Mohon tunggu...
Mustafa Kamal
Mustafa Kamal Mohon Tunggu... Seorang akademisi di bidang kimia dan pertanian, penyuka dunia sastra dan seni serta pemerhati masalah sosial

Abdinegara/Apa adanya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pahlawan Di Subuh Pagi

10 November 2015   20:58 Diperbarui: 10 November 2015   20:58 181 5 4 Mohon Tunggu...

Sehabis subuh saya kerap membawa anak jalan pagi keliling jalan komplek hingga ke jalan besar dan muter lagi ke komplek. Banyak warga yang seperti saya, dari tua hingga anak-anak. Kebanyakan sih yang sudah tua-tua. Rutinitas pagi seperti ini sering dijumpai di kota mana saja. Orang-orang yang olahraga pagi, para pedagang yang berangkat ke pasar, dan tukang ojek yang lalu lalang mengantar ibu-ibu pergi belanja dan sebagainya menghidupkan suasana kota dipagi itu. 

Ada aktivitas pagi itu yang kadang luput dalam renungan kita dan berlalu begitu saja. Bahkan ada yang sengaja menghindar dari orang-orang yang sedang melakukan aktivitas tersebut karena baunya. Ya, mereka adalah "pasukan kuning" Dinas kebersihan dan Pertamanan Kota.

Mereka ini layak disebut sebagai pahlawan masa kini. Subuh-subuh mereka dengan becaknya, dengan truk sampahnya, dengan gerobaknya, dengan sapunya, memecah dinginnya malam menjelang subuh berputar-putar keliling kota masuk keluar komplek mengangkut sampah-sampah warga yang sarat bibit penyakit dan baunya yang nyelekit. Mereka berupaya memastikan sebelum aktivitas pagi warga berangkat kerja, ke sekolah, dan sebagainya kota sudah bersih dan nyaman.

Padahal hampir sebagian dari besar dari mereka bukanlah pegawai negeri, mereka rata-rata adalah honor dengan gaji yang kadang jauh dibawah UMR. Tapi, mereka komit dengan pekerjaan mereka, mereka loyal dan bertanggungjawab. Tidak banyak orang yang mau bekerja seperti mereka. Saya pernah menawarkan pekerjaan itu ke salah seorang anak tetangga yang putus sekolah dan pengangguran karena saya diberitahu teman di dinas tersebut bahwa ada lowongan untuk honor di dinas tersebut tapi dibagian kebersihan mengangkut sampah. Anak dan ortu anak tersebut menolak!

Saya menjadi malu sendiri. Saya mengira karena kehidupan mereka yang (maaf) menurut saya serba kekurangan karena rumah nyewa, suami kerja buruh tukang ikut-ikut orang, punya tanggungan anak tujuh orang dan masih kecil-kecil dan ibu yang tidak bekerja, ortu dan anak yang saya tawarkan itu akan senang hati mendapat pekerjaan yang saya tawarkan itu, tapi nyatanya mereka menolak bahkan kata-kata penolakan mereka ( tidak layak ditulis disini) membuat saya berfikirr ulang untuk menawarkan pekerjaan seperti itu ke orang lainnya.

Inilah mengapa saya menyebut mereka yang menjadi "pasukan kuning" itu layak disebut pahlawan. Karena banyak yang mencibir pekerjaan mereka, bahkan mereka yang menganggur dan kesulitan ekonomi sekalipun meremehkan pekerjaan mereka. Walo begitu mereka tidak terpengaruh dan tetap bertanggungjawab dengan pekerjaan itu. Apa yang mereka kerjakan sangatlah mulia dan terasa sekali manfaatnya bagi warga.

Kadang saya risih dengan tetangga yang sekali saja pasukan kuning itu terlambat mengangkat sampah didepan rumah mereka karena cuaca hujan atau mendung, tetangga itu mengomel-ngomel. Menghujat pasukan kuning tersebut! Semoga pembaca artikel ini tidak seperti tetangga saya itu, jika kita tidak bisa mengucapkan terimakasih kepada mereka yang  rutin membawa sampah-sampah kita yang kita sendiri jijik dan membuangnya, setidaknya janganlah menghujat mereka! Sebab kita tidak tahu mungkin saja mereka sakit karena sering terpapar penyakit yang ada disampah-sampah itu. Alangkah berdosa kita, kalu benar begitu adanya.

Marilah kita doakan mereka selalu sehat! Bantu mereka dengan menyediakan tong sampah yang layak dan tertutu didepan rumah-rumah kita, bantu mereka dengan mengantongi sampah-sampah kita dengan baik agar mereka gampang mengangkutnya, bantu mereka dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan sebagainya...sebab mereka adalah pahlawan kita!

Terimak kasih pasukan kuningku!

selamat hari pahlawan!

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x