29 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Sekuntum krisan putih di padang gersang
Terlihat elok nan menawan
Harumnya semerbak mewangi
Bak oase di tengah gurun pasir

Sekuntum krisan putih itu kini tak lagi memesona
Kelopaknya berguguran satu demi satu
Daunnya menguning mulai layu
Rantingnya mengering hampir patah
Hidup hanya tinggal menghitung hari

Sekuntum krisan putih nan suci itu
Telah dijamah sang putri yang angkuh
Yang melangkah dengan pongah
Disiraminya dengan dusta dan nista
Dipupuknya dengan nafsu dan ambisi
Demi sebuah kata popularitas

Baca juga: Cerita Siang Ini

Kini sang putri telah pergi
Berkelana menuju istana baru
Pergi meninggalkan sekuntum krisan putih yang telah terpuruk
Hancur terkoyak-koyak tak bermakna
Sekuntum krisan putih itu hanya terdiam dalam luluh lantaknya
Termenung merutuk diri
Seraya bermunajat pada Sang Kuasa
Berharap asa masih sempat digapai
Kembali mekar tebar keindahan

Tarakan, 5 Oktober 2022

Baca juga: Kita Adalah

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun