Mohon tunggu...
M. Ramadhana Alfaris
M. Ramadhana Alfaris Mohon Tunggu...

Existentialism Researcher. Dosen di Fakultas Hukum, Universitas Widyagama Malang

Selanjutnya

Tutup

Politik

Meningkatkan Kualitas Karakter Bangsa Pancasila

5 Februari 2017   20:31 Diperbarui: 5 Februari 2017   20:38 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ibarat angka satu sampai dengan sepuluh, mulailah dari yang tengah yaitu angka lima,karena dari yang tengah itu kita bisa jatuh menjadi nomor sepuluh, dan kitajuga bisa naik menjadi nomor satu. Tengahnya adalah hati.

Karakter bangsa merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam membentuk suatu Negara yang kokoh. Hal tersebut dapat dirasakan  oleh banyak pihak bahwa dinegeri ini antara lain terjadinya distorsi dan degradasi moral. Hal ini sangat memprihatinkan karena pasalnya bangsa Indonesia dikenal oleh  dunia internasional sebagai bangsa yang ramah, baik hati, menjunjung tinggi sopan santun dan hidup bergotong-royong, namun kini telah berubah jati dirinya. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dalam tayangan televisi dan media massa, seperti berbagai peristiwa tindak  kekerasan, kejahatan, pelecehan seksual, terorisme, korupsi,dan lain sebagainya. Insiden-insiden tersebut dapat dikatakan keluar dari normatif pancasila yang mana pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia.

Di sisi lainnya Pancasila yakni, dalam berdemokrasi dan berpolitik kini telah kehilangan jiwa demokrasinya, di mana demokrasi yang dijalankan sekarang ini lebih banyak mengarah kepada demokrasi prosedural. Demokrasi yang melegitimasi kekuasaan karena telah menjalankan proses demokrasi sesuai prosedur yang telah ditentukan. Pasalnya, demokrasi yang haqiqi belum berjalan dengan baik dengan belenggu politik uang dan munculnya parapemimpin instan dengan modal uang dan popularitas semata. Partai politik sebagai ujung tombak pendidikan politik rakyat yang tidak bisa menghindar dari  praktik politik uang untuk meningkatkan pengaruh dan elektabilas partai dan politisinya.  Tidak ada partai politik yang mau bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter bangsa. Seyogianya, partai politik memiliki kerangka kerja dalam hal pembangunan nilai-nilai dan karakter bangsa Indonesia dengan ideologi pancasila. 

Bangsa Indonesia kini tengah berada di persimpangan jalan di mana hal tersebut harus memilih ke salah satu jalan yang memiliki tujuan pasti dan jalan tersebut merupakan penentu bagi bangsa. Di tengah-tengah gelombang pengaruh globalisasi dan modernisasi yang demikian deras datangnya dari luar kehidupan kita sebagai akibat cepatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan terjadinya globalisasi dalam semua aspek kehidupan. Suasana yang demikian, bangsa kita melakukan upaya-upaya reformasi sistem dan revitalisasi di segala aspek kehidupan bernegara. 

Mensinyalir bahwa kerangka kerja pembangunan yang lebih mengutamakan aspek material semata, dan kecilnya penanaman karakter yang dilakukan orde baru telah mengesampingkan keragaman dalam kesatuan yang menjadi salah satu modal dasar pembangunan. Minimnya perhatian terhadap aspek karakter bangsa terjadi kembali pada masa reformasi sekarang ini. Perilaku pragmatis telah merambah segenap aspek kehidupan, tidak hanya politik dan ekonomi bahkan sampai ke dalam dunia pendidikan.

Oleh karenanya, banyak kasus yang menjadi gambaran seperti, para elite dan partai politik telah tersesat dan terjebak dalam situasi pragmatisme menjadi yang melanggar dasar negara Pancasila. Fungsi-fungsi sebagai wakil rakyat telah disalahgunakan, sehingga terjadi penyelewengan yang kita lihat saat ini, baik itu penyalahgunaan anggaran, gratifikasi, proyek yang telah diijonkan, korupsi dan lainsebagainya. 

Di sisi lainnya, penegakan hukum saat ini dinilai oleh masyarakat kurang objektif atau kurang adil penanganannya. Kemudian sering tidak jelas dan tidak tuntas sehingga masyarakat menjadi kurang percaya terhadap penegakan hukum di Indonesia. Implikasinya masyarakat berani melakukan perlawanan, tindak kekerasan terhadap aparat, dan tindakan kekerasan lainnya guna melampiaskan amarah masyarakat akan ketidakadilan.

Dengan adanya dampak dan perubahan pada tatanan pemerintahan  tersebut, menimbulkan bergesernya  pola aksi, pola pikir, dan perubahan tingkah laku dalam masyarakat. Sebagai dampak dari semua ini, muncul berbagai perubahan dalam tatanan kehidupan di masyarakat, aparat, birokrat, politisi, penegak hukum dll. Di lingkungan masyarakat,  fenomena yang terlihat adalah terjadinya degradasi rasa kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian. Sedangkan dilingkungan birokrat, menurunnya dedikasi, loyalitas, kerjasama, integritas, patriotisme, dan nasionalisme. Kemudian menurunnya kinerja di kalangan politisi, seperti perannnya, etika, moral, dan fungsinya.

Melihat perubahan situasi Indonesia sekarang ini, dibutuhkan sebuah gerakan yang fundamental dalam segala aspek kehidupan, yaitu berupa gerakan mendasar yang memiliki efek besar yang meliputi karakter dan kebudayaan secara substansial. Krisis yang melanda negara ini sangat kompleks dan masuk ke dalam setiap sendi-sendi kehidupan, sehingga dibutuhkan pemimpin berjiwa patriotik yang dapat menggerakkan perubahan karakter bangsa yang bernafaskan Pancasila. Hal yang perlu dilakukan adalah perbaikan kepribadian kebangsaan yang berpegang pada idealisme kebangsaan dan menghindari perilaku munafik dan dangkal. Karakter yang harus dibangun adalah karakter berdasar pada falsafah dan pandangan bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Sebagaimana sifat jiwa yang dimilki bangsa yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain di dunia adalah karakter yang merupakan sebagai sebagai modal utama, di mana sebuah bangsa bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pendidikan sebagai garda terdepan pembangunan karakter bangsa merupakan langkah paling sistematis dan berjangka panjang untuk menjadi media utama dalam membangun karakter bangsa, yang dilakukan secara bersamaan. Kemudian, pendidikan juga merupakan harapan terbesar untuk membangun karakter bangsa.

Oleh karenanya, Pancasila sebagai kepribadian bangsa harus ditanamkan dalam setiap insan manusia di Indonesia, serta menjadikannya benih-benih yang menguatkan rasa kebangsaan dan kebanggaan sebagai anak bangsa yang bermartabat, berdaulat,dan berkepribadian mulia. Benih-benih falsafah Pancasila ditanam dalam segenap sistem perilaku sosial masyarakat, baik secara formal maupun informal. Kemudian, pendidikan agama, akhlak atau budi pekerti, dan pendidikan kewarganegaraan dirancang secara lebih sistematis dan komprehensif. Pancasila harus masuk dalam setiap sendi-sendi kehidupan di masyarakat mulai dari keluarga, masyarakat luas, sampai ke tingkat negara sehingga menjadikan Pancasila sebagai kepribadian asli bangsa Indonesia.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x