Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sang Pencetak Utang

9 Juli 2020   06:51 Diperbarui: 9 Juli 2020   06:54 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Semangat Pagi Indonesia.

Sang Pencetak Utang.

Sang Kakek baru tiba di rumah anaknya kembali setelah lama tinggal di kampungnya. Sang cucu yang beranjak remaja menyambutnya dengan pelukan hangat di depan pintu bandara.

"Selamat datang kek," kata Sang Cucu sambil memeluk kakeknya.

"Terima kasih cucuku," kata Sang Kakek sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu.

"Banyak pertanyaan yang tak terjawab, kakek terlalu lama tidak ada. Jawaban pun tak ada," kata Sang Cucu sambil memeluk kakeknya.

"Begitulah kehidupan. Terkadang seperti garam. Kalau garam ada dalam masakan dan takarannya pas, orang kurang menghargainya. Tapi kalau garam tidak ada dan makanan terasa hambar, orang baru mencari dan menghargai garam," kata Sang Kakek.

"Ya juga ya," kata Sang Cucu.

"Makanya setiap insan manusia harus saling menghargai. Hargailah orang selagi ada, jangan mencari dan menghargai setelah tiada," kata Sang Kakek.

"Betul kek. Setujuuu...!" pekik Sang Cucu.

"Apa yang kamu tanyakan?" kata Sang Kakek.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun