Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Hantaran Lebaran dari Tetangga

15 Oktober 2022   09:13 Diperbarui: 15 Oktober 2022   09:20 413
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Panggung tirakatan 17 Agustus 2020 (Dokpri) 

Kami tinggal di RT 006 di sebuah dusun di Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, bagian selatan Kota Depok. Sudah 15 tahun. Satu RT dengan 120 Kepala Keluarga (KK), dari berbagai profesi dengan watak sendiri-sendiri. Tetapi yang bertetangga dengan kami  ada 7 KK dari etnis Jawa dan Sunda. Selain keluarga kami dan Budhe Retno yang beragama Katolik, semuanya beragama Islam. Soal etnisitas dan keyakinan agama sengaja saya munculkan, sebab ada pengalaman yang indah soal ini.

Ketika Ahmad Djamil, ketua RT yang lama meninggal dunia karena Covid-19, sekretarisnya,  Pak Supartin,  yang didapuk warga menjadi Ketua RT. Pak Partin berasal dari perbatasan Semin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Merantau sejak kecil ke Jakarta. Sekretarisnya adalah Pak Syaiful, orang Betawi. Rumahnya berjarak 50 meter dari kami, di samping Warung Hijau, salah satu warung penjual sayuran di gang kami.

Rumah tempat kami tinggal diapit oleh rumah mereka, disela rumah kakek-neneknya Aria. Kakeknya Aria, Pak Dodi,  dua tahun lalu terkena serangan stroke. Retno, istri saya dan Mas Kosim penjual krupuk yang terburu-buru mencarikan angkutan untuk melarikan beliau ke rumah sakit. Karena Retno punya pengalaman mengurus administrasi RS, ia pula yang mendampingi keluarga sampai mendapatkan ruangan, mengurus BPJS. Namun Allah berkehendak lain. Dua hari setelah dirawat, beliau meninggal dunia.

Tak jauh dari rumah kami ada Mas Iqbal. Penjual donat yang enak dan ahli elektronik. Kalau ada kipas angin, AC atau instalasi listrik yang rusak, Mas Iqbal orang pertama yang dihubungi. Juga kalau HP dan tablet dan televisi tiba-tiba ngadat, kepada dia kami minta bantuan. Dia enggan dibayar mahal. Hanya antara 15-25 ribu rupiah. Kalau ada sparepart yang perlu diganti, dia akan melaporkan beserta harga dan tempat kami bisa beli.  Ia orang jujur. Barangkali karena itu, warga dari RT sebelah sering memakai jasanya.

Putra kami yang kecil Lintang, berteman dengan Agil putranya Pak Partin dan Fais putranya Pak Syaiful. Tiga remaja ini kerap bermain playstation di rumah Pak Partin.

Yang menyatukan kami semua adalah ronda malam bersama. Sekarang setiap malam minggu, setelah semua masuk kerja secara normal. Ketika Covid-19 belum reda, dan semua bekerja dari rumah, kami ronda hampir setiap malam.

Kami juga disatukan oleh acara ngliwet bersama. Biasanya Pak Partin akan berkeliling: "Bagaimana, kalau nanti malam kita ngliwet?"

Lalu undangan disebar melalui grup WA RT. Siapa yang mau ikut silahkan. Sumbangan diberikan secara sukarela, untuk membeli beras dan lauk-pauk.

Tumpeng 17 Agustus (Dokpri)
Tumpeng 17 Agustus (Dokpri)

Agustus 2020 kami akan melaksanakan tirakatan dalam rangka 17 Agustus. Seluruh gang di RT kami dibersihkan dan dipasangi umbul-umbul. Panggung dibikin. Berupa  papan-papan yang disusun di atas tumpukan bata setinggi 10 cm. Pelantang suara disiapkan. Listrik gratis dari PLNyang biasa dipakai untuk penerangan gang dipakai. Ustad diminta hadir memberi siraman rohani. 

Acara akan dimulai pukul 19.30. Tapi apa hendak dikata, tiga puluh menit sebelum acara dimulai Depok diguyur hujan deras. Peralatan diamankan. Karpet-karpet digulung.  Panggung basah kuyup dan tak bisa dipakai. Acara dipindahkan ke rumah Bu Titin di samping pos ronda. Ruang tamunya cukup menampung 20 orang. Sebagian berteduh di pos ronda. Bu Titin-lah, yang selalu menyiapkan minuman hangat kalau kami ronda bersama.

Semua sibuk memasang umbul-umbul (dokpri) 
Semua sibuk memasang umbul-umbul (dokpri) 

Ketika kami merayakan Natal, 25 Desember, pagi-pagi sekali yang datang memberi selamat ke rumah adalah Pak Sugiarto, suami Budhe Retno. Ia menjelang 80 tahun. Namun masih kuat. Pernah bertugas lama di Timor-Timur sebagai Polantas. Ia pensiun dengan pangkat kolonel ketika itu. Kemudian menyusul Neneknya Aria dan putra-putrinya, kemudian Mas Igbal, Pak Partin, Pak Syaiful, Pak Warsito tukang dan tetangga yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun