Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Ganjar Pranowo, Antara Surya Paloh (Nasdem) dan Megawati (PDIP)

3 Juli 2022   15:26 Diperbarui: 4 Juli 2022   05:50 1709
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
DOK. Humas Pemprov Jateng

Megawati adalah matahari tunggal di PDIP. Semua yang berkaitan dengan keputusan nama bakal calon presiden (bacapres) mutlak berada di tangannya. Semua tegak lurus. Tidak boleh ada yang melawan. Harus loyal. Tidak ada dua kaki atau tiga gaki. Satu kaki saja. Nanti bisa dibantu tongkat, jika diperlukan.

Surya Paloh juga matahari tunggal di partai Nasdem. Tidak ada yang berani melawan Surya Paloh. Sistem nihil mahar dan semua dibiayai partai untuk para calegnya. Tidak ada mahar dan  setoran membuat wibawa Surya Paloh menjadi kuat. Keputusan nama bakal calon presiden Nasdem berada di tangan Surya Paloh juga.

Jika di PDIP, semua keputusan tentang bakal calon presiden berada di tangan Megawati, Partai Nasdem juga demikian halnya. Semua berada di tangan Surya Paloh. Hanya ada perbedaan untuk pengadaan nama. Jika di PDIP tidak perlu ada rakernas yang mengakomodir nama bakal calon presiden, di Partai Nasdem rakernas digelar dan setiap DPW boleh mengusulkan nama bakal calon presiden kepada ketum Surya Paloh.

Itulah yang terjadi dalam Rakernas Partai Nasdem 15-17 Juni 2022 yang menghasilkan tiga nama bacapres yang diusulkan kepada Surya Paloh. Ada Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Andika Perkasa. Rakernas PDIP seminggu kemudian, tidak ada memberi nama Bacapres. Semua nanti tergantung Megawati.

Jika Megawati menjadi matahari tunggal di PDIP.  Surya Paloh menjadi matahari tunggal juga di Partai Nasdem. Ketika Partai Nasdem menyebut nama Ganjar Pranowo sebagai bacapres Partai Nasdem, reaksi muncul dari PDIP. Ganjar Pranowo adalah kader PDIP. PDIP menganggap Partai Nasdem membajak kadernya.

Kenapa Partai Nasdem tidak mencalonkan kadernya sendiri? Kenapa membajak kader kami? Demikian gugatan PDIP terhadap Partai Nasdem. Salahkah Partai Nasdem menyebut nama Ganjar Pranowo sebagai salah satu Bacapres yang akan digodok Surya Paloh menjadi bacapres dari partai Nasdem? Apakah perlu ada sowan atau koordinasi dengan PDIP sebagai pemiliki kader tersebut?

Partai Nasdem merasa tidak bersalah menyebut nama Ganjar sebagai salah satu dari tiga nama bacapres hasil Rakernasnya. Ada tiga nama, Ganjar hanyalah salah satu. Belum tentu juga Ganjar yang akan disusulkan menjadi Capres Partai Nasdem.

Namun, penyebutan nama Ganjar dalam daftar nama bacapres hasil Rakernas Partai Nasdem ternyata membawa dampak politik terhadap hubungan Partai Nasdem-PDIP dan Megawati-Surya Paloh.

Dua partai sesama pendukung pemerintahan Jokowi seakan resah dan retak. Perang pernyataan tak terhindarkan. Hasto, Sekjen PDIP mengatakan ada kesulitan koalisi dengan Partai Demokrat, PKS dan Partai Nasdem.

Penyebutan nama Ganjar sebagai bacapres Partai Nasdem sebagai hasil Rakernas 15-17 Juni 2022 membawa dampak politik yang negatif. PDIP seakan tak bisa menerima dengan baik. Bahkan, silahkan usulkan kader sendiri dan jangan membajak kader partai lain.

Elit Partai Nasdem memberikan tanggapan, bahwa wajarlah Partai Nasdem mengusulkan nama bacapres dari kader partai lain. Belum kader sendiri.

Partai Nasdem tahu diri sebagai partai yang baru belum bisa mencalonkan kadernya sendiri menjadi bacapres. Kelak, mungkin Partai Nasdem akan mencalonkan kadernya sendiri dalam Pilpres.

Ketegangan Partai Nadem dan PDIP cukup terasa. Dua matahari yaitu Megawati dari PDIP dan Surya Paloh dari Partai Nasdem seakan bersaing menyinari bumi politik Indonesia. Surya Paloh menjalankan komunikasi politik yang proaktif.  PDIP menjalankan komunikasi politik menunggu.

Pasca Rakernas PDIP, Megawati menugaskan Puan Maharani sebagai ketua DPR (bukan Ketua DPP PDIP) untuk melakukan komunikasi dan penjajakan koalisi dengan partai politik lain.

PDIP boleh menjalankan komunikasi politik menunggu partai politik datang. Mereka tidak perlu sibuk, karena mereka memiliki syarat ambang batas pencalonan presiden. Partai Nasdem harus bekerja sama dengan dua partai politik untuk bisa memenuhi syarat ambang batas. Dan sampai kini belum jelas koalisi yang akan dibentuk. Masih penjajakan.

Apakah mungkin Partai Nasdem dengan PDIP bisa berkoalisi dalam Pilpres 2024? Hasto mengatakan sulit, namun bukan tidak mungkin.

Jika PDIP nanti dikeroyok oleh Gerindra, PKB, PKS  dan KIB, apakah PDIP tidak mau bergabung dengan Partai Nasdem? Belum tentu juga. Semuanya masih mungkin.

Dunia politik sebenarnya tabu atau kurang mengenal kata tidak mungkin. Sebab perkembangan dan dinamika politik yang selalu mengedepankan kepentingan, bukan teman membuka peluang kemungkinan koalisi yang terjadi. Kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan tergantung kepentingan politiknya. Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi.

Dalam waktu yang tersisa sebelum penentuan nama bacapres Oktober 2023, partai Nasdem dan PDIP bisa melakukan cooling down atau pendinginan ketegangan politik antara PDIP dengan Partai Nasdem. Mana tahu tahun 2023 Ganjar tidak dicalonkan partai lain. Ternyata Puan tak layak-laku dijual, lalu PDIP akan beralih ke Ganjar, Partai Nasdem mungkin bisa menjadi partner koalisi. Tak ada yang bisa menebaknya bukan?

Kita tunggu saja tanggal mainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun