Mohon tunggu...
Abdurrahman Al Farid
Abdurrahman Al Farid Mohon Tunggu... -

Study in Turkey, Pecinta Bulu Tangkis Indonesia, Photografer, Traveller, Penulis lepas. http://catatanalfarid.blogspot.com./

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Tegaklah dan Terus Berkata “Umurku Masih Ratusan Tahun Lagi”

27 Maret 2016   01:51 Diperbarui: 28 Maret 2016   11:14 37
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilustrasi: Kompas - Mawar Kusuma Wulan"][/caption]Salju hari itu masih berjatuhan tak tentu arah, sorot lampu jalanan tentunya membuat salju itu terlihat begitu banyak menghambur ke tanah.  Jalan itu mulai lenggang, yang ada hanya segelintir pemuda yang berjalan agak cepat, mungkin mereka kedinginan. Musim dingin yang bersalju seperti ini selalu bersuhu -3 sampai 1 derajat. Apalagi malam hari seperti ini, untuk keluar rumah saja minimal harus memakai dua lapis celana, berlapis baju tentunya dengan jaket tebal dan seperangkat alat musim dingin seperti sarung tangan, syal, penutup telinga dan topi musim dingin. Ah, benar saja, ternyata gerombolan anak muda tadi banyak yang tak pakai sarung tangan dan topi musim dingin. Makanya mereka berjalan agak sedikit berlari. Sedang aku, masih duduk mengamati jendela yang mulai berembun. Ingin sekali keluar berlarian untuk bermain salju. Namun rasa malas selalu saja menghadangku untuk tidak keluar.

Hari ini istanbul turun salju, setelah dinanti-nanti beberapa waktu akhirnya benar turun salju di istanbul. Perkiraan cuaca sebenarnya mengatakan besok pagi, tapi ternyata malam ini salju sudah berhamburan jatuh ke tanah. Ini sudah tahun ketigaku di Turki, khususnya di Istanbul. Namun, melihat salju rasanya seperti baru melihatnya seumpama dulu awal datang kesini. Rasanya tetap saja seperti baru melihat yang pertama, tak pernah berubah. Mungkin karena di desaku tak mungkin ada salju. Jika ada salju, bagaimana ayam peliharaan bapakku? Bisa mati kedinginan, atau dengan sawah hijau di seberang desaku, mungkin tak pernah tumbuh lagi padinya. Makanya, Allah serba adil. Allah hanya menurunkan hujan di desaku untuk kesuburan sawah, hewan ternak dan terutama untuk penduduk desaku sendiri, tak pernah akan menurunkan salju seperti di istanbul ini.

“Rasyid, ne yapiyorsun? Ders calisiyor musun ? Yarin sinavimiz var ki, niye bos bos oturuyorsun?” Kata-kata dari salah seorang kawan turki itu mengagetkanku. “Kar Yagiyormus, ne guzel bir kar ! Cok sevdim ben.” Jawabku sekenanya. “Hadi beraber ders calisalim !” tambahnya. “Tamam kardes”. Jawabku mengiyakan ajakan dia untuk belajar bersama. Temanku ini namanya Hakan, dia berasal dari kota timur Turki, Agri. Sebenarnya dia bukan orang turki tapi kurdi, begitu pengakuannya. Tapi aku menganggap mereka sama. Mereka keturunan kerajaan usmani yang memegang dunia hampir 600 abad lamanya. Aku dan Hakan adalah teman baik. Kami sama satu jurusan yaitu Hubungan Internasional (HI) di Istanbul University. Dia termasuk salah satu anak yang paling rajin di kelas. Dan terkadang akulah yang banyak meminta catatan dari dia, karena kesulitanku dalam bahasa turki masih menjadi hambatan sampai sekarang. Aku memang sekarang sudah tahun ketiga, namun aku masih di kelas pertama. Tahun pertama adalah Persiapan bahasa turki selama setahun. Tahun kedua adalah persiapan bahasa inggris, karena ketika diadakan tes penyetaraan, aku masih berada di indonesia yang waktu itu sedang liburan musim panas. Dan buruknya lagi, aku juga tak punya skor toefl seperti yang lain. Makanya aku diwajibkan untuk ikut persiapan bahasa inggris selama setahun. Namun, semuanya berjalan begitu cepat. Dan di waktu itulah aku berkenalan dengan hakan. Kita selalu sebangku. Dan Hakan selalu menanyakan kesulitan bahasa inggrisnya kepadaku. Karena memang begitulah orang turki, mereka sulit sekali belajar bahasa asing. Namun, berbeda dengan Hakan. Dia sangat rajin mempraktekkan bahasa inggrisnya bersamaku. Makanya banyak sekali perubahan bahasa inggrisnya dari awal belajar dulu sampai sekarang.

*****

Burung –burung dara berterbangan menjurus ke jagung yang disebar anak lelaki diseberang itu. Air mancur menari indah di kolam air taman ini. Ini adalah taman ‘Guven Park’ atau dalam bahasa indonesia ‘taman kepercayaan’. Taman ini berada tepat di tengah kota Ankara, dan merupakan kawasan paling ramai di Ankara, yaitu Kizilay. Taman ini dibangun oleh salah seorang arsitek terkenal dari Austria bernama C. Holzmeister. Rencana pembangunan tersebut memang tepat ditengah Kizilay meydani ini. 

Dan di taman ini ada 3 simbol monumen, yaitu monumen kepercayaan terhadap kepolisian bangsa Turki, kemudian monumen perang Kurtulus bersamaan dengan gerakan revolusi turki dan perwakilan orang cerdas, yang terakhir adalah monumen petani yang bekerja di ladang. Monumen ini selesai dibangun tahun 1935. Panjang dari monumen ini adalah 37 m, lebar 8 m dan tingginya 2 m. Dan di depan, tepatnya di depan patung yang menghadap ke kolam air mancur ini terdapat tulisan dari Ataturk “Türk, Öğün, Çalış, Güven” yang artinya “Bangsa Turki, Makanan (pangan), Kerja, Kepercayaan”.

Sementara aku masih duduk di atas batu marmer di sekitar tamam ini menunggu kawan lamaku yang belajar di Ankara. Kami berencana ketemuan disini pukul 10.00 namun sudah jam 10.15 ia tak kunjung datang. Tempat ini memang sering digunakan untuk tempat ketemuan anak indonesia di Ankara. Selama di Turki inilah kunjungan ketigaku di Ankara, dan sebelum-sebelumnya pun kami merencanakan ketemuan di tempat ini. Hanya saja 2 kunjungan sebelumnya tidak untuk liburan, tapi untuk menghadiri Acara di Wisma Duta Indonesia dan seminar yang diadakan oleh lembaga Turki, SETA.  

Ankara begitu menggigil pagi ini, kota tumbuh kembang sekuler di Turki ini begitu dingin ketika musim dingin seperti ini. Tak heran jika semua orang memakai pakaian serba tebal dan berlapis, termasuk aku sendiri. Dinginnya Ankara melebihi Istanbul, dingin disini menggigil. Walaupun setauku sampai saat ini belum turun salju disini. Di karenakan daerah Ankara yang lebih tinggi, menyebabkan Ankara lebih dingin.  

Ini adalah liburan musim dinginku di Ankara yang pertama, sebab sebelumnya aku lebih memilih kota Bursa ataupun Kayseri untuk bermain sky di gunung uludag ataupun Erciyes. Namun kali ini ingin merasakan hal lain di Ankara. Bersama seorang teman, namanya Hamid. Dia seangkatan denganku. Dia ambil jurusan ilahiyat di Ankara University. 

Dia bilang jurusan ilahiyat di Ankara adalah jurusan ilahiyat yang dibuka pertama kali di turki. Tapi aku selalu menyanggah, kalau di istanbul tentu lebih bagus. Selain belajar di kampus bisa juga belajar sejarahnya langsung. Walaupun begitu, ia hanya tersenyum “Udah, ini kan yang di takdirkan Allah. Dan Alhamdulillah sudah diberi kesempatan belajar diluar negeri.”  Aku hanya menjawab “Alhamdulillah ya mid, Allah memberikan kita yang terbaik”. 

Jam tanganku menunjukkan pukul 10.30, tanpa pikir panjang aku langsung menguhubungi nomernya Ketika panggilanku masuk, ada seorang yang menepuk pundakku dari belakang. Sontak aku terkaget. “Udah lama syid ? Maaf Yo, tadi rencananya naik bis, tapi bisnya lama gak dateng. Akhirnya aku jalan menuju stasiun metro terdekat. Trus naik metro”. Sahut Hamid sembari bersalaman dan melakukan ritual seperti orang Turki ketika bertemu teman. Saling me.. kepala ke kanan dan kiri. “Udah hampir setengah jam ki mid, aku nunggu sampe kademen nang kene”. Kalau bertemu Hamid, pasti yang keluar adalah bahasa Jawaku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun